Sahabatku Adalah Suamiku
Adelia Pramesti seorang gadis cantik dan sangat populer di seluruh kota
Bandung, bukan hanya kecantikannya namun ia juga sangat cerdas dan sangat
pandai beradu argumen. Setiap ada perlombaan apapun ia akan memenangkannya dengan
sangat cepat dan tepat. Tidak akan ada orang yang tidak mengenali nama Adel
disana. Sejak kecil Adel sangat populer dalam segala aspek karena
popularitasnya banyak orang yang iri kepada keluarganya. Dalam beberapa bulan saja sudah sangat banyak
sekali teror kepada keluarganya, namun para pelakunya langsung bisa tertangkap
karena keluarga Adel merupakan keluarga yang sangat kaya pada masa itu.
Saat ini Adel sedang melanjutkan studi S2 nya di salah satu Universitas di
Bandung, ia juga mengajar les privat disalah
satu bimbel disana. Setiap hari Adel harus mengatur jadwalnya yang sangat
padat, sejak ia lulus S1 banyak sekali bimbel yang ingin memperkerjakannya.
Namun Adel memilih bimbel yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengatur
jadwalnya pribadi. Semua orang sangat tidak suka cara dia mengatur jadwal,
namun karena sudah persetujuan bimbel semua hanya bisa mengikuti jadwalnya.
Kadang jadwalnya mengajar berbarengan dengan yang lainnya. Maka salah satu
mereka harus mengalah untuknya, ya seperti manusia lainnya dimana ada kelebihan
disana ada kekurangan. Adel memang sangat pintar dan cukup cerdas namun ia
sangat cuek dan ya tentunya sedikit sombong. Ia merasa dia paling terbaik dan
tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Diperkuliahan dia mendapatkan banyak teman, begitupun di tempat ia
mengajar. Namun mereka tidak semua teman baiknya ada yang mereka terang-terangan
menunjukan ketidak sukaan kepadanya namun Adel tidak perduli itu, karena setiap
orang mempunyai hak untuk menyukai dan membenci.
Adel selalu berjalan dengan sangat anggun dan tentunya dengan penampilan
yang sangat modis, sehingga membuat orang yang melihatnya kagum dan terpesona.
Hari spesial untuk Adel ...
Ulang tahun Adel di rayakan di sebuah gedung yang sangat mewah dan megah,
kalangan yang di undangpun bukan hanya kalangan biasa melainkan kalangan
menengah ke atas.
Acara berlangsung dengan sangat baik tanpa ada kendala sedikitpun.
Tiba-tiba datang sosok laki-laki yang tampan dan mempesona dari balik pintu. Ya
dia adalah sahabat Adel namanya Randi Prayogi. Dia selalu datang terakhir di
acara ulang tahun Adel dengan membawa kado dan bunga tulip kesukaan Adel.
Semua orang melihat penomena itu setiap ulang tahun Adelia Pramesti putri
tunggal Pak Burhan dan Ibu Mesti.
Ulang tahun Adel selalu penuh dengan kemewahan dan tentunya penuh
kebahagiaan. Adel sangat senang jika sahabatnya itu datang, karena dia akan memberi
Adel kado yang paling berharga dan paling indah untuknya dan membawa tulip
kesukaannya.
Adel dan Randi sudah bersahabat sangat lama dari adel kuliah sampai ia
lulus tetap bersama Randi. Mereka hanya berselisih tiga tahun jadi ketika Adel
masuk kuliah Randi sudah semester akhir. Randi mengejar karirnya dengan penuh
kesungguhan begitupun Adel, mereka sama-sama belajar dan terus belajar agar apa
yang mereka cita-citakan cepat terwujud.
Mereka sama-sama pintar dan tentunya mereka sangat berbeda satu sama lain.
Karena Randi berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak populer seperti Adel.
Namun ia sangat pandai beradu argumen seperti adel. Dan Randi lebih ramah,
tentunya tidak sombong seperti Adel. Setiap orang mempunyai karakter
masing-masing, jadi kita harus bisa menerimanya dan tetap bertoleransi.
Begitupun dengan kebersamaan Adel dan Randi.
Adel sudah sibuk dengan bimbingan tesis nya, bukan adel namanya jika satu
kali bimbingan langsung tanjab gas. Adel tergiur ingin melanjutkan S3 nya di
Singapur atau London, namun ia tidak ingin kehilangan pekerjaanya. Ia sangat
menyukai pekerjaannya. Jadi ia memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah
kelulusannya.
Adel menghabiskan waktu bersama Randi, setiap ada waktu luang mereka akan
bersama dan tentunya mereka selalu bersama setiap saat, ketika ada acara
keluarga Randi selalu ada bersama Adel. Begitupun sebaliknya ketika akan ada acara
keluarga di rumah Randi, Adel akan selalu menemani Randi.
Perasaan Adel mulai berbeda, rasanya ada hal yang ia lupakan atau mungkin
ada sesuatu yang ia tidak ingat tentang dirinya. Setiap kali ia berada di rumah
Randi rasanya sangat berbeda dari rumahnya. Ia seperti sudah lama tinggal
disana dan merasakan kenyamanan tersendiri. Namun, semuanya membuyar ketika
Randi menepuk pundaknya. “Hei, lagi mikirin apa sih?” sontak Adel merasa
terkejut. “Ngga ko, ngga mikirin apa-apa.” Lalu berjalan meninggalkan Randi di
ruang tamu.
Adel sangat sennang bisa bertemu dengan Randi, karena Randi adalah teman
berbaginya. Dan hanya Randi yang satu pemikiran degan Adel. Hanya Randi yang
selalu mengerti tentang semua yang Adel inginkan.
Perjalanan menuju Bali ....
Keluarga Adel dan Randi memutuskan untuk berlibur ke Bali karena kedua
orang tua Adel merasa bingung akan mengahabiskan waktu liburan mereka kemana.
Kebersamaan dua keluarga itu membuat semua orang iri melihatnya, karena
sangat jarang orang yang mau mengajak keluarga lain utuk berlibur bersama
keluarganya.
Randi sangat menikmati momen di Bali dan begitupun Adel, dia menyukai
suasana pantai dan penginapan disana. Randi membawa Adel ke suatu tempat dimana
Adel akan merasa takjub melihatnya. Tempat yang begitu sunyi, nyaman dan
tentunya suasananya sangat romantis.
Adel melihat sekeliling, sedikit terdengar gemuruh ombak yang menabrak batuan
karang di pesisir pantai dan alunan musik yang sangat bagus dan merdu membuat
suasana menjadi lebih romantis. Susana ini membuat Adel merasa bahagia dan
tentunya terharu. Dan Randi memeluk Adel dengan sangat erat.
“Jangan menangis sayang, ini adalah hadiah dariku untukmu.” Memeluk Adel dengan sangat erat.
“Apa si Ran, aku kan lagi terharu. Kamu malah becanda.” Melepaskan pelukan
Randi.
Dan adel melihat mata Randi yang sedikit berkaca-kaca, dengan perasaan
bersalah Adel memegang tangan Randi.
“Ran, aku minta maaf ya. Aku seneng ko kamu kasih hadiah apa aja, kamu
adalah sahabat terbaik aku selama ini.” Sedikit menenangkan Randi.
“Aku cinta sama kamu Del.” Dengan memandang kedua bola mata adel, dengan
tangan yang masih di genggam oleh adel.
“Ran, kita Cuma sahabat. Ok! butuh berapa kali lagi aku bilang ke kamu
tentang hubungan kita.” Memegang tangan
Randi dengan kuat.
“Ok, kalo kamu pengen kita Cuma sahabat. Gua besok gua balik ke Bandung,
jadi jangan pernah lo hubungin gua lagi! Emang selama ini yang gua lakuin itu
Cuma omong kosong? Ngga Del, cinta tidak sebecanda itu. Gua udah berusaha buat
sabar pas awal lo bilang kita cuma temen , dan ini adalah kesekian kalinya lo
nolak gua Del. Berjuangan sampe titik ini aja gua bersyukur banget del. Apasih
yang kurang dari gua Del? Kurang kaya? Kurang pinter? Kurang gelar Del? Apa
keluarga gua kurang terkenal? Apa sih salah gua ke lo Del? Sekarang terserah
mau lo apa Del. Gua cape.” Randi melepaskan genggaman Adel dan berjalan
meninggalkan Adel disana.
Adel tidak tau harus bagaimana menyikapi semua itu, ada rasa sakit di dalam
hatinya namun ia tidak mau mengakui itu semua. Ia hanya ingin bersahabat dengan
Randi dan semua kebaikan Adel terhadapnya hanyalah sikap baik untuk sahabat
saja tidak lebih.
Keesokan harinya Adel sudah tidak melihat Randi, Adel bepikir apa seserius
itu amarah Randi terhadapnya? Hmmm semua itu membuat Adel harus berpikir keras.
Mencari solusi untuk semua itu, Adel tidak pernah suka jika Randi terlalu
berlebihan tentangnya. Randi selalu meposisikan dirinya orang yang paling
berjuang dan paling berjasa dalam hubungan baik mereka, jadi sangat sulit untuk
Adel menerima Randi dihatinya.
Adel segera kembali ke kotanya, ia mengunjungi semua tempat yang pernah ia
datangi bersama Randi dengan harapan ia bisa berjumpa dengan Randi disana.
Nasib baik tidak selalu berpihak kepada Adel, dia tidak bisa menemukan
Randi dimanapun. Telponnya tidak bisa dihubungi dan kedua orangtua Randipun
tidak memberitahukan keberadaannya kepada Adel. Rasa kehilangan terus
menghantui pikiran Adel, setiap harinya ia berjalan menelusuri tempat dimana
saja mereka pernah bersama.
Pada akhirnya Adel tumbang di jalan raya yang cukup ramai, banyak orang
yang berkerumun disana. Namun beberapa menit kemudian ada sosok laki-laki
dengan wajah yang sangat tampan dan berbadan tinggi meghampiri Adel yang
tergeletak. Lalu ia menganggat tubuh Adel dan berkata “Akhirnya kamu tumbang
juga.” Semua orang melihat dengan keheranan namun mereka tidak berkomentar lalu
pergi meninggalkan kerumunan.
Satu tahun yang lalu ...
Terjadi kecelakaan yang sangat luar biasa dasyatnya, antara mobil Adelia
dan mobil pembawa alat-alat berat. Sehingga membuat Adel lupa ingatan, dia
melupakan semua kenangannya tapi tidak dengan pelajarannya. Dia masih pintar
dan tentunya masih sangat cerdas. Namun, ia melupakan keluarganya, sanak
saudaranya dan teman-temannya.
Saat ia terbangun dari koma nya, Adel hanya melihat Ayah dan Ibunya saja
dan sosok laki-laki yang tampan di samping kedua orangtunya.
Adel tidak mengenali mereka pada awalnya lalu beberapa minggu kemudian ia
bisa mengingatnya sedikit-demi sedkit. Adel mulai melakukan aktivitas seperti
biasanya. Kuliah dan terus belajar dan mengajar. Walaupun awalnya ia agak
kesulitan untuk mengenali karakter dia sesungguhnya lama kelamaan ia kembali
seperti Adelia yang dulu.
Selama Adel belum mengingat semuanya Randi dengan sigap selalu membantunya,
dan tentunya mereka adalah sahabat terbaik.
Randi berusaha selalu ada untuk Adel dan mmebuat dia nyaman seolah-olah
tidak pernah terjadi apa-apa terhadapnya agar ia bisa melakukan aktivitasnya
dengan baik seperri dulu.
Seiring berjalannya waktu Adel mulai mengingat tentang keluarganya, namun
belum tentang Randi. Bunga tulip yang Randi bawa di ulang tahun Adel adalah
kesukaannya dari dulu, Randi selalu berusaha untuk mengingatkan Adel pada hal
yang romantisa yang pernah mereka lakukan bersama. Namun, semuanya tetap gagal.
