Senin, 04 Mei 2020

14 sakit hati yang luar biasa


Sakit Hati Yang Luar Biasa




 Malam yang begitu indah, walaupun tidak ada bulan menyinari tapi setidaknya ada sosok seseorang yang memancarkan sinarnya. Mungkin ini adalah sebuah kisah yang sangat luar biasa membuat hati sakit dan teramat kecewa. Aku selalu berusaha untuk tidak mencintai atau menyukai sesuatu secara berlebihan tapi dalam kenyataan pasti semua orang dan bukan hanya aku pernah merasakan hal yang sama.


            Aku bekerja disebuah perusahan swasta di daerah medan, sudah 3 tahun aku bekerja disana dan aku tinggal bersama satu rekan kerja namanya risa. Dia memang asli malang dan aku sangat senang berbagi sesuatu kepadanya termasuk bercerita tentang urusan hati, dia selalu jadi pakar nya.

            Dan ini menjadi awal pertemuan aku dengan seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dia begitu tampan dan ya tentu sangat cocok disebut sebagai pria idaman. Rasanya sangat luar biasa senang dan membuah hati ini berbunga-bunga ketika pertama kali melihatnya. Aku pertama melihatnya ketika tarawih pertama di musola dekat kontrakanku, saat itu aku berada dibaris kedua sebelah kanan dan saat dia merapikan barisan sebelum melaksanakan sholat isya. Itu adalah pertama kali aku melihatnya, saat dia berbalik menghadap makmumnya hatiku menjadi berdebar dan jantungku bertetak sangat kencang, sampai-sampai ketika sholat rasanya aku ingin memeluk temanku yang berada disampingku. Rasanya sangat bahagia dan aku mengira aku telah jatuh cinta kepada imam itu.

            Sudah satu minggu dia menjadi imam tarawih tapi sayangnya aku belum tau namanya siapa, akhirnya selepas sahur aku sengaja menuju musola dan melaksanakan sholat subuh berjamaah, disana aku meliahatnya kembali rasanya sangat bahagia sekali. Dari sana aku lebih rajin sholat subuh di mosala dan temanku tentunya penasaran apa yang membuatku seperti itu, tepat hari ke 4 aku sholat subuh di musola temankupun ikut denganku. Saat pulang temanku bertanya kepadaku kenapa aku melakukan hal seperti ini lalu aku ceritakan semuanya kepadanya jika aku sedang jatuh cinta kepada imam sholat itu.

            Bukan teman namanya jika tidak mau menolong bukan? saat risa keluar untuk membeli sesuatu ke warung dia bertemu imam sholat itu, dengan sopan risa bertanya kepada imam itu.

“ permisi mas.!”
“ iya kenapa mba?”
“ mas pendatang ya?”
“ iya mba saya baru pindahan, baru sebulan si sini. Kenapa ya mba?”
“ ngga mas, maaf mas saya mau tanya boleh ngga ?”
“ tentu boleh mba, ada apa ya ?”
“ nama mas siapa ya?”
“ saya fahmi, saya dari bandung.”
“ oh gitu, tinggal dimana mas?”
“ saya tinggal di kontrakan depan mba. Kenapa ya ko saya berasa sedang diwawancarai.” Semabari sedikit senyum.
“ ngga apa-apa sih mas, Cuma pengen tau aja soalnya asing mukanya.” Sembari sedikit tertawa
“ oh gitu maaf ya mba saya duluan.”
“ eh iya mas.”
Setelah mendapatkan informasi terntunya akan melapor kepada orang yang membutuhkan informasi.
“ zihan!”
“ iya opo ris?”
“ ngga usah kaya orang jawa apa zi.”
“ hehehe iya iya, kenapa?”
“ namanya si imam itu fahmi dia dari bandung baru pindahan terus dia baru sebulan disini laporan selesai!”
“ ris, bisa kan pelan-pelan pake koma gitu ngomongnya!”
“ iya zihan maaf ya maaf abisnya aku pengen pipis, dah ya dadah.” Sembari berlari ke kamar mandi.

