RUMAH IMPIAN
pagi yang cerah selalu aku sambut dengan secangkir teh
dan satu piring kue, setiap hari aku
menajalankan rutinitas seperti biasanya tidak ada kendala yang membuatku tidak
melakukan kebiasaan tersebut. Namun hari ini aku merasa berbeda karna pagi
kemarin aku bertemu dengan seorang teman lama yang aku sendiri tidak tau
namanya siapa, karna sejak kecil kebiasaan berdiam diri dirumah itu
mempengaruhi pergaulanku, jadi walaupun satu sekolah atau satu kampung kadang
tahu muka tapi tidak tahu namanya siapa, mungkin karna kurang pergaulan jadi
tidak hafal semuanya. Saat melihatnya akupun hanya tersenyum tanpa menyapa
sedikitpun dan diapun hanya menbalas senyumanku.
Tiga
bulanpun berlalu, aku sudah lama tidak pernah membuka akun facebookku dan saat
aku membuka akunku ada sebuah pesan masuk, karna aku sedang merasa bisan aku
membuka pesan itu dan terus membalas setiap pesan yang dia kirim, dan perasaan
aneh itu muncul terbesit ada rasa nyaman, dari awal percakapanpun aku merasa
nyaman, samapai beberapa hari aku masih sering bertukar kabar dengannya, aku
belum tau nama dia siapa aku hanya merasa nyaman dengan dia. Karena nama
facebook dia sangat berbeda dan tidak ada foto dia di akun nya hanya terdapat
beberapa foto animsi islami, dan pada akhirnya aku bertanya kepada
teman-temanku siapa yang punya nama facebook atas nama “dukun cinta” dan akhirnya aku tahu nama dia, dia bernama Abdullah
dan saat aku bertanya kepadanya apa alasan dia memakai nama dukun cinta itu
karena dia selalu berhasil mendapatkan semua cinta wanita, dan yang aku dengar
dari semua teman-temanku dia sangat baik hati dan sopan terhadap siapapun jadi
dia sanagt mudah memikat hati wanita mana sajah. Dari sana aku mulai memanggil
nama panggilan dia yaitu Abdullah, awalnya kita hanya berbincang melalui
facebook tapi lama kelamaan Abdullah mulai merasa tidak nyaman berbincang
melalui facebook dan akhirnya Abdullah meminta nomor telponku, tanpa berpikir
panjang aku memberikan no telponku kepadanya dan akhirnya kamipun berbincang
memalui telpon. Hampir setiap waktu aku berkomunikasi dengannya dan tanpa sadar
aku mulai tumbuh rasa cinta, rasa cinta yang mungkin tidak seharusnya ada,
cinta seorang wanita dan laki-laki yang bukan mahramnya.
Dan pada
akhirnya Abdullah mengutarakan maksud dan tujuannya kepadaku, dia ingin
memperkenalkan aku kepada keluarganya dan ingin menikahiku sesegera
mungkin.tetapi pada saat itu aku tidak bisa menjawab apa-apa karna rasanya itu
terlalu cepat untuk dibicarakan karna aku masih berumur 20 tahun dan aku sedang
melanjutkan sekolahku, aku harus membagi waktu kerja dan kuliahku agar mereka
saling beriringan, dan aku masih belajar beradaptasi dengan lingkunganku, dan
akhirnya aku meminta waktu 3 hari untuk menjawab pertanyaan darinya iya ataukah
tidak karena keputusan menikah harus dipikirkan matang-matang, karena menikah
adalah ibadah paling lama dan paling mulia, bukan masalah sekedar berkeinginan
dan mapan sajah tapi harus ada kesiapan diri dan mentalpun harus dipersiapkan
karna perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Mungkin Abdullah merasa takut degan
jawabanku nanti, karena selama tiga hari itu dia tidak ada kabar, dan pada hari
ke empat aku memberikan jawaban, dan jawabanku adalah tidak, karna aku belum
siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga, tapi jawaban dari Abdullah membuat
aku sedikit berpikir, dia berkata “ tapi saya ingin beribadah, saya tidak ingin
berlama-lama mencintai wanita yang bukan mahram saya, apa kamu ingin saya terus
menerus menanggung dosa karena perasaan saya? Saya ingin menikahi kamu karna
saya ingin menyempurnakan agama saya, bolehkan saya bertemu orangtuamu?”.
Setelah
kejadian itu aku meminta dia untuk memberiku waktu 3 bulan untuk
mempertimbangkan.selama tiga bulan juga aku mulai berkomunikasi dengan
orangtuaku meminta saran yang baik menurut mereka, meninta saran dari teman
terdekatku, dan selama tiga bulan pula kamitidak bertukar kabar, aku
memantapkan diri agar menjadi pantas untusnya jikalau memang takdirku harus
menikah lebih awal dari perkiraanku, dan terkadag aku menanyakan kabar Abdullah
kepada rekan kerjanya, dan kebetulan sekali mereka sanagt dekat dia ellau
bilang Abdullah sepert mempunya suatu hajat yang begitu besar karena temannya
itu selalu melihat Abdullah sedang berdoa dengan sangat khusyu. Dan pada
akhirnya aku meminta pendapat dari seorang pembimbingku atau bisa disebut
guruku yang mengajariku ilmu agama, dan beliaupun memberikan jawaban “
menikahlah! Kamu mampu, dia mampu jangan sampaikalian malah terjerumus kedalam
lembah hitam yang sangat Allah murkai, kamu mengkhawatirkan masalah keuangan
karna kamu sednag menuntut ilmu? Ketahuilah menikah itu membuka pintu rezeki,
semua orang mempunyai rezekinya masing-masing dan tergantung bagaimana usaha mereka,
rezeki itu bukan hanya uang waktu juga adalah rezeki, kamu memikirkan bagaiman
acaranya kamu mebagi waktu dengan pekerjaamu kuliahmu atau dengan teman-temanmu
kamu bisa memenej semuanya setelah kamu mencobanya, jangan takut nak, setelah
menikah kamu akan merasakan nikmatnya ibadah bersama,melakukan semua hal berdua,
menikahlah!”.
Selepas
meminta saran dan jawaban dari guruku, malamnya kembali aku melaksanakn sholat
istikharah untuk kesekian kalinya, karna kau sangat takut untuk mengambil keputusanmenikah
diusiaku yang masih belia. Selesai sholat aku pun pergi tidur dan saat besoknya
selepas aku mengerjakan sholat subuh telponku berdering dan ternyata itu adalah
telpon darei ibuku, seperti biasanya dia menanyakan kabarku, kuliahku, pekerjaanku,
dan dia juga menyinggung tentang obrolanku dengannya waktu bulan lalu tentang
mas Abdullah yang ingin berkunjung ke rumah.
Ibu : “ ka, bukannya kamu mempunyai kenalan
yang namanya Abdullah, bagaimana keadaanya?”.
Sontak aku sedikit merasa keheranan dan rasa bertanya-tanya
kenapa ibu menanyakan hal itu, setelah sekian lama tak ada jawaban dari beliau,
dan aku pun berpikir apa ini jawaban dari doaku? Atau hanya sekedar candaan
ibuku sajah, dan akupun menjawabnya.
Aku : “ Dia baik
bu, Alhamdulillah”
Ibu : “
Katanya dia mau ke rumah ka, kapan?”
Aku : (sangat terkejut dengan pertanyaan
barusan di berikan) “ Apa dia boleh ke rumah untuk melamarku bu?”
Ibu : “ Tentu sajah, kamu kan sudah mau masuk
semester 4 kuliah, dan ayahmu juga sudah memikirkannya, kalo kamu ingin menikah
dan ada laki-laki sholeh yang datang ingin meminangmu, dan dia benar-benar
serius ingin menikahimu ayah dan ibu
hanya bisa memberikan doa dan restu untuk kalian berdua, walaupun kami berdua
sangat berat menerima keputusnmu dan dia, kamu adalah anak sulung kami, kamu
harus menjadi contoh bagia adik-adikmu ka, walaupun ibu belum tau Abdullah mana
yang kamu maksudkan tapi ibu kira ibu akan tau dia ketika dia datang ke rumah,
jika dia terbaik untukmu maka ibu dan ayah akan menikahkanmu, dari pada kamu
tidak bisa fokus kuliah dan bekerja hanya gara-gara masalah perasaan dan
memikirkan pujaaan hati terus-terusan, (ibupun sambil tertawa kepadaku)”.
Aku : “Iya ibu, akupun ingin segera
memperkenalakn dia kepada ibu, dan akupun sudah memikirkanya bu, untuk masalah
waktu nanti kita bicarakan setelah terlaksana. Ibu tau, rasanya diperantauan
sendiri tanpa keluarga itu sangat sedih.”
Ibu : “ Ya sudah tanya Abdullah kapan dia akan
kerumah.”
Aku : “ iya ibu, nanti kaka tanya mas Abdullah
kapan dia akan kerumah, terimakasih atas kepercayaan ibu kepada kami, dan telah
memberikan izin kaka untuk di lamar, walaupun kaka belum tau nanti akan seperti
apa.”
Ibu : “ Iya ka, sehat terus ya ka,
Assalamu’alaikum.”
Aku : “ Waalaikumsalam.”
Selesai
berbincang dengan ibu, akupun memutuskan untuk meberikan jawaban kepada
Abdullah, namun sangat disayangkan nomor telpon yang dia pakai sidah tidak bisa
di hubungi dan aku facebook dia juga sudah sangat lama tidak pernah dibukanya,
aku berusaha bertanya kepada teman kerjanya dan teman satu kampusnya, tapi
sayang merekapun tidak tahu Abdullah dimana. Walaupun aku sedikit khawatir
karena dia tidak berada di kampusnya ataupun di tempat kerjanya, karena aku
akan melaksanakan ujian semesterku aku sedikit demi sedikit menghilangkan
khawatir itu dan lambat laun aku melupakan hal tersebut. Aku kembali fokus pada
tujuanku kuliah sembari bekerja tanpa berpikir masalah perasaan dan lainnya,
semua berjalan dengan lancar tanpa kendala, niali ujianku hampir semuanya B+ ada juga yang mendapatkan nilai A, dan aku
sangat bersyukur karna disetiap kejadian pasti akan ada hikmah tersendiri.
Satu
tahun sudah berlalu akupun sudah masuk pada semester 6 perkuliahan, aku
menjalankan hariku seperti biasanya, kuliah, ikut kajian dan tidak lupa aku
kuliah tetap sembari bekerja, walaupun sangat banyak tantangan, diantaranya
penting mana kuliah dan bekerja sedangkan aku harus mempunya prioritas dan aku
juga memiliki kewajiban untuk emmenuhi pekerjaanku, kadang dihadapkan dengan pilihan
yang sangat sulit tapi Allah selalu memberi kemudahan disetiap masalah yang
ada, aku bisa terus melanjutkan studi dan terus bekerja sampai saat ini.
Selesai kajian seperti biasa aku duduk di taman depan kampusku, tapi ada
sesuatu yang membuat mataku terkejut, saat aku duduk di bangku taman ada
sepasang mata yang terus memperhatikanku dan temanku nisa, rasanya wajahnya tak
sing tapi rasanya tak elok jika seorang laki-laki memandang dengan cara seperti
itu. Dia melihatku seolah tidak berkedip, dan aku merasa tidak nyaman dengan
semuanya, aku bergegas meminta nisa untuk beranjak meninggalkan taman. Aku
sedikit menoleh kepadanya, dan aku melihat dia seperti ingin mengungkapkan
sesuatu tapi tidak terucap, dan terlihat sangat sedih ketika melihat aku bergegas
pergi.
Sampai
kamar kos ku, aku merenungkan kejadian tadi di kampus aku bertanya-tanya
tentang dia yang tak asing, dan siapa dia dengan wajah seperti orang kecewa
itu? Semuanya menimbulakan tanda tanya yang sangat besar,mungkin besok aku akan
berjumpa lagi dengan dia. Seperti hari sabtu kemarin aku selalu berangkat
diawal waktu karena tidak mau tertinggal bus pemberangkatan pertama, sampai di
kampus sekitar pukul 07:00 pagi, seperti biasanya aku mampir ke warung
langgananku untuk membeli sarapan setelah itu aku pergi ke musola untuk sholat
dhuha dan seperti biasa aku berdua dengan nisa, sebenarnya namaku juga nisa
tapi karena ada kesalahan di akta kelahiran jadi namaku nisya, dan teman
kelaspun kadang memanggilku dengan panggilan nis sajah, dan kadang ada yang
lengkap juga nisya. Setelah selesai aku dan nisa bergegas menuju kelas, karna
aku tipe orang yang suka memilih tempat duduk agar aku merasa nyaman untuk
belajar dan menerima pelajaran. Hari begitu panas sehingga AC ruangan kelasku
tidak berasa, aku meminta nisa menemaniku ke kamar mandi karena aku sangat
kepanasan, dan pada saat itu pula aku berjumpa lagi dengan dia, sosok laki-laki
yang membuatkan pertanyaan dalam benaku. Saat aku keluar dari ruang kelasku
laki-laki itu berada tepat dihadpanku dia sedang menuruni anak tangga, aku
terkejut dan aku segera berbelok menuju kamar mandi, nisa yang melihat menjadi
terheran-heran karena mungkin semua orang juga akan merasakan hal sama ketika
berpapasan dengan seseorang yang lama tidak bertemu, pertemuan kedua itu
seperti bencana dalam pikiranku, dia adalah laki-laki yang dengan rasa percaya
dirinya meminta ingin bertemu orangtuaku dan ingin segera menikahiku tapi dia
menghilang ntah kemana tanpa kabar sedikitpun. Dia seolah-olah mati ditelan
bumi dan setelah 1 tahun berlalu dia datang lagi, saat aku keluar dari kamar
mandi aku melihat dia sepertinya sedang menungguku, dan percakapan canggungpun
dimulai.
Abdullah :
“Assalamu’alaikum, Nisya”
Nisya :
“ Waalaikumsalam”
Nisa : “
Kalian berdua saling kenal ya? Pantas sajah saat pulang kejian minggu lalu aku
melihat kamu, saat aku dan Nisya di taman depan kampus ada yang lagi merhatiin
kita berdua terus Nisya minta buru-buru pergi, padahal biasanya kita lama di
taman itu, dan aku juga sekilas melihatnya, jadi aku tak yakin.”
Abdulah : “ Nisya, saya ingin berbicara sebentar
sajah. ( sembari menundukan pandangannya)”
Nisya : “ silahkan!”
Abdullah : “ Saya ingin meminta maaf, karena saya
tidak memberi kabar selama beberapa tahun kebelakang.”
Nisya : “Saya tidak apa-apa mas, saya sudah
melupakan semuanya terimakasih!”
Aku meninggalkan Abdullah sesegera mungkin karena aku
tidak ingin melihat dia terlalu lama, dan membuat rasa sakit hati itu hadir
lagi. Aku tahu nisa pasti akan berpikir kenapa dengan aku dan Abdullah, mungkin
lain waktu akan aku ceritakan kenapa aku begitu ingin meninggalkan dia dengan
sesegera mungkin. Sampainya di kelas nisa melihatku yang mungkin terlihat
menyedihkan bagi dia, dan sepulang kuliah aku langsung bergegas pulang karena
mengikuti kajian sepertinya tidak dapat membantuku menghilangkan rasa sakit
hati ini, dan akupun tidak bisa menyembunyikan semuanya. Nisa pun tidak
bertanya kenapa aku pulang lebih awal, mungkin dia tahu apa yang sedang aku
rasakan saat ini.
Tiga hari telah berlalu dan aku masih memikirkan kejadian
itu, dan membuat aku kehilangan beberapa semangat belajarku, saat ada diskusi
aku hanya berdiam karna rasanya aku sedang tidak ingin banyak berbicara dan
hanya ingin terdiam, dan memang bisanya aku selalu menambahkan atau menyanggah
beberapa pertanyaan yang jika menururku kurang tepat atau perlu aku tambahkan.
Dan aku tahu teman-temanku sangat merasa tidak nyaman dengan aku yang seperti
ini, mungkin aku butuh waktu sendiri.
Dan ada yang membuatku terkejut karna saat pulang kuliah aku melihat Abdullah,
tapi dia tidak sendiri disampingnya ada seorang bapak dan ibu. Nisa pun
menegurku “ Nis, itu orangtuanya Abdullah?” tapi aku tetap berdiam dan tidak
percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, dan suasana menjadi hening karna
kami saling berpandang sajah. Dan tiba-tiba ibu itu memeluku dengan rasa senang
dan amat bahagia, tapi aku masih merasa terkejut dengan semua kejadian yang
sedang terjadi. Aku tersenyum saat ibu itu memeluku dan bertanya kepadanya.
Nisya : “ maaf, ibu
siapa ya?”
Ibu Abdullah : “
Saya ibunya Abdullah, saya merasa senang sekali bisa bertemu denganmu disini.
Abdullah sellau menceritakan tentang kamu ke ibu setiap hari, dia seperti tidak
melihat wanita lain karena setiap kali bercerita selalu tentang kamu. Makanya
ibu sangat penasaran siapa kamu ini, sampai-samapi membuat anak ibu
satu-satunya terpikat.(sembarui tersenyum)
Ayah Abdullah : “ Tak enak bertemu calon menantu disini
bu, sebaiknya kita duduk di depan cafe sana biar ngobrolnya enak bu.”
Ibu Abdullah : “ Iya
pak.”
Akhirnya kami berkumpul di cafe depan kampusku, aku masih bertanya-tanya
kenapa Abdullah membawa ibu dan ayahnya betemu denganku, dan kenapa ayahnya
bilang calon menantu? Bagaimana aku tidak merasa bingung, semuanya terjadi
begitu cepat dan seperti mimpi. Kenpa aku bertemu dengan mereka secepat ini,
apa ini jawaban dari setiap doaku, apa benar dia adalah jodohku? Semua
pertanyaan mengalir begitu sajah samapai di akhir perbincangan. Selesai
berbincang, keluarganya mengantarku pulang ke rumah kos-kosanku, ada perasan
bahagaia dan ada perasaan malu, semuanya berasa tercampur menjadi satu. Aku
segera menuju kamarku untuk membersihkan badanku agar pikiranku tidak
tertinggal ditempat itu, tapi disaat aku dikamar mandi aku mendengar seperti
ada telpon masuk, karena aku terlalu menikmati sejuknya air aku tidak
menghiraukan panggilan tersebut, dan saat selesai mandi ada telpon dari nomor
yang tidak dikenal dan karena aku melihat riwayat panggilan nomor itu yang
menelpon, akupun mengangkat telpon karena aku rasa itu penting karena banayk
sekali panggilan yang tak terjawab. Dan suara tak asing itu yang aku dengar
(Abdullah).
Abdullah : “ Assalamu’alaikum.
Nis”
Nisya : “
waalaikumsalam, kenapa ya mas?”
Abdullah : “
Nis, dompetmu tadi tertinggal di mobilku. Apa aku harus mengantarnya? Takutnya
ada barang penting di dalamnya, oh iya maaf juga sebelumnya aku buka dompet
kamu nis, dan ternyata disana ada nomor telponmu jadi aku coba telpon.”
Terdegar suara ibu Abdullah berkata “ anatarlah masa
nisya yang harus kesini”
Nisya :
“ Tidak apa-apa masih ada waktu besok, besok aku ada kajian di mesjid dekat
kampus. Nanti kita bertemu selesai kajian.”
Abdullah : “
baiklah, sampai bertemu besok nis, assalamu’alaikum.”
Nisya :
“ Iya, waalaikumsalam.”
Keesokan harinya selesai kajain ada pesan masuk dari
Abdullah “ nis, aku tunggu kamu dicafe biasa kamu dan nisa ngobrol ya, ajak
nisa saya juga bersama dengan guruku Ustadz Sholeh.” Aku yang sejak malam ingin
berbicara dengannya panjang kali lebar kali tinggi, tapi pas samapainya disana
aku tidak bisa berbicara banyak aku merasa gugup dan apa yang sudah aku
persiapkan malah menghilang dari pikiranku. Di pertemuanku yang kali ini kami
hanya berfokus pada isi kajian yang baru sajah disampaikan oleh Ustadz Sholeh
di mesjid dekat kampusku, selesai berbincang aku dan nisa pulang bersama, dan
aku sedikit berbincang dengannya dan meminta sedikit saran darinya apa yang
harus aku putuskan dan jawaban dia “ nikah ajh nis, gak apa-apa kamu udah bisa
bagi waktu kamu ko, kalo kamu takut mulu gimna kamu tau rasnaya pacaran setelah
menikah” huufh aku rasa mungkin sudah waktunya, akupun memberi tahu ibuku
kejadian kemarin dan ibuku akhirnya mengerti apa maksud dari semuanya, mungkin
prosesnya disini sangat singkat, karena jarak dari lamaran ke pernikahan
berlangsung sanagt singkat tanpa ada jeda waktu lama, karena posisi kami berdua
yang terikat pekerjaan. Tepat pada tanggal 13 Agustus 2016, Abdullah bersama
dengan keluarganya mendatangi rumahku, aku terkejut bukan main karena Abdullah
tidak memberi tahuku tentang kedatangan dia ke rumahku, sudah jelas ayah ibuku
juga sama terkejutnya, tidak ada persiapan yang istimewa diacara lamaran aku
dan Abdullah kita hanya saling tukar cincin dan ya seperti adat lamaran di
kebanyakan kampung. Acara lamaran
dihadiri oleh beberapa orang anggota keluarga besar sajah, dan saat aku sedang
menyiapkan teh di dapur ibu terus sajah meledeku, “ Katanya Abdullah ternyata Abdul”
Ibuku :
“ oh itu ka, yang kaka bilang Abdullah yang kaka liat di depan rumah, yang
bikin hati anak ibu teriris-iris kaya di iris pisau.” ( meledek sambil tertawa
kecil)
Aku : “
ih apa sih ibu ngeledek mulu deh,” ( aku agak sedikit malu-malu kicing sih
heheheh )
Ibuku : “
ka, ibu juga tau kali kalo namanya Abdul, dia anaknya pak bandri, karena kaka
bilangnya Abdullah ya ibu bilang ngga tau. Ibu taunya dia itu Abdul dia memang
jarang di kampung, dan katanya sering merantau jauh tapi ternyata oh ternyata
udah kecantel ajah sama anak ibu yang satu ini.”
Aku :
“ahhh ibu apaan sih aku kan ngga tau juga kalo dia itu orang sini juga tadinya,
terus bu dia ternyata pernah main bareng aku ya, terus satu sekolah pula dulu
waktu sd, ya ampun bu ingatan aku buruk sekali.”
Ibuku : “
nah itu namanya jodoh ka, makanya kan kata pribahasa juga jodoh mah ngga akan
kemana, tenang ajah Allah sudah mengatur semuanya, udah ah sana antar teh nya!”
Aku : “
iya ibu ku yang cuaaanntiik.” ( sambil berjalan dengan muka semuringah)
Walaupun acara lamaran nya tidak didatangi oleh banyak
orang dan tidak ada pesta aku merasa sangat bahagia, sebelum kami mengakhiri acara
lamaran keluarga kami langsung menentikan hari pernikahan aku dan Abdullah
kerena kedua oramgtua kami tidak ingin menunggu waktu lama untuk menggelar
acara pernikahan kami. Setelah acara lamaran aku sedikit berbincang dnegan
Abdullah dan bertanya mengenai hilangnya dia waktu itu, dan aku sangat salut
terhadapnya dia mampu menjaga perasaanku, ternyata aku yang tidak tahu waktu
itu handphone Abdullah hilang dan tidak ada lagi yang dia bisa pakai karna
nomorku dia tak hafal dan akunnya pun dia tidak bisa buka karena dia lupa ID
nya. Sampai pada akhirnya kami bertemu lagi, setekah sekian lama tidak berjumpa
dan tidak bertukar kabar. Berbagai persiapanpun dilakukan kami membagi menjadi
dua agar persiapan menjadi sempurna tanapa ada nya kekurangan, mungkin saking
sibuk nya aku lupa menyebar undangan untuk teman-temanku dan akhirnya aku
meminta tolong adikku untuk mengantarkan undangan tersebut.
Saat hari pernikahanku dengan Abdullah aku merasa tak
karuan, mungkin ini yang dirasakan para mempelai wanita saat akan melangsungkan
acara pernikahan, pernikahan yang terjadi satu kali dalam seumur hidup ini
harus di persiapkan matang-matang agar selalu berkesan dalam kehidupan, tak
perlu mewah dan megah asalkan sah dan diakui agama, aku sedikit tidak menyangka
karena aku akan menikah dengan seorang laki-laki yang aku kira dia bukanlah
laki-laki baik dan dia sangat pengecut karena hanya mmeberikan janji palsu, dan
menghilang tanpa jejak. Tapi ternyata menghilangnya Abdullah bukan disengaja
tapi aku yang salah paham kepadanya tidak mendengar penjelasaannya, tapi
alhamdulilla Allah pertemukan aku dengan dia kembali dan mempersatukan kami
dengan ikatan yang halal. Jarak lamaran ke pirnikahan sangat singkat karena
kami berdua masih di tuntut untuk bekerja dan kuliah jadi kami memutuskan
menikah di tanggal 31 Agustus pada hari jum’at, semua persiapan sudah kamibagi
menjadi dua agar semuanya dapar terpenuhi tepat pada waktunya, mungkin jika
dipikir-pikir mana mungkin pernikahan bisa di siapkan dengan waktu yang kurang
dari satu bulan, tapi itu terlaksana karena persiapan dari keluarga mas
Abdullah sudah dari jauh-jauh hari jadi kita mempersiapkan kekurangannya sajah.
Setelah menikah kami berdua langsung pindah kerumah mas
Abdullah karena dia benar-benar sudah mempersipakan semuanya sebelum menikah
dan setelah menikah kami bisa langsung pindah kesana, rumahnya agak sedikit
mirip dengan rumah yang aku idamkan sejak lama, dan saat masuk rumah itu aku
merasa tak asing, rumah yang aku impikan rumah idamanku dan karena aku merasa
bertanya-tanya aku bertenya kepada mas Abdullah.
Aku :
“ Abi, kenapa rumah ini sedikit mirip dengan rumah yang ummi unggah di akun
instagram ya?” ( panggilan berubah karena sudah halal, yang jomblo mohon
bersabar )
Abdullah : “
Iya mi, karena abi ingin membuat ummi bahagia dan merasa nyaman dengan rumah
yang abi beli, ya abi tahu ini tidak sama persis hanya mirip tapi ummi suka?”
Aku : “
Iya bi, ummi suka sekali terimakasih ya bi”
Abdullah :
“Iya, ummi.”
Aku : “
Abi, ko abi mau sih nungu ummi? Kenapa abi tidak menikah dengan wanita lain?
Diluar sana kan banyak wanita cantik dan seksi.”
Abdullah : “
Ummi, itu karena abi tidak mau hanya memberikan harapan atau hanya memberikan
janji pada ummi, kan ummi tahu sendiri wanita itu sellau ingin kepastian bukan
hanya sekedar omongan sajah. Ummi harus tahu satu hal ketika kita bertemu
seseorang belum kita berjodoh dengannya, tapi jika kita berjodoh denganya maka
kita akan dipertemukan lagi kapanpun dan dimanapun. Ummi ingat kita sempat
tidak bertukar kabar, kita tidak saling bertemu tapi Allah pertemukan kembali
kita, dan abi pun mi merasa takut tidak bertemu ummi lagi, abi berdoa terus
agar bisa bertemu ummi dan alhamdulillah abi bisa melihat ummi dan bisa
bersanding dengan ummi dipelaminan. Ummi masih ingat pertemuan pertama sepulang
kajian? Disana abi ingin menyapa ummi, ingin rasnaya abi juga meminta maaf tapi
abi sangat takut ummi marah, dan benar sekali ummi marah.” ( sembari mencubit
pipiku)
Aku : “
Iya marah lah bi, wanita mana yang nyaman diliatin kaya gitu, udah kaya mau
dimakan ya ummi marah lah.” ( sambil cemberut maja)
Abdullah : “
Iya ummi iya, abi minta maaf ya. Semoga kita dapat membangun rumah tangga yang
sakinah mawaddah dan warohmah ya mi.”
Aku : “
Iya abi, Aamiin.”
Setelah dua tahun menikah
kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang begitu tampan, memang sebelumnya
kami berniat memiliki anak setelah kami lulus, agar tidak menjadikan beban,
untuk perjalanan kami selama kuliah setelah menikah itu tidak semudah yang
orang-orang lihat banyak sekali tantangan dan rintangan, aku yang awalnya
berniat ingin tetep bekerja suami tidak mengijinkan dan hanya dia yang boleh
bekerja, pada intinya kita harus banyak bersyukur dan tabah menghadapi setiap
masalah yang datang, tidak semua kehidupan akan baik-baik sajah. Dan
alahmdulillah aku dan mas Abdullah diberi amanat setelah kami lulus kuliah, aku
tidak pernah berniat menikah disaat aku kuliah tapi itu lah jodoh bisa datang
kapan sajah. Aku sangat bersyukur karena ketika aku mengeluh tentang segala hal
mas Abdullah selalu menguatkanku dan membantu aku untuk bangkit, dan ketika aku
mulai lalai dengan ibadahku, dia sudah siap segera menggemblengku agar lebih
baik lagi dan dia selalu menuntunku dalam jalan yang Allah ridhoi,
alhamdulillah kelurga kecilku selalu
dalam lindungan Allah, dan selalu ada kebahagian dan rasa nyaman di keluarga
sederhanaku, rumah impian yang dia ciptakan begitu indah dan nyaman untuk
ditinggali.
selamat membaca
sumber foto :
sumber foto :
Goodjobb tehh
BalasHapusterimakasih 😊 sudah mendukung tetap jadi pembaca setia ya 👍👍👍👍
Hapus