Minggu, 21 Juni 2020

Kamera

Kamera




Pagi sekali terlihat seorang wanita yang sedang berjalan dengan terburu-buru, dengan jilbab yang terurai membuat ia terlihat sangat cantik. Semua orang hampir mengenalnya karena ia sangat baik dan ramah kepada semua orang.

“ Pagi mba Indah.”

Sapaan yang sering ia dapatkan ketika ia berangkat untuk bekerja, ya namanya Indah Pratama ia bekerja di studio foto di daerah Bandung. Ia bekerja kurang lebih 4 tahun disana, selaian photographer ia juga pandai membuat gambar ilustrasi.


Indah menjalani harinya selalu dengan penuh semangat, dia tidak ingin masa mudanya habis begitu saja. Ia manfaatkan semua yang ia bisa untuk menghasilkan uang agar kelak ia tidak lagi menyusahkan orangtunya. Usianya yang sudah tidak muda lagi membuat ia sangat khawatir. Bukan tidak mau untuk berusaha mendapatkan calon suami yang cocok untuknya, namun ia tidak ingin merasa pernikahan itu sebuah beban. Indah selalu berharap jika ia menikah di waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Dibalik ramahnya Indah ia tidