Sakit Hati Yang Luar Biasa
Malam yang begitu indah, walaupun tidak ada bulan
menyinari tapi setidaknya ada sosok seseorang yang memancarkan sinarnya.
Mungkin ini adalah sebuah kisah yang sangat luar biasa membuat hati sakit dan
teramat kecewa. Aku selalu berusaha untuk tidak mencintai atau menyukai sesuatu
secara berlebihan tapi dalam kenyataan pasti semua orang dan bukan hanya aku
pernah merasakan hal yang sama.
Aku bekerja disebuah
perusahan swasta di daerah medan, sudah 3 tahun aku bekerja disana dan aku
tinggal bersama satu rekan kerja namanya risa. Dia memang asli malang dan aku
sangat senang berbagi sesuatu kepadanya termasuk bercerita tentang urusan hati,
dia selalu jadi pakar nya.
Dan ini menjadi awal
pertemuan aku dengan seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dia
begitu tampan dan ya tentu sangat cocok disebut sebagai pria idaman. Rasanya
sangat luar biasa senang dan membuah hati ini berbunga-bunga ketika pertama
kali melihatnya. Aku pertama melihatnya ketika tarawih pertama di musola dekat
kontrakanku, saat itu aku berada dibaris kedua sebelah kanan dan saat dia
merapikan barisan sebelum melaksanakan sholat isya. Itu adalah pertama kali aku
melihatnya, saat dia berbalik menghadap makmumnya hatiku menjadi berdebar dan
jantungku bertetak sangat kencang, sampai-sampai ketika sholat rasanya aku
ingin memeluk temanku yang berada disampingku. Rasanya sangat bahagia dan aku
mengira aku telah jatuh cinta kepada imam itu.
Sudah satu minggu dia
menjadi imam tarawih tapi sayangnya aku belum tau namanya siapa, akhirnya
selepas sahur aku sengaja menuju musola dan melaksanakan sholat subuh
berjamaah, disana aku meliahatnya kembali rasanya sangat bahagia sekali. Dari
sana aku lebih rajin sholat subuh di mosala dan temanku tentunya penasaran apa
yang membuatku seperti itu, tepat hari ke 4 aku sholat subuh di musola temankupun
ikut denganku. Saat pulang temanku bertanya kepadaku kenapa aku melakukan hal
seperti ini lalu aku ceritakan semuanya kepadanya jika aku sedang jatuh cinta
kepada imam sholat itu.
Bukan teman namanya jika
tidak mau menolong bukan? saat risa keluar untuk membeli sesuatu ke warung dia
bertemu imam sholat itu, dengan sopan risa bertanya kepada imam itu.
“ permisi mas.!”
“ iya kenapa mba?”
“ mas pendatang ya?”
“ iya mba saya baru pindahan, baru sebulan si sini. Kenapa ya mba?”
“ ngga mas, maaf mas saya mau tanya boleh ngga ?”
“ tentu boleh mba, ada apa ya ?”
“ nama mas siapa ya?”
“ saya fahmi, saya dari bandung.”
“ oh gitu, tinggal dimana mas?”
“ saya tinggal di kontrakan depan mba. Kenapa ya ko saya berasa sedang
diwawancarai.” Semabari sedikit senyum.
“ ngga apa-apa sih mas, Cuma pengen tau aja soalnya asing mukanya.” Sembari
sedikit tertawa
“ oh gitu maaf ya mba saya duluan.”
“ eh iya mas.”
Setelah mendapatkan informasi terntunya akan melapor kepada orang yang
membutuhkan informasi.
“ zihan!”
“ iya opo ris?”
“ ngga usah kaya orang jawa apa zi.”
“ hehehe iya iya, kenapa?”
“ namanya si imam itu fahmi dia dari bandung baru pindahan terus dia baru
sebulan disini laporan selesai!”
“ ris, bisa kan pelan-pelan pake koma gitu ngomongnya!”
“ iya zihan maaf ya maaf abisnya aku pengen pipis, dah ya dadah.” Sembari
berlari ke kamar mandi.
Rasanya seperti mimpi saja, saat akan berangkat kerja aku bertemu dengan
imam itu. Dia sedang mengenakan sepatu di depan kontrakannya, dan dia sangat
tampan dengan kemeja putih dan dasi polkadot,
dan tanpa sadar aku melihatnya terlalu dalam dan aku baru sadar ketika
dia memanggilku.
“ mba! Mba! Mba!”
“ eh iya mas, maaf.”
Aku berjalan terburu-buru dengan sedikit mengangkat rok yang aku kenakan
karena kebetulan aku memakai rok yang sedikit sempit dan agak sulit dipakai
untuk berjalan. Akhirnya aku sampai di tepat kerja dengan perasaan yang masih
berdebar-debar dan rasa malu yang berkepanjangan. Dalam hatiku kenapa sih aku
harus liat imam itu pagi-pagi, dan kenapa aku liatin dia segitunya. Malu kan
jadinya.
“ zihan! Kamu kenapa sih kaya buru-buru gitu?”
“ kamu ko ngga nunggu aku?”
“ ya kan aku bilang aku duluan soalnya ada kerjaan yang belum kelar kemarin
nanti bu bos ngomel kalo telat ngasih laporannya.”
“ aku takut telat tau.”
“ ya elah santai lah zi, bisa nego kalo Cuma sekali doang mah.”
Tempat kerjaku memang sangat dekat jika berjalan kaki bisa, tapi kalo udah
mau telat pasti naik angkot sedikit, ya muter-muter dikit sih sebetulnya tapi
ya dinikmati saja, karena kontrakan itu yang paling nyaman dan paling enak buat
dipape mabar sama temen kerja dan juga murmer. Setiap pagi kadang aku berharab
bertemu dengan imam itu tapi sayangnya tidak pernah lagi kecuali ketiak sholat
di mesjid baru ketemu dan hanya sekilas saja. Mungkin aku sangat berlebihan
kepadanya saat pertemuan di pagi saat aku akan berangkat kerja. Tapi jujur aku
sangat terkejut kala itu, dan tentunya sangat malu. Mungkin aku berjodoh
dengannya, dan mungkin ini adalah cintaku dan dia adalah pendampingku.
Semakin hari aku semakin yakin jatuh cinta kepada mas fahmi, aku selalu
tersipu ketika melihanya, jantungku selalu berdetak kencang ketik melihatnya.
Karena kita sering bertemu ketika pulang tarawih, akhirnya aku lebih sering
berbincang atau hanya sekedar saling menyapa saja sepulang dari musola. Bukan
hanya samapai tahap saling menyapa tapi kita bertukar no telpon dengan alasan
agar aku bisa meminta tolong kepadanya tanpa harus aku ke kontrakannya. Memang
saat itu aku pernah meminta tolong dia membawakan air galon ke kontrakanku,
kadang memasangkan gas, dan kran air mati. Semakin sering aku berhubungan
dengannya rasanya semakin nyaman. Setiap aku melihatnya aku sekalin bahagia
semakin lama akui mendengar suaranya semakin aku terpana olehnya dan aku semakin jatuh hati kepadanya, suaranya
ketika membacakan surat al-fatihah suara dia ketika dia membaca doa selepas
sholat rasanya semakin membuat hati ini ingin segera memilikinya, ingin
mengutarakan tapi takut menjadi canggung nantinya.
Tepat dihari ulang tahunku, ntah siapa yang memberitahukan mas fahmi jika
aku ulang tahun dihari itu, tapi ada perasaan senang di dalam hatiku, dia
memberiku ucapan selamat ulang tahun ketika aku akan berangkat kerja hari itu.
Kami sering bercanda ketika saling betemu, kadang aku bernagkat kerja
bersamanya. Mungkin semua orang mengira aku dan dia berpacaran tapi kenyataannya
kami hanya sekedar dekat. Tak jarang tetangga membahas kami, ada yang bilang
cocok lah, buruan nikah aja serasi dan lain sebagianya. Darisana aku semakin
berbunga-bunga, rasanya tak ada hal lain yang ada di dalam pikiran dan hatiku,
disana hanya ada mas fahmi.
Namun saat menjelang h-5 lebaran, aku melihat mas fahmi membawa satu tas
plastik berisikan susu dan peralatan bayi, awalnya aku mengira dia kedatangan
tamu dari bandung tapi tenyata dia sudah beristri dan mempunyai anak. Saat hari
itu hatiku hancur, rasa kecewa menyelimuti hati, dada terasa sangat sesak,
ingin meangis tapi rasanya untuk apa menangis dia bukan milikku, dia sudah
beristri di usia dia baru 26 tahun. Aku mengira dia masih lajang, aku kira dia
terbaik untukku, aku meanngis sejadi-jadi kepada temanku. Aku ceritakan
semuanya kepadanya, kenapa aku harus mengenal mas fahmi, kenapa aku harus dekat
dengannya, kenapa aku harus jatuh hati kepada laki-laki yan sudah beristri.
Penyesalan demi penyesalan aku rasakan sebelum aku pulang ke jakarta. Aku
menyesal menyimpan rasa cinta ini untuk mas fahmi. Cinta memang tak pernah
salah tapi manusianya saja yang tidak bisa menempatkan cinta itu sendiri. Aku
sedikit menyalahkan mas fahmi akan hal ini sampai aku mengirimi dia pesan.
“ mas, kenapa kamu tidak jujur kepadaku dari awal? Apa sangat sulit jujur
kepada zihan? Terimaksih mas untuk semuanya.”
Aku tidak berpamitan kepada mas fahmi sebelum aku pulang, aku pulang dengan
rasa sakit hati yang luar biasa di hati. Kenapa hati ini harus menyimpan rasa
kepada dia yang sudah beristri, aku tidak mengira semua akan berakhir seperti
ini, aku mengira dia terbaik untukku, aku kira dia memang jodoh untukku, setiap
kali aku melihatnya setiap kali aku mendengar dia membaca doa selepas sholat
rasa-rasnya aku ingin dia berdoa jika aku adalah jodohnya kelak. Tapi, aku
sudah salah besar semua hanya anganku semua hanya sebatas keinginan karena dia
sudah menemukan belahan jiwanya.
Sampai di jakarta aku membuka pesan dari mas fahmi, karena aku sengaja
tidak membacanya saat di perjalanan aku takut hal yang tidak aku inginkan
terjadi.
“ zihan, maaf bukan maksud saya untuk tidak berkata jujur. Tapi, memang
kamu tidak pernah bertanya kepada saya. Saya memberikan perhatian karena saya
anggap zihan seperti adik saya sendiri.”
“ mas, maaf jika zihan lancang telah mencintai mas fahmi dari awal
pertemuan kita di sholat tarawih pertama. Zihan minta maaf.”
“ astaghfirullah, kenapa zihan tidak berbicara dari awal?”
“ maksudnya?”
“ iya jika zihan bicara kepada saya lebih awal mungkin zihan tak akan
sekecewa sekarang bukan?”
“ iya mas, zihan minta maaf.”
“ tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena saya tidak jujur soal status
saya.”
Aku tidak melanjutkan percakapan dengannya karena rasanya sangat sakit
mencintai seorang laki-laki namun sebelum aku merasakan balasan cintanya aku
sudah terlebih dahulu sakit hati. Dan dari sana aku mengambil hikmah bahwa setiap
orang boleh mencintai tapi harus menempatkannya dengan baik dan jangan sampai berlebihan, karena segala sesuatu yang
berlebihan itu tidak baik.
.
.
.
Tamat.
“ suka lah sewajarnya, bencilah
sewajarnya. Jangan berlebih-lebihan!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar