JANGAN PERNAH SALAH MENYIMPULKAN
|
Aku adalah seorang dokter, usiaku saat ini adalah 26 tahun dan saya tidak
bisa menikah karena saya tidak menarik di mata semua laki-laki di luar sana.
Aku bingung dengan semua yang terjadi kepadaku. Bercermin setiap hari
meliaht diriku yang hanya bisa diam membisu di kursi roda, aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Aku kehilangan pekerjaanku, aku kehilangan teman-temanku, aku
kehilangan orang yang aku sayangi, aku kehilangan indra perasaku, aku
kehilangan suaraku, aku kehilangan segalanya.
Terjadi kecelakan beruntut yang menewaskan 21 orang, 43 luka-luka dan 13
cacat seumur hidup, dan aku adalah salah satu dari korban itu. Malam itu hujan
sangatlah deras, aku bergegas pulang karena aku mempunyai janji dengan calon
sumiku, aku akan menikah satu bulan lagi kala itu. Aku selalu mengutamakan
hubungan kami karena aku pernah gagal pada masanya. Aku tidak ingin kejadian
dulu terulang lagi, karena aku terlalu fokus dengan karirku.
Hari itu, aku meminta rekanku menggantikan jadwalku untuk melakukan operasi
tumor. Aku sangat senang malam itu, aku membawakan kopi kesukaan calon suamiku.
Aku sangat bahagia, saat dalam perjalanan aku sempat bertukar pesan dengan
kakaku dan calon suamiku. Namun selang beberapa saat setelah itu, ada sebuah
mobil yang mendekat kepadaku, dengan kecepatan yang sangat tigggi dan aku tidak
ingat apa yang terjadi denganku malam itu, namun saat aku terbangun aku sudah
tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku tidak bisa berbicara dan aku tidak bisa
berjalan.
Betapa aku terkejut dan aku snagat kecewa kepada diriku, kenapa aku harus
melewati jalan itu kala hujan, kenapa aku meminta calon suamiku untuk mengganti
tempat kita berkencan, rasa bersalah terus menyelimutiku setiap saat, satu
persatu keluargaku meninggalkanku kecuali kakaku, ia menemaniku sampai aku
boleh keluar darirumah sakit.
Aku tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara dan tidak bisa berjalan.
Bayangkan betapa sulitnya kakaku mengurus orang yang sakit sepertiku, aku sering
menangis dalam malamku ketika kakaku membawaku kekamar tidur dan memapahku
menuju tempat tidur.
Malam itu serasa menjadi akhir dari segalanya.
Satu minggu aku di rumah tiba-tiba keluarga Mas Alam menemuiku dan
membatalkan pernikahanku dengannya, mereka sepertinya memarahi kakaku karena
terlihat wajah mereka sangat kesal kepada kakaku. Aku sangat kecewa namun ini
adalah ujian dari Tuhan untukku, aku harus melewati semuanya dengan penuh
kesabaran dan rasa syukur.
Aku menghabiskan waktu di rumah, kakaku selalu mempersiapkan apa yang akan
aku butuhkan, karena ia akan bekerja sampai sore. Aku bisa melihat mobil dan
motor di jalan dari balik jendela ruang keluargaku. Aku hanya bisa tersenyum
dan sedikit belajar bahasa isyarat dengan kakaku. Pada awalnya aku merasa
sangat sulit dan aku ingin mundur tapi kakaku selalu membantuku untuk terus
berusaha dan bangkit.
Dulu saat aku kuliah, semua orang sangat baik kepadaku. Mereka selalu
menyapaku, semua orang sangat menyeganiku dan selalu memintaku untuk membantu
mereka belajar ataupun menyemangati mereka secara langsung atau bahkan melalaui
wabku. Aku menjadi motivator mereka sampai aku menjadi dokterpun aku sangat di
segani oleh banyak orang, pasienku selalu ada yang menintaku untuk mambantu
masalah mereka. Walaupun bukan urusanku sebagai dokter namun saranku setidaknya
bisa membantu mereka menemukan solusi dan mengobati stres yang mereka alami.
Tidak ada waktu untuk aku bermain-main dengan waktu, aku selalu
memanfaatkan waktuku untuk terus bekerja dan bekerja, aku bekerja bukan hanya
di 1 rumah sakit aku bekerja di 2 rumah sakit dan aku bisa menjadwalkan
semuanya dengan baik, karena aku sangat kompoten dalam segala hal.
Aku senang banyak orang suka padaku, aku bangka ketika aku berjalan di
koridor rumah sakit, aku bangga saat aku berjalan dari parkiran mobil menuju
ruanganku.
“ Selamat Pagi Doker Icha.”
Aku selalu senang mereka menyapaku dengan sangat santun dan baik sekali.
Hariku rasanya sangat bermakna dengan dikelilingi orang yang baik kepadaku.
Lelahku menjadi hilang ketika aku bertemu dengan pasienku, aku bahagia ketika
aku bercanda tawa bersama rekan medisku. Jujur saja aku merindukan itu semua.
Aku selalu berusaha untuk bisa berjalan kembali namun kemungkinanku untuk
bisa sangat kecil karena ku telah di ponis lumpuh seumur hidup.
Saat pertama kali aku belajar menggerakan tanganku rasa sulit amat sulit
aku rasakan. Aku menangis ketika aku tidak bisa melakukan apa yang diajarkan
Dokter Rifki kepadaku, aku sangat terpukul karena hal itu satu tahun aku terus
belajar sampai akhirnya aku bisa memegang sendok makanku, setiap proses yang
aku jalani semua orang tidak akan pernah percaya itu. Awalnya aku mengira aku
tidak akan lagi bermanfaat bagi semua orang, tapi Allah maha kuasa atas segalanya.
Aku berusha dan terus berdoa untuk kesembuhanku yang menurut medis aku tidak
akan bisa sembuh namun, ketika sang maha kuasa berkehendak apapun akan terjadi.
Aku tidak bisa berjalan namun aku bisa menggerakan tangaku untuk terus
berkarya dan memberikan sedikit motivasi kepada semua orang. Aku memang tidak
bisa melakukan aktivtasku seperti dulu namun setidaknya aku sedikit mengurangi
beban kakaku. Aku bisa mengambil minum sendiri dan aku bisa sedikit membantu
pekerjaan rumah walaupun dengan berbagai keterbatasku.
Tak jarang orang membicarakanku dan menyangkutkan dengan segala hal
sampai-sampai aku merasa tak nyaman mendengarnya. Mereka berkata kepadaku jika
aku adal orang sangta sombong sehingga aku menjadi seperti ini, dan mereka
bilang semua ini adalah hasil dari kesombonganku.
Meratapi perkataan orang memang membuat aku sangat sedih kala itu, namun
aku buktikan kepad mereka jika aku tidak seperti apa yang mereka kira. Setiap
kali aku bertemu mereka aku selalu tersenyum kepada mereka walaupun banyak yang
sepertinya tidak menyukaiku tapi semua itu aku abaikan. Orang berhak membenci
ataupun suka terhadapku tapi aku juga berhak bersikap bodo amat dengan sikap mereka
yang tidak menyukaiku.
Semua orang tidak akan tau apa yang kita rasakan dan bagaimana keadaaan
kita sebetulnya, semua orang hanya menghakimiku setiap harinya. Kalian tau, aku
pernah hancur sehancur-hancurnya. Aku kehilangan akal sehatku, karena aku lelah
dengan semua yang aku alami dan aku sangat ingin megakhiri semuanya dengan
segera. Aku tidak ingin merepotkan kakaku lagi, aku ingin dia bahagia bersama
dengan suaminya. Namuan saat itu dukungan dari kakaku dan Dokter Rifki membuat
aku sadar, perjalanan hidup semua orang itu berbeda-beda tiadak akan ada yang
sama. Mereka di uji sesuai dengan batas dan kemampuan mereka masing-masing, dan
tentunya Allah tidak akan menghadirkan suatu masalah tana solusi. Dia akan
datangkan solusi di esok hari atau di lain harinya. Tugas kita sebelum
pertolongan Allah itu datang atau kemudahan itu datang kita harus senantiasa
bersabar dan terus berusaha. Memang tidak mudah menerapkan rasa sabar pada diri
kita namun ketika semuanya di latih dan di biasakan dengan rasa sabar dan
syukur maka semua akan terasa ringan.
Setalah umurku menginjak 32 tahun Dokter Rifki menikahiku dengan alasan aku
adalah wanita terhebat yang ia kenal. Aku masih dengan keadaanku tidak bisa
berjalan dan tidak bisa berbicara, dan aku tidak bisa mempunyai anak. Namun
suamiku tidak mengambil pusing dari semua hal itu, kami berdua memutuskan
mengadopsi anak yang baru lahir di rumah sakit tempat suamiku bekerja karena
kebetulan orangtunya tidak kunjung menjemput buah hatinya. Ada rasa tak enak
hati kala itu, namun ia meyakinkanku dengan segala usahanya.
Aku sangat bersyukur ibu mertuaku menerima segala keterbatasanku, tidak
pernah ia membahas cacat fisikku dan tidak pernah ia menyalahkan suamiku akan
pilihannya untuk menikahiku. Walaupun keluargaku meninggalkanku disaat aku
butuh perhatian lebih dari mereka tapi Allah datangkan keluarga Mas Rifki untuk
memberiku kasih sayang.
So, buat kalian yang sedang ada masalah dalam kehidupan kalian, masalah
cinta, persahabatan atau konflik lainnya. Pliss jangan pernah menyerah dan
tetaplah berusaha! Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan
kita masing-masing. Tetaplah semangat dan jangan pernah berputus asa ok, berusaha
dan berdoa. Jangan lupa bersyukur supaya kita bisa menikmati hidup dengan
damai. Kehiduoan itu seperti roda yang akan terus berputar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar