Salah masuk ruangan ...
Wajah Carisa berubah seketika karena ia baru saja salah memasuki ruangan
kelas, tapi dia tidak berani untuk melihat wajah dosen yang berada di depannya.
Ia mendengarkan setiap kaliamat yang ia ucapkan namun tidak berani sedikitpun
ia melihat wajahnya. Rasa takut, rasa malu dan rasa kesal menyelimuti perasaan
Carisa.
Satu jam berlalu dan kelaspun selesai, namun saat Carisa akan keluar dosen
itu menahannya.
“Permisi mba, belum pernah belajar sopan santun ya?”
Seketika langkah kaki Carisa terhenti dan kembali duduk di kursinya. Rasa
malu yang sangat malu di rasakan Carisa saat itu. Ternyata dosen itu selalu
melakukan absen ulang setelah pembelajaran untuk menghindari kecurangan
mahasiswanya. Namun karena Carisa salah masuk kelas tentu namnya tidak ada dalam
daftar hadirnya.
“Ada yang belum di absen?” tanya dosen tampan dan gagah tersebut.
Carisa ragu untuk menganggkat kedua tangannya, namun tiba-tiba ...
“Mba yang di depan belum di absen ya? Siapa namanya? Murid baru ya?” tegas dosen tampan itu.
“Saya Carisa pak, saya salah masuk kelas.” Dengan wajah tertunduk malu.
Sontak semua orang yang berada diruangan tersebut menertawakannya. Dan
Carisa hanya bisa tertunduk menahan malu.
“Sudah-sudah, kenapa kamu tidak meminta izin untuk keluar dari kelas saya?
Dasar mahasiswi sekarang memang aneh ya.”
“Maaf pak saya takut mengganggu pelajaran kelas ini jadi saya ikut disini.”
“Ya sudah kamu boleh keluar. Awas jangan sampe kamu salah masuk kelas
lagi.”
“Baik pak, terimaksih banyak ya pak.”
Carisa bergegas meninggalkan ruangan itu dan mencari Lia. namun Lia tidak
juga ia temukan, saat ia sampai di ruangan kelas ia tidak melihat sahabatnya
itu. Carisa khawatir dengan hal itu, ia menelponnya namun tidak di jawab sama
sekali dan akhirnya Carisa memutuskan menungu nya.
Tiba-tiba datang orang yang menghampiri Carisa lalu memberikannya pelukan.
“Sa, kamu selamat kali ini.” Ujar Lia.
“Ya ampun Lia aku kira kamu kemana, abis dari mana?” tanya Carisa.
“Aku abis bilang ke dosen kita yang tadi ngajar kalo kamu salah masuk
ruangan terus aku kasih liat chating kita berdua.” Sembari tersenyum tipis.
“Lia, kamu ini sahabat terbaik aku. Maksih banyak ya. Ngomong-ngomong aku
bawa makan siang kita makna bareng yu. Sumpah aku laper banget.”
“Yuk, kita ke balkon aja kali ya.”
“Ok.”
Mereka berjalan berdua dengan sangat bahagia. Karena hari mereka tidak
seburuk yang telah dibayangkan.
Mereka menikmati makan siang dibalkon, mereka terlihat sangat senang dan
merasa bahagia. Masalah dengan dosen selesai dan makan siang gratisan ditambah dengan
suasana balkon yang sepi membuat rasa nyaman tersendiri.
Selesai menikmati makan siang mereka segera pulang karena tidak ingin
berlama-lama di kampus yang sedang sepi itu. Bagaimnaa tidak karena sebagian
mahasiwa memilih untuk berlibur daripada mengambil semester pendek.
Saat mereka akan meninggalkan kampus tiba-tiba pandangan Carisa tertuju
pada sosok yang sedang berdiam diri di samping mobil Avanza, sosok yang tidak
kalah tampan dengan dosen yang Carisa temui tadi pagi. Mungkin sosok itu sangat
pamiliar bagi Carisa namun ia tidak mengingat siapa dia. Dan Lia juga tidak
kenal dengan sosok laki-laki tersebut.
Carisa tidak memperdulikan sosok laki-laki tersebut, ia pulang kerumah lalu
bersih-bersih dan bersantai di depan rumahnya. Carisa merasa heran kenapa dosen
yang tadi ia temui ada di depan rumah Lia dan tentunya dengan laki-laki yang
berdiri di samping mobil Avanza. Terbesit dalam benak Carisa apa mungkin dia
mengikutinya karena dia salah masuk kelas namun semua pikiran itu ia hilangkan
dan segera masuk ke dalam rumah.
Tanpa terasa perkuliahan semester pendek telah selesai dan Carisa ingin
segera menyelesaikan kuliahnya, kedua orangtuanya sangat ingin Carisa
melanjutkan S2 namun Carisa bersikeras menolaknya ia ingin menikmati masa
mudanya untuk traveling dan tentunya sembari mencari sosok laki-laki yang
membisikan padanya “1% air 99% kenangan.” Yang membuat Carisa menyukai hujan.
Pertemuan kedua dengan dosen tampan ...
Carisa tidak tau kenapa ia harus
berjumpa dengan dosen itu di kedai yang biasa ia kunjungi, dan pada akhirnya ia
berbincang dengan dosen itu. Dalam hati Carisa (Ternyata dosen ini tidak secuek
di kelasnya) mereka menikmati kopi dan sedikit cemilan, karena pembahasan
mereka itu menyangkut perkuliahan jadi Carisa sedikit tidak canggung lagi
dengan dosen tampan itu.
David Pranata adalah nama dosen tampan itu, dia adalah dosen baru di kampus
Carisa. David di pindahkan karena kurangnya dosen yang mengajar di kampus
Carisa. David tinggal bersama adiknya Raihan Pranata, dosen itu banyak
bercerita tentang dia pribadi. Dan itu membuat Carisa sangat senang ya mungkin
sedikit menaruh hati pada dosen tampan itu.
Mungkin sangat aneh bagi orang yang baru pertemuan kedua sudah seakrab itu,
tapi mereka berdua bisa dibilang sangat akrab. Seperti layaknya teman lama yang
baru berjumpa kembali. Setelah mereka banyak berbincang akhirnya David mengajak
Carisa untuk pulang dan ia menawarkan Carisa untuk dia antar sampai rumah. Dan
tanpa berpikir panjang Carisa meng iya kan.
Selama perjalanan mereka lebih banyak lagi berbincang sampai-sampai mereka
tertawa terbahak. Setelah sampai di depan rumah Carisa, David bertanya kepada
Carisa apa ini rumahmu? Dan Carisa menjawab dengan singkat iya ini rumahku pak,
David tidak melanjutkan pertanyaan dia hanya bertanya satu pertanyaan dan seteLah
Carisa turun dari mobilnya ia berpamitan untuk pulang.
Carisa sangat senang karena ia bisa bertemu lagi dengan dosen tampan itu, hari
itu menjadi hari yang paling bermakna bagi Carisa. Karena untuk pertama kalinya ia berbincang
dengan dosen di kedai kopi dan sangat terlihat akrab satu sama lain.
David dan Carisa
semakin hari semakin dekat dan tentunya membuat Carisa berubah setiap harinya.
Hal itu membuat Lia sebagai sahabatnya heran, apa yang terjadi dengan Carisa
karena setiap di ajak untuk kumpul bersama teman-temannya dan bahkan di ajak
pulang bersamapun ia sering menolak.
Bukan sahabat namanya
jika tidak segera mengetahui jika sahabatnya itu sedang jatuh cinta, Lia
mengetahui kedektan antara David dan Carisa, karena David adalah saudara jauh dari Lia tentunya Lia tau
semuanya. Carisa hanya tau jika David adalah laki-laki yang baik dan perhatian
namun ia akan tunangan dengan anak dari sahabat Ayahnya. Awalnya Lia tidak
ingin memberitahukan itu semua kepada Carisa, namun Lia lebih tidak tega lagi
melihat sahabatnya harus merasakan
sakit hati dikemudian harinya.
Lia memberanikan diri
untuk memberitahukan semuanya walaupun dia tau jika semua itu akan membuat sahabatnya terluka. Karena
memang sebelumnya Carisa tidak pernah dekat dengan laki-laki sampai seakrab
itu.
Siang menuju sore Lia berkunjung kerumah Carisa dan mereka banyak bebincang di kamar Carisa. Namun tiba-tiba Lia
diam dan Carisapun diam, tidak ada yang memulai pembicaraan dan akhirnya Carisa
membuka suara.
“Lia, kamu tau kan pak David dosen yang aku bilang ganteng banget.”
“Ya, tentu kan kamu tau sendiri aku sodaranya.”dengan nada bicara sangat
berbeda dari biasanya.
“Kamu ngga suka ya? Aku deket sama dia?” tanya Carisa dengan nada memelas.
“Bukan aku ngga suka. Sa, dia memang baik, aku tau dia tampan, aku juga tau
kamu suka kan sama dia. Aku tau ini akan membuat kamu terkejut, sa plis jauhin
dia. Dia akan tunangan tahun ini dengan anak dari rekan ayahnya. Aku juga
awalnya ngga tau, tapi aku denger papahku ngobrol sama Om Hans di telpon mereka
membicarakan hal itu.” Sembari menundukan kepala.
“Terus aku harus apa? Aku terlanjur suka sama dia, aku nyaman sama dia.”sembari
terisak.
“Sa, aku tau ini pasti sakit banget. Tapi, keputusan ada di tangan Pak
David ia akan memilih kamu atau calon tunangannya. Aku berharap kamu bisa
lupain dia jika memang dia memilih calon tunangannya.”
“Aku baru mengenal dia, aku baru aja memulai kencan dengan dia. Kenapa kamu
tega hancurin semuanya.”
“Sa, maafin aku. Aku Cuma kasih tau ini. Dan kamu harus inget Sa, dia dosen
kita.”
Lia pun berpamitan setelah ia memebritahukan semuanya, ada rasa canggung
namun sudah lah memang seharusnya ia lakukan itu.
Selama satu bulan Carisa tidak bertemu dengan Lia, dan tentunya sangat
membuat ia khawatir. Telpon Lia tidak pernah aktif dan rumahnyapun nampak sepi.
Carisa menemui Pak David namun ia pun tidak ada. Rasanya ia kehilangan
semuanya, namun Carisa segera menelpon Pak David dan ia menjawabnya dengan
singkat. “Iya sa, maaf saya sedang ada acara keluarga. Saya minta maaf saya
akan bertunangan hari ini.” Carisa berdiri mematung di depan kampusnya rasa
sakit hati itu datang lagi. Carisa menangis sejadi-jadinya dan meminta Mamahnya
untuk menjemput dia di kampus. Karena ia tidak mau orang lain tau jika ia
sedang bersedih.
Saat Mamahnya datang Carisa langsung naik ke mobil dan menutup wajahnya
dengan tisu yang ada di mobil. Sangat jelas Mamahnya khawatir akan hal itu, lalu
Mamahnya mulai bertanya.
“Sayang, kamu kenapa?” dengan nda yang begitu lembut dan halus.
“Mah, ko Pak David tega banget ya sama aku.” Sembari terisak.
“Emang kenapa?”
“Mah, dia hari ini tunangan. Aku kira memang dia single dan dia baik banget
sama aku mah, dia perhatian, dia selalu manjain aku tapi kenapa dia tungan sama
wanita lain.?”
“Sa, laki-laki yang perhatian ke kamu, laki-laki yang sayang sama
kamu, yang manjain kamu, yang baik sama
kamu belum tentu dia itu mencintai kamu dan ingin memiliki kamu. Karena tugas
kita sejatinya untuk berbuat baik kepada orang lain dan membuat orang lain
bahagia. Apa yang kamu rasakan adalah bagian dari kebaikan saja. Kamu yang
terlalu menyikapi dengan perasaan, kamu mengganggap semuanya terlalu
berlebihan. Mamah udah denger kamu ngobrol sama Lia, Mama tau kamu sakit hati
saat itu. Tapi Lia itu sudah melakukan hal yang terbaik buat kamu.” Sembari mengelus
kepala Carisa.
Mamah Carisa membawa mobil dengan sangat laju menuju kantor suaminya, untuk
menanyakan sesuatu yang ingin sekali ia tanyakan dari kemarin.
Mamah Carisa menelpon suaminya untuk keluar kantornya dan menemuainya di
Cafe dekat kantornya.
Perbincangan seriuspun dimulai.
“Pah, mama mau tanya. Papah tau ngga keluarga Hans?”
“Ya jelas papa tau mas, mereka kan yang punya saham terbanyak. Dan Papa
juga denger anak pertamanya akan tunangan hari ini dengan Lia tetangga kita.”
“Loh, ko papa tau? Mamah ngga tau.”
“Ya itu kan bukan urusan kita juga mah, mereka tungan di Jakarta. Tapi
kenapa mamah tanya itu?” sedikit heran.
“Ya, Cuma pengen tau ajh pah. Terus emang ayahnya Lia itu sahabatnya
keluarga Hans pah?”
“Iya mah, mereka itu sahabat baik dari dulu. Ada lagi pertanyaan istriku?”
sedikit menggoda sang istri.
“Ngga ada pah, anak kita sempat dekat dengan anak pertama keluarga Hans,
dia dosen di kampusnya Carisa. mereka sempat jalan tapi mamah juga ngga tau
udah sampai mana hubungan mereka. Dan sekarang Carisa di mobil lagi nangis.”
“Bawa dia pulang, buatin dia makanan kesukaannya beliin coklat juga yang
banyak. Biar dia lupa sakit hatinya.” Dengan nada sangat khawatir.
“Iya pah, mamah mpamit ya.”
Carisa dan mamahnya segera pulang sampai di rumah mereka langsung sangat
sibuk membuat kreasi, karena itu cara ambuh membuat sang buah hati bahagia.
Sedikit demi sedikit Carisa melupakan rasa sakitnya, ternyata ia sudah
terlalu jauh melukana cintanya yang dulu. Seseorang yang membisikan kepada dia
tentang hujan, dan akhirnya Carisa baru ingat tentang adiknya Pak David yang ia
lihat saat pulang kuliah. Ia memiliki hobi yang sama ia suka hujan.
Sebuah petunjuk membuat petunjuk lain berdatangan ....
Carisa mencari nama dari Raihan Pranata, walaupun aagak sedikit sulit namun
karena Ayahnya mengenal keluarga Hans Pranata ia segera membantu anaknya yang
sedang menacari informasi mengenai Raihan, informasi yang Carisa dapatkan hari
itu snagat membantu dan tentunya ia memberitahukan kepda sahabatnya Lia.
Awalnya mereka snagat canggung karena Lia tidak mengatakan yang sejujurnya
kepada Carisa namun Carisa memahami hal itu, karena dengan Lia memperigatkan
dia untuk melupakan Pak David saja sudah sangat berarti.
Mereka berbincang panjang kali lebar di taman depan rumah Lia. Pertanyaan
yang selama ini dia tanyakan akhirnya terjawab, Lia tidak sengaja menemukan
photo Carisa yang masih kecil di kamar Raihan calon adik iparnya. Lia
menceritakan semuanya dan ternyata mereka berdua sama-sama mencari. Riahan
sedang kuliah S2 di jakarta dan ia tidak bisa ikut dengan kakanya untuk datang
ke Semarang lagi. Rasa bahagia menyelimuti Cariasa dan pada akhirnya Lia dan
Carisa kembali bersahabat dengan baik karena natinya mereka akan menjadi
keluarga.
Perjalan yang sungguh luar biasa bagi Carisa dan Raihan untuk saling
bertemu kembali. Mungkin memang sudah jalannya mereka harus melalui beberapa
proses, dan Carisa sangat senang ternyata saat ia melihat Raihan sepulang
kuliah ia sudah mengenalinya. Sedangkan Carisa tidak mengenalinya karena Raihan
berubah dari yang dulu. Dulu dia sangat gemuk dan tentunya lucu dan karena
mereka tidak saling mengenal jadi sangat sulit menemukan satu sama lain. Raihan
hanya bermodalkan photo Carisa sat kecil dan Carisa hanya mempunyai kenangan di
bawah hujan (1% air 99% kenangan).
Setelah kelulusan Carisa Raihan menemuinya dan langsung melamar wanita
pujaan hatinya, yang sudah sangat lama ia cintai. Tentunya Pak David selaku
kaka dari Raihan sangat setuju dengan pernikahan mereka. Agar segera bahagia
seperti dirinya dengan Lia sahabat Carisa. David meminta maaf kepada Carisa
soal masa lalu yang mungkin sangat sulit ia lupakan.
David hidup bahagia dengan Lia, dan Carisa bersama dengan Raihan.
Selesai...
Maaf membuat kalian menungu terlalu lama. Heheheh

Akhirnya happy ending 😊
BalasHapuskasian yang baca blog aku. masa ceritanya sad ending tereus dikira aku menyedihkan ntar heheheeh
Hapus