Saaat kedua keluarga berlibur ke Bali Randi juga berusaha untuk membantu
Adel untuk mengingat tentang nya. Namun Adel tidak mengingatnya. Randi
memutuskan untuk pergi bukan untuk meninggalkan Adel. Dia hanya ingin tau apa
benar dia kehilangan rasa cinta utuk Randi.
Randi selalu mengikuti Adel kemanapun ia pergi namun ia tidak ingin Adel
tau itu, setiap hari Randi ada di rumahnya namun tidak untuk bertemu dengan
Adel.
Saat Adel terjatuh di jalan raya Randi sangat senang, karena sekian lama ia
tidak pernah menggendong Adel seperti itu setelah kecelakaan satu tahun yang
lalu itu.
Randi dan Adel adalah pasangan suami istri sebelumnya, mereka tidak
bercerai sama sekali setelah kejadian itu. Mereka pisah kamar dan pisah rumah.
Mereka tidak bisa bersama-sama berdua tapi Randi selalu mengusahakan itu.
Kedua orangtua mereka khawatir jika Adel tidak akan mengingat Randi
kembali, namun Randi selalu yakin jika cinta akan membawa ingatan Adel kembali.
Dan Randi membuktikan itu semua.
Setiap Hari Randi selalu berusha dan berdoa agar istrinya kembali dalam
pelukannya, agar setiap hari ia tidak menahan rindu terhadap perhatiannya. Dan
Allah berikan kembali semua ingatan Adel untuknya.
Saat Adel tersadar di sebuah rumah sakit, ia tidak sepenuhnya mengingat
namun bayangan-banyangan masa lalunya dan beberapa kenangan indah bersama Randi
membuat dia terisak.
Dan Mamahnya menghampiri Adel yang sedang terisak, seolah tau apa yang
sedang Adel pikirkan. “Sudahlah sayang, jangan menangis. Tidak ada yang perlu
di sesali, semuanay sudah takdir sang
maha kuasa. Anak mamah jangan cengeng ya.” Adel memeluk mamahnya dengan sangat
erat.
Ayahnya menjelaskan semua kejadian yang menimpa Adel satu tahun yang lalu,
dan Adel sangat terkejut jika Randi sahabat terbaiknya adalah suaminya sendiri.
Rasanya ia sangat merindukan Randi kala itu, mungkin karena sudah ada
kontak batin anatara mereka Randi segera menghampiri Adel dan Adel memeluk erat
tubuh Randi. Pelukan itu yang sangat Randi rindukan, Randi tak kuasa menahan
air matanya. Semuanya terasa menjadi satu, rasa sedih, rasa senang, rasa
bersyukur dan rasa kehilangan yang dulu ia rasakan sekarang telah pergi dengan sendirinya.
Adel sangat sedih karena sangat lambat menginat Randi, namun Randi tidak suka
tangisan Adel ia mengecup kening Adel dan menghapus air mata yang mengalir
dengan derasnya di pipi Adel.
Kedua orangtua mereka menyaksikan betapa berat perjuangan mereka dikala
mereka tidak bersama, teruatam untuk Randi karena ia yang mengingat semuanya.
Akhirnya mereka hidup bersama kembali.
“Tidak akan ada perjuangan yang
sia-sia, hanya butuh waktu untuk mendapatkan semuanya.”

Perjalanan ini memang melelahkan, tapi sesungguhnya, lelah itulah arti kehidupan yang sebenarnya
BalasHapusya begitulah hidup, jangan lupa bersyukur.
HapusWahhh semangat depou bagus sekalii
BalasHapusterimakasih aa mole 😁 kan keliatan berkunjungnya kalo komen ninggalin jejak🤣🤣🤣
HapusWahhh semangat depou bagus sekalii
BalasHapusWahhh semangat depou bagus sekalii
BalasHapus