Rasanya seperti mimpi saja, saat akan berangkat kerja aku bertemu dengan imam itu. Dia sedang mengenakan sepatu di depan kontrakannya, dan dia sangat tampan dengan kemeja putih dan dasi polkadot,  dan tanpa sadar aku melihatnya terlalu dalam dan aku baru sadar ketika dia memanggilku.

“ mba! Mba! Mba!”
“ eh iya mas, maaf.”

Aku berjalan terburu-buru dengan sedikit mengangkat rok yang aku kenakan karena kebetulan aku memakai rok yang sedikit sempit dan agak sulit dipakai untuk berjalan. Akhirnya aku sampai di tepat kerja dengan perasaan yang masih berdebar-debar dan rasa malu yang berkepanjangan. Dalam hatiku kenapa sih aku harus liat imam itu pagi-pagi, dan kenapa aku liatin dia segitunya. Malu kan jadinya.

“ zihan! Kamu kenapa sih kaya buru-buru gitu?”
“ kamu ko ngga nunggu aku?”
“ ya kan aku bilang aku duluan soalnya ada kerjaan yang belum kelar kemarin nanti bu bos ngomel kalo telat ngasih laporannya.”
“ aku takut telat tau.”
“ ya elah santai lah zi, bisa nego kalo Cuma sekali doang mah.”

Tempat kerjaku memang sangat dekat jika berjalan kaki bisa, tapi kalo udah mau telat pasti naik angkot sedikit, ya muter-muter dikit sih sebetulnya tapi ya dinikmati saja, karena kontrakan itu yang paling nyaman dan paling enak buat dipape mabar sama temen kerja dan juga murmer. Setiap pagi kadang aku berharab bertemu dengan imam itu tapi sayangnya tidak pernah lagi kecuali ketiak sholat di mesjid baru ketemu dan hanya sekilas saja. Mungkin aku sangat berlebihan kepadanya saat pertemuan di pagi saat aku akan berangkat kerja. Tapi jujur aku sangat terkejut kala itu, dan tentunya sangat malu. Mungkin aku berjodoh dengannya, dan mungkin ini adalah cintaku dan dia adalah pendampingku.

Semakin hari aku semakin yakin jatuh cinta kepada mas fahmi, aku selalu tersipu ketika melihanya, jantungku selalu berdetak kencang ketik melihatnya. Karena kita sering bertemu ketika pulang tarawih, akhirnya aku lebih sering berbincang atau hanya sekedar saling menyapa saja sepulang dari musola. Bukan hanya samapai tahap saling menyapa tapi kita bertukar no telpon dengan alasan agar aku bisa meminta tolong kepadanya tanpa harus aku ke kontrakannya. Memang saat itu aku pernah meminta tolong dia membawakan air galon ke kontrakanku, kadang memasangkan gas, dan kran air mati. Semakin sering aku berhubungan dengannya rasanya semakin nyaman. Setiap aku melihatnya aku sekalin bahagia semakin lama akui mendengar suaranya semakin aku terpana olehnya dan  aku semakin jatuh hati kepadanya, suaranya ketika membacakan surat al-fatihah suara dia ketika dia membaca doa selepas sholat rasanya semakin membuat hati ini ingin segera memilikinya, ingin mengutarakan tapi takut menjadi canggung nantinya.

Tepat dihari ulang tahunku, ntah siapa yang memberitahukan mas fahmi jika aku ulang tahun dihari itu, tapi ada perasaan senang di dalam hatiku, dia memberiku ucapan selamat ulang tahun ketika aku akan berangkat kerja hari itu. Kami sering bercanda ketika saling betemu, kadang aku bernagkat kerja bersamanya. Mungkin semua orang mengira aku dan dia berpacaran tapi kenyataannya kami hanya sekedar dekat. Tak jarang tetangga membahas kami, ada yang bilang cocok lah, buruan nikah aja serasi dan lain sebagianya. Darisana aku semakin berbunga-bunga, rasanya tak ada hal lain yang ada di dalam pikiran dan hatiku, disana hanya ada mas fahmi.

Namun saat menjelang h-5 lebaran, aku melihat mas fahmi membawa satu tas plastik berisikan susu dan peralatan bayi, awalnya aku mengira dia kedatangan tamu dari bandung tapi tenyata dia sudah beristri dan mempunyai anak. Saat hari itu hatiku hancur, rasa kecewa menyelimuti hati, dada terasa sangat sesak, ingin meangis tapi rasanya untuk apa menangis dia bukan milikku, dia sudah beristri di usia dia baru 26 tahun. Aku mengira dia masih lajang, aku kira dia terbaik untukku, aku meanngis sejadi-jadi kepada temanku. Aku ceritakan semuanya kepadanya, kenapa aku harus mengenal mas fahmi, kenapa aku harus dekat dengannya, kenapa aku harus jatuh hati kepada laki-laki yan sudah beristri.

Penyesalan demi penyesalan aku rasakan sebelum aku pulang ke jakarta. Aku menyesal menyimpan rasa cinta ini untuk mas fahmi. Cinta memang tak pernah salah tapi manusianya saja yang tidak bisa menempatkan cinta itu sendiri. Aku sedikit menyalahkan mas fahmi akan hal ini sampai aku mengirimi dia pesan.

“ mas, kenapa kamu tidak jujur kepadaku dari awal? Apa sangat sulit jujur kepada zihan? Terimaksih mas untuk semuanya.”

Aku tidak berpamitan kepada mas fahmi sebelum aku pulang, aku pulang dengan rasa sakit hati yang luar biasa di hati. Kenapa hati ini harus menyimpan rasa kepada dia yang sudah beristri, aku tidak mengira semua akan berakhir seperti ini, aku mengira dia terbaik untukku, aku kira dia memang jodoh untukku, setiap kali aku melihatnya setiap kali aku mendengar dia membaca doa selepas sholat rasa-rasnya aku ingin dia berdoa jika aku adalah jodohnya kelak. Tapi, aku sudah salah besar semua hanya anganku semua hanya sebatas keinginan karena dia sudah menemukan belahan jiwanya.

Sampai di jakarta aku membuka pesan dari mas fahmi, karena aku sengaja tidak membacanya saat di perjalanan aku takut hal yang tidak aku inginkan terjadi.

“ zihan, maaf bukan maksud saya untuk tidak berkata jujur. Tapi, memang kamu tidak pernah bertanya kepada saya. Saya memberikan perhatian karena saya anggap zihan seperti adik saya sendiri.”
“ mas, maaf jika zihan lancang telah mencintai mas fahmi dari awal pertemuan kita di sholat tarawih pertama. Zihan minta maaf.”
“ astaghfirullah, kenapa zihan tidak berbicara dari awal?”
“ maksudnya?”
“ iya jika zihan bicara kepada saya lebih awal mungkin zihan tak akan sekecewa sekarang bukan?”
“ iya mas, zihan minta maaf.”
“ tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena saya tidak jujur soal status saya.”

Aku tidak melanjutkan percakapan dengannya karena rasanya sangat sakit mencintai seorang laki-laki namun sebelum aku merasakan balasan cintanya aku sudah terlebih dahulu sakit hati. Dan dari sana aku mengambil hikmah bahwa setiap orang boleh mencintai tapi harus menempatkannya dengan baik dan jangan sampai berlebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

.
.
.
Tamat.

“ suka lah sewajarnya, bencilah sewajarnya. Jangan berlebih-lebihan!”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LUKAKU

Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin terlahir ke dunia ini. menjadi anak pertama sekaligus kaka dari kedua adikku adalah hal y...