Rabu, 22 April 2020

06 Rumah Impian



RUMAH IMPIAN 



            pagi yang cerah selalu aku sambut dengan secangkir teh dan satu  piring kue, setiap hari aku menajalankan rutinitas seperti biasanya tidak ada kendala yang membuatku tidak melakukan kebiasaan tersebut. Namun hari ini aku merasa berbeda karna pagi kemarin aku bertemu dengan seorang teman lama yang aku sendiri tidak tau namanya siapa, karna sejak kecil kebiasaan berdiam diri dirumah itu mempengaruhi pergaulanku, jadi walaupun satu sekolah atau satu kampung kadang tahu muka tapi tidak tahu namanya siapa, mungkin karna kurang pergaulan jadi tidak hafal semuanya. Saat melihatnya akupun hanya tersenyum tanpa menyapa sedikitpun dan diapun hanya menbalas senyumanku.
Seiring berjalannya waktu aku merasa penasaran oleh sosok laki-laki yang tak asing itu dan aku menjadi bertanya-tanya siapa dia? Siapa namanya? Siapa orang itu? Aku seperti mengenalnya tapi aku tidak bingung sendiri aku bertanya keteman-temanku smeuanya tapi tidak membuahkan hasil karena aku tidak bisa menjelaskan dia seperti apa karena kita betemu hanya satu kali dan itu hanya sekejap sajah. Setelah kejadian itu aku selalu merenung dan melamun bertanya-tanya siapa dia, dan seiring berjalannya waktu akupun lupa kejadian itu karena aku malanjutkan sekolahku di perantauan. Aku melanjutkan peranku sebagai mahasiswa sekaligus karyawan swasta, karena libur disaat hari raya tak pernah lama hanya beberapa hari sajah dan akupun dituntut untuk kembali dan menjalankan rutinitasku.

            Tiga bulanpun berlalu, aku sudah lama tidak pernah membuka akun facebookku dan saat aku membuka akunku ada sebuah pesan masuk, karna aku sedang merasa bisan aku membuka pesan itu dan terus membalas setiap pesan yang dia kirim, dan perasaan aneh itu muncul terbesit ada rasa nyaman, dari awal percakapanpun aku merasa nyaman, samapai beberapa hari aku masih sering bertukar kabar dengannya, aku belum tau nama dia siapa aku hanya merasa nyaman dengan dia. Karena nama facebook dia sangat berbeda dan tidak ada foto dia di akun nya hanya terdapat beberapa foto animsi islami, dan pada akhirnya aku bertanya kepada teman-temanku siapa yang punya nama facebook atas nama “dukun cinta” dan akhirnya aku tahu nama dia, dia bernama Abdullah dan saat aku bertanya kepadanya apa alasan dia memakai nama dukun cinta itu karena dia selalu berhasil mendapatkan semua cinta wanita, dan yang aku dengar dari semua teman-temanku dia sangat baik hati dan sopan terhadap siapapun jadi dia sanagt mudah memikat hati wanita mana sajah. Dari sana aku mulai memanggil nama panggilan dia yaitu Abdullah, awalnya kita hanya berbincang melalui facebook tapi lama kelamaan Abdullah mulai merasa tidak nyaman berbincang melalui facebook dan akhirnya Abdullah meminta nomor telponku, tanpa berpikir panjang aku memberikan no telponku kepadanya dan akhirnya kamipun berbincang memalui telpon. Hampir setiap waktu aku berkomunikasi dengannya dan tanpa sadar aku mulai tumbuh rasa cinta, rasa cinta yang mungkin tidak seharusnya ada, cinta seorang wanita dan laki-laki yang bukan mahramnya.

            Dan pada akhirnya Abdullah mengutarakan maksud dan tujuannya kepadaku, dia ingin memperkenalkan aku kepada keluarganya dan ingin menikahiku sesegera mungkin.tetapi pada saat itu aku tidak bisa menjawab apa-apa karna rasanya itu terlalu cepat untuk dibicarakan karna aku masih berumur 20 tahun dan aku sedang melanjutkan sekolahku, aku harus membagi waktu kerja dan kuliahku agar mereka saling beriringan, dan aku masih belajar beradaptasi dengan lingkunganku, dan akhirnya aku meminta waktu 3 hari untuk menjawab pertanyaan darinya iya ataukah tidak karena keputusan menikah harus dipikirkan matang-matang, karena menikah adalah ibadah paling lama dan paling mulia, bukan masalah sekedar berkeinginan dan mapan sajah tapi harus ada kesiapan diri dan mentalpun harus dipersiapkan karna perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Mungkin Abdullah merasa takut degan jawabanku nanti, karena selama tiga hari itu dia tidak ada kabar, dan pada hari ke empat aku memberikan jawaban, dan jawabanku adalah tidak, karna aku belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga, tapi jawaban dari Abdullah membuat aku sedikit berpikir, dia berkata “ tapi saya ingin beribadah, saya tidak ingin berlama-lama mencintai wanita yang bukan mahram saya, apa kamu ingin saya terus menerus menanggung dosa karena perasaan saya? Saya ingin menikahi kamu karna saya ingin menyempurnakan agama saya, bolehkan saya bertemu orangtuamu?”. 

            Setelah kejadian itu aku meminta dia untuk memberiku waktu 3 bulan untuk mempertimbangkan.selama tiga bulan juga aku mulai berkomunikasi dengan orangtuaku meminta saran yang baik menurut mereka, meninta saran dari teman terdekatku, dan selama tiga bulan pula kamitidak bertukar kabar, aku memantapkan diri agar menjadi pantas untusnya jikalau memang takdirku harus menikah lebih awal dari perkiraanku, dan terkadag aku menanyakan kabar Abdullah kepada rekan kerjanya, dan kebetulan sekali mereka sanagt dekat dia ellau bilang Abdullah sepert mempunya suatu hajat yang begitu besar karena temannya itu selalu melihat Abdullah sedang berdoa dengan sangat khusyu. Dan pada akhirnya aku meminta pendapat dari seorang pembimbingku atau bisa disebut guruku yang mengajariku ilmu agama, dan beliaupun memberikan jawaban “ menikahlah! Kamu mampu, dia mampu jangan sampaikalian malah terjerumus kedalam lembah hitam yang sangat Allah murkai, kamu mengkhawatirkan masalah keuangan karna kamu sednag menuntut ilmu? Ketahuilah menikah itu membuka pintu rezeki, semua orang mempunyai rezekinya masing-masing dan tergantung bagaimana usaha mereka, rezeki itu bukan hanya uang waktu juga adalah rezeki, kamu memikirkan bagaiman acaranya kamu mebagi waktu dengan pekerjaamu kuliahmu atau dengan teman-temanmu kamu bisa memenej semuanya setelah kamu mencobanya, jangan takut nak, setelah menikah kamu akan merasakan nikmatnya ibadah bersama,melakukan semua hal berdua, menikahlah!”. 

            Selepas meminta saran dan jawaban dari guruku, malamnya kembali aku melaksanakn sholat istikharah untuk kesekian kalinya, karna kau sangat takut untuk mengambil keputusanmenikah diusiaku yang masih belia. Selesai sholat aku pun pergi tidur dan saat besoknya selepas aku mengerjakan sholat subuh telponku berdering dan ternyata itu adalah telpon darei ibuku, seperti biasanya dia menanyakan kabarku, kuliahku, pekerjaanku, dan dia juga menyinggung tentang obrolanku dengannya waktu bulan lalu tentang mas Abdullah yang ingin berkunjung ke rumah.
Ibu      : “ ka, bukannya kamu mempunyai kenalan yang namanya Abdullah, bagaimana keadaanya?”.
Sontak aku sedikit merasa keheranan dan rasa bertanya-tanya kenapa ibu menanyakan hal itu, setelah sekian lama tak ada jawaban dari beliau, dan aku pun berpikir apa ini jawaban dari doaku? Atau hanya sekedar candaan ibuku sajah, dan akupun menjawabnya.
Aku     : “ Dia baik bu, Alhamdulillah”
Ibu       : “ Katanya dia mau ke rumah ka, kapan?”
Aku     : (sangat terkejut dengan pertanyaan barusan di berikan) “ Apa dia boleh ke rumah untuk melamarku bu?”
Ibu      : “ Tentu sajah, kamu kan sudah mau masuk semester 4 kuliah, dan ayahmu juga sudah memikirkannya, kalo kamu ingin menikah dan ada laki-laki sholeh yang datang ingin meminangmu, dan dia benar-benar serius ingin menikahimu  ayah dan ibu hanya bisa memberikan doa dan restu untuk kalian berdua, walaupun kami berdua sangat berat menerima keputusnmu dan dia, kamu adalah anak sulung kami, kamu harus menjadi contoh bagia adik-adikmu ka, walaupun ibu belum tau Abdullah mana yang kamu maksudkan tapi ibu kira ibu akan tau dia ketika dia datang ke rumah, jika dia terbaik untukmu maka ibu dan ayah akan menikahkanmu, dari pada kamu tidak bisa fokus kuliah dan bekerja hanya gara-gara masalah perasaan dan memikirkan pujaaan hati terus-terusan, (ibupun sambil tertawa kepadaku)”.
Aku     : “Iya ibu, akupun ingin segera memperkenalakn dia kepada ibu, dan akupun sudah memikirkanya bu, untuk masalah waktu nanti kita bicarakan setelah terlaksana. Ibu tau, rasanya diperantauan sendiri tanpa keluarga itu sangat sedih.”
Ibu      : “ Ya sudah tanya Abdullah kapan dia akan kerumah.”
Aku     : “ iya ibu, nanti kaka tanya mas Abdullah kapan dia akan kerumah, terimakasih atas kepercayaan ibu kepada kami, dan telah memberikan izin kaka untuk di lamar, walaupun kaka belum tau nanti akan seperti apa.”
Ibu      : “ Iya ka, sehat terus ya ka, Assalamu’alaikum.”
Aku     : “ Waalaikumsalam.”

            Selesai berbincang dengan ibu, akupun memutuskan untuk meberikan jawaban kepada Abdullah, namun sangat disayangkan nomor telpon yang dia pakai sidah tidak bisa di hubungi dan aku facebook dia juga sudah sangat lama tidak pernah dibukanya, aku berusaha bertanya kepada teman kerjanya dan teman satu kampusnya, tapi sayang merekapun tidak tahu Abdullah dimana. Walaupun aku sedikit khawatir karena dia tidak berada di kampusnya ataupun di tempat kerjanya, karena aku akan melaksanakan ujian semesterku aku sedikit demi sedikit menghilangkan khawatir itu dan lambat laun aku melupakan hal tersebut. Aku kembali fokus pada tujuanku kuliah sembari bekerja tanpa berpikir masalah perasaan dan lainnya, semua berjalan dengan lancar tanpa kendala, niali ujianku hampir semuanya B+  ada juga yang mendapatkan nilai A, dan aku sangat bersyukur karna disetiap kejadian pasti akan ada hikmah tersendiri.

            Satu tahun sudah berlalu akupun sudah masuk pada semester 6 perkuliahan, aku menjalankan hariku seperti biasanya, kuliah, ikut kajian dan tidak lupa aku kuliah tetap sembari bekerja, walaupun sangat banyak tantangan, diantaranya penting mana kuliah dan bekerja sedangkan aku harus mempunya prioritas dan aku juga memiliki kewajiban untuk emmenuhi pekerjaanku, kadang dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit tapi Allah selalu memberi kemudahan disetiap masalah yang ada, aku bisa terus melanjutkan studi dan terus bekerja sampai saat ini. Selesai kajian seperti biasa aku duduk di taman depan kampusku, tapi ada sesuatu yang membuat mataku terkejut, saat aku duduk di bangku taman ada sepasang mata yang terus memperhatikanku dan temanku nisa, rasanya wajahnya tak sing tapi rasanya tak elok jika seorang laki-laki memandang dengan cara seperti itu. Dia melihatku seolah tidak berkedip, dan aku merasa tidak nyaman dengan semuanya, aku bergegas meminta nisa untuk beranjak meninggalkan taman. Aku sedikit menoleh kepadanya, dan aku melihat dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak terucap, dan terlihat sangat sedih ketika melihat aku bergegas pergi.

            Sampai kamar kos ku, aku merenungkan kejadian tadi di kampus aku bertanya-tanya tentang dia yang tak asing, dan siapa dia dengan wajah seperti orang kecewa itu? Semuanya menimbulakan tanda tanya yang sangat besar,mungkin besok aku akan berjumpa lagi dengan dia. Seperti hari sabtu kemarin aku selalu berangkat diawal waktu karena tidak mau tertinggal bus pemberangkatan pertama, sampai di kampus sekitar pukul 07:00 pagi, seperti biasanya aku mampir ke warung langgananku untuk membeli sarapan setelah itu aku pergi ke musola untuk sholat dhuha dan seperti biasa aku berdua dengan nisa, sebenarnya namaku juga nisa tapi karena ada kesalahan di akta kelahiran jadi namaku nisya, dan teman kelaspun kadang memanggilku dengan panggilan nis sajah, dan kadang ada yang lengkap juga nisya. Setelah selesai aku dan nisa bergegas menuju kelas, karna aku tipe orang yang suka memilih tempat duduk agar aku merasa nyaman untuk belajar dan menerima pelajaran. Hari begitu panas sehingga AC ruangan kelasku tidak berasa, aku meminta nisa menemaniku ke kamar mandi karena aku sangat kepanasan, dan pada saat itu pula aku berjumpa lagi dengan dia, sosok laki-laki yang membuatkan pertanyaan dalam benaku. Saat aku keluar dari ruang kelasku laki-laki itu berada tepat dihadpanku dia sedang menuruni anak tangga, aku terkejut dan aku segera berbelok menuju kamar mandi, nisa yang melihat menjadi terheran-heran karena mungkin semua orang juga akan merasakan hal sama ketika berpapasan dengan seseorang yang lama tidak bertemu, pertemuan kedua itu seperti bencana dalam pikiranku, dia adalah laki-laki yang dengan rasa percaya dirinya meminta ingin bertemu orangtuaku dan ingin segera menikahiku tapi dia menghilang ntah kemana tanpa kabar sedikitpun. Dia seolah-olah mati ditelan bumi dan setelah 1 tahun berlalu dia datang lagi, saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat dia sepertinya sedang menungguku, dan percakapan canggungpun dimulai.

Abdullah         : “Assalamu’alaikum, Nisya”
Nisya               : “ Waalaikumsalam”
Nisa                 : “ Kalian berdua saling kenal ya? Pantas sajah saat pulang kejian minggu lalu aku melihat kamu, saat aku dan Nisya di taman depan kampus ada yang lagi merhatiin kita berdua terus Nisya minta buru-buru pergi, padahal biasanya kita lama di taman itu, dan aku juga sekilas melihatnya, jadi aku tak yakin.”
Abdulah        : “ Nisya, saya ingin berbicara sebentar sajah. ( sembari menundukan pandangannya)”
Nisya            : “ silahkan!”
Abdullah      : “ Saya ingin meminta maaf, karena saya tidak memberi kabar selama beberapa tahun kebelakang.”
Nisya            : “Saya tidak apa-apa mas, saya sudah melupakan semuanya terimakasih!”

Aku meninggalkan Abdullah sesegera mungkin karena aku tidak ingin melihat dia terlalu lama, dan membuat rasa sakit hati itu hadir lagi. Aku tahu nisa pasti akan berpikir kenapa dengan aku dan Abdullah, mungkin lain waktu akan aku ceritakan kenapa aku begitu ingin meninggalkan dia dengan sesegera mungkin. Sampainya di kelas nisa melihatku yang mungkin terlihat menyedihkan bagi dia, dan sepulang kuliah aku langsung bergegas pulang karena mengikuti kajian sepertinya tidak dapat membantuku menghilangkan rasa sakit hati ini, dan akupun tidak bisa menyembunyikan semuanya. Nisa pun tidak bertanya kenapa aku pulang lebih awal, mungkin dia tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. 

Tiga hari telah berlalu dan aku masih memikirkan kejadian itu, dan membuat aku kehilangan beberapa semangat belajarku, saat ada diskusi aku hanya berdiam karna rasanya aku sedang tidak ingin banyak berbicara dan hanya ingin terdiam, dan memang bisanya aku selalu menambahkan atau menyanggah beberapa pertanyaan yang jika menururku kurang tepat atau perlu aku tambahkan. Dan aku tahu teman-temanku sangat merasa tidak nyaman dengan aku yang seperti ini,  mungkin aku butuh waktu sendiri. Dan ada yang membuatku terkejut karna saat pulang kuliah aku melihat Abdullah, tapi dia tidak sendiri disampingnya ada seorang bapak dan ibu. Nisa pun menegurku “ Nis, itu orangtuanya Abdullah?” tapi aku tetap berdiam dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, dan suasana menjadi hening karna kami saling berpandang sajah. Dan tiba-tiba ibu itu memeluku dengan rasa senang dan amat bahagia, tapi aku masih merasa terkejut dengan semua kejadian yang sedang terjadi. Aku tersenyum saat ibu itu memeluku dan bertanya kepadanya.

Nisya               : “ maaf, ibu siapa ya?”
Ibu Abdullah   : “ Saya ibunya Abdullah, saya merasa senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Abdullah sellau menceritakan tentang kamu ke ibu setiap hari, dia seperti tidak melihat wanita lain karena setiap kali bercerita selalu tentang kamu. Makanya ibu sangat penasaran siapa kamu ini, sampai-samapi membuat anak ibu satu-satunya terpikat.(sembarui tersenyum)
Ayah Abdullah : “ Tak enak bertemu calon menantu disini bu, sebaiknya kita duduk di depan cafe sana biar ngobrolnya enak bu.”
Ibu Abdullah   : “ Iya pak.” 

Akhirnya kami berkumpul di cafe depan kampusku, aku masih bertanya-tanya kenapa Abdullah membawa ibu dan ayahnya betemu denganku, dan kenapa ayahnya bilang calon menantu? Bagaimana aku tidak merasa bingung, semuanya terjadi begitu cepat dan seperti mimpi. Kenpa aku bertemu dengan mereka secepat ini, apa ini jawaban dari setiap doaku, apa benar dia adalah jodohku? Semua pertanyaan mengalir begitu sajah samapai di akhir perbincangan. Selesai berbincang, keluarganya mengantarku pulang ke rumah kos-kosanku, ada perasan bahagaia dan ada perasaan malu, semuanya berasa tercampur menjadi satu. Aku segera menuju kamarku untuk membersihkan badanku agar pikiranku tidak tertinggal ditempat itu, tapi disaat aku dikamar mandi aku mendengar seperti ada telpon masuk, karena aku terlalu menikmati sejuknya air aku tidak menghiraukan panggilan tersebut, dan saat selesai mandi ada telpon dari nomor yang tidak dikenal dan karena aku melihat riwayat panggilan nomor itu yang menelpon, akupun mengangkat telpon karena aku rasa itu penting karena banayk sekali panggilan yang tak terjawab. Dan suara tak asing itu yang aku dengar (Abdullah).

Abdullah         : “ Assalamu’alaikum. Nis”
Nisya               : “ waalaikumsalam, kenapa ya mas?”
Abdullah         : “ Nis, dompetmu tadi tertinggal di mobilku. Apa aku harus mengantarnya? Takutnya ada barang penting di dalamnya, oh iya maaf juga sebelumnya aku buka dompet kamu nis, dan ternyata disana ada nomor telponmu jadi aku coba telpon.”
Terdegar suara ibu Abdullah berkata “ anatarlah masa nisya yang harus kesini”
Nisya               : “ Tidak apa-apa masih ada waktu besok, besok aku ada kajian di mesjid dekat kampus. Nanti kita bertemu selesai kajian.”
Abdullah         : “ baiklah, sampai bertemu besok nis, assalamu’alaikum.”
Nisya               : “ Iya, waalaikumsalam.”

Keesokan harinya selesai kajain ada pesan masuk dari Abdullah “ nis, aku tunggu kamu dicafe biasa kamu dan nisa ngobrol ya, ajak nisa saya juga bersama dengan guruku Ustadz Sholeh.” Aku yang sejak malam ingin berbicara dengannya panjang kali lebar kali tinggi, tapi pas samapainya disana aku tidak bisa berbicara banyak aku merasa gugup dan apa yang sudah aku persiapkan malah menghilang dari pikiranku. Di pertemuanku yang kali ini kami hanya berfokus pada isi kajian yang baru sajah disampaikan oleh Ustadz Sholeh di mesjid dekat kampusku, selesai berbincang aku dan nisa pulang bersama, dan aku sedikit berbincang dengannya dan meminta sedikit saran darinya apa yang harus aku putuskan dan jawaban dia “ nikah ajh nis, gak apa-apa kamu udah bisa bagi waktu kamu ko, kalo kamu takut mulu gimna kamu tau rasnaya pacaran setelah menikah” huufh aku rasa mungkin sudah waktunya, akupun memberi tahu ibuku kejadian kemarin dan ibuku akhirnya mengerti apa maksud dari semuanya, mungkin prosesnya disini sangat singkat, karena jarak dari lamaran ke pernikahan berlangsung sanagt singkat tanpa ada jeda waktu lama, karena posisi kami berdua yang terikat pekerjaan. Tepat pada tanggal 13 Agustus 2016, Abdullah bersama dengan keluarganya mendatangi rumahku, aku terkejut bukan main karena Abdullah tidak memberi tahuku tentang kedatangan dia ke rumahku, sudah jelas ayah ibuku juga sama terkejutnya, tidak ada persiapan yang istimewa diacara lamaran aku dan Abdullah kita hanya saling tukar cincin dan ya seperti adat lamaran di kebanyakan  kampung. Acara lamaran dihadiri oleh beberapa orang anggota keluarga besar sajah, dan saat aku sedang menyiapkan teh di dapur ibu terus sajah meledeku,       “ Katanya Abdullah ternyata Abdul”

Ibuku               : “ oh itu ka, yang kaka bilang Abdullah yang kaka liat di depan rumah, yang bikin hati anak ibu teriris-iris kaya di iris pisau.” ( meledek sambil tertawa kecil)
Aku              : “ ih apa sih ibu ngeledek mulu deh,” ( aku agak sedikit malu-malu kicing sih heheheh )
Ibuku            : “ ka, ibu juga tau kali kalo namanya Abdul, dia anaknya pak bandri, karena kaka bilangnya Abdullah ya ibu bilang ngga tau. Ibu taunya dia itu Abdul dia memang jarang di kampung, dan katanya sering merantau jauh tapi ternyata oh ternyata udah kecantel ajah sama anak ibu yang satu ini.”
Aku              : “ahhh ibu apaan sih aku kan ngga tau juga kalo dia itu orang sini juga tadinya, terus bu dia ternyata pernah main bareng aku ya, terus satu sekolah pula dulu waktu sd, ya ampun bu ingatan aku buruk sekali.”
Ibuku            : “ nah itu namanya jodoh ka, makanya kan kata pribahasa juga jodoh mah ngga akan kemana, tenang ajah Allah sudah mengatur semuanya, udah ah sana antar teh nya!”
Aku              : “ iya ibu ku yang cuaaanntiik.” ( sambil berjalan dengan muka semuringah)

Walaupun acara lamaran nya tidak didatangi oleh banyak orang dan tidak ada pesta aku merasa sangat bahagia, sebelum kami mengakhiri acara lamaran keluarga kami langsung menentikan hari pernikahan aku dan Abdullah kerena kedua oramgtua kami tidak ingin menunggu waktu lama untuk menggelar acara pernikahan kami. Setelah acara lamaran aku sedikit berbincang dnegan Abdullah dan bertanya mengenai hilangnya dia waktu itu, dan aku sangat salut terhadapnya dia mampu menjaga perasaanku, ternyata aku yang tidak tahu waktu itu handphone Abdullah hilang dan tidak ada lagi yang dia bisa pakai karna nomorku dia tak hafal dan akunnya pun dia tidak bisa buka karena dia lupa ID nya. Sampai pada akhirnya kami bertemu lagi, setekah sekian lama tidak berjumpa dan tidak bertukar kabar. Berbagai persiapanpun dilakukan kami membagi menjadi dua agar persiapan menjadi sempurna tanapa ada nya kekurangan, mungkin saking sibuk nya aku lupa menyebar undangan untuk teman-temanku dan akhirnya aku meminta tolong adikku untuk mengantarkan undangan tersebut. 

Saat hari pernikahanku dengan Abdullah aku merasa tak karuan, mungkin ini yang dirasakan para mempelai wanita saat akan melangsungkan acara pernikahan, pernikahan yang terjadi satu kali dalam seumur hidup ini harus di persiapkan matang-matang agar selalu berkesan dalam kehidupan, tak perlu mewah dan megah asalkan sah dan diakui agama, aku sedikit tidak menyangka karena aku akan menikah dengan seorang laki-laki yang aku kira dia bukanlah laki-laki baik dan dia sangat pengecut karena hanya mmeberikan janji palsu, dan menghilang tanpa jejak. Tapi ternyata menghilangnya Abdullah bukan disengaja tapi aku yang salah paham kepadanya tidak mendengar penjelasaannya, tapi alhamdulilla Allah pertemukan aku dengan dia kembali dan mempersatukan kami dengan ikatan yang halal. Jarak lamaran ke pirnikahan sangat singkat karena kami berdua masih di tuntut untuk bekerja dan kuliah jadi kami memutuskan menikah di tanggal 31 Agustus pada hari jum’at, semua persiapan sudah kamibagi menjadi dua agar semuanya dapar terpenuhi tepat pada waktunya, mungkin jika dipikir-pikir mana mungkin pernikahan bisa di siapkan dengan waktu yang kurang dari satu bulan, tapi itu terlaksana karena persiapan dari keluarga mas Abdullah sudah dari jauh-jauh hari jadi kita mempersiapkan kekurangannya sajah. 

Setelah menikah kami berdua langsung pindah kerumah mas Abdullah karena dia benar-benar sudah mempersipakan semuanya sebelum menikah dan setelah menikah kami bisa langsung pindah kesana, rumahnya agak sedikit mirip dengan rumah yang aku idamkan sejak lama, dan saat masuk rumah itu aku merasa tak asing, rumah yang aku impikan rumah idamanku dan karena aku merasa bertanya-tanya aku bertenya kepada mas Abdullah.
Aku                 : “ Abi, kenapa rumah ini sedikit mirip dengan rumah yang ummi unggah di akun instagram ya?” ( panggilan berubah karena sudah halal, yang jomblo mohon bersabar )
Abdullah      : “ Iya mi, karena abi ingin membuat ummi bahagia dan merasa nyaman dengan rumah yang abi beli, ya abi tahu ini tidak sama persis hanya mirip tapi ummi suka?”
Aku              : “ Iya bi, ummi suka sekali terimakasih ya bi”
Abdullah      : “Iya, ummi.”
Aku              : “ Abi, ko abi mau sih nungu ummi? Kenapa abi tidak menikah dengan wanita lain? Diluar sana kan banyak wanita cantik dan seksi.”
Abdullah      : “ Ummi, itu karena abi tidak mau hanya memberikan harapan atau hanya memberikan janji pada ummi, kan ummi tahu sendiri wanita itu sellau ingin kepastian bukan hanya sekedar omongan sajah. Ummi harus tahu satu hal ketika kita bertemu seseorang belum kita berjodoh dengannya, tapi jika kita berjodoh denganya maka kita akan dipertemukan lagi kapanpun dan dimanapun. Ummi ingat kita sempat tidak bertukar kabar, kita tidak saling bertemu tapi Allah pertemukan kembali kita, dan abi pun mi merasa takut tidak bertemu ummi lagi, abi berdoa terus agar bisa bertemu ummi dan alhamdulillah abi bisa melihat ummi dan bisa bersanding dengan ummi dipelaminan. Ummi masih ingat pertemuan pertama sepulang kajian? Disana abi ingin menyapa ummi, ingin rasnaya abi juga meminta maaf tapi abi sangat takut ummi marah, dan benar sekali ummi marah.” ( sembari mencubit pipiku)
Aku              : “ Iya marah lah bi, wanita mana yang nyaman diliatin kaya gitu, udah kaya mau dimakan ya ummi marah lah.” ( sambil cemberut maja)
Abdullah      : “ Iya ummi iya, abi minta maaf ya. Semoga kita dapat membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warohmah ya mi.”
Aku              : “ Iya abi, Aamiin.”

            Setelah dua tahun menikah kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang begitu tampan, memang sebelumnya kami berniat memiliki anak setelah kami lulus, agar tidak menjadikan beban, untuk perjalanan kami selama kuliah setelah menikah itu tidak semudah yang orang-orang lihat banyak sekali tantangan dan rintangan, aku yang awalnya berniat ingin tetep bekerja suami tidak mengijinkan dan hanya dia yang boleh bekerja, pada intinya kita harus banyak bersyukur dan tabah menghadapi setiap masalah yang datang, tidak semua kehidupan akan baik-baik sajah. Dan alahmdulillah aku dan mas Abdullah diberi amanat setelah kami lulus kuliah, aku tidak pernah berniat menikah disaat aku kuliah tapi itu lah jodoh bisa datang kapan sajah. Aku sangat bersyukur karena ketika aku mengeluh tentang segala hal mas Abdullah selalu menguatkanku dan membantu aku untuk bangkit, dan ketika aku mulai lalai dengan ibadahku, dia sudah siap segera menggemblengku agar lebih baik lagi dan dia selalu menuntunku dalam jalan yang Allah ridhoi, alhamdulillah  kelurga kecilku selalu dalam lindungan Allah, dan selalu ada kebahagian dan rasa nyaman di keluarga sederhanaku, rumah impian yang dia ciptakan begitu indah dan nyaman untuk ditinggali.




2 komentar:

LUKAKU

Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin terlahir ke dunia ini. menjadi anak pertama sekaligus kaka dari kedua adikku adalah hal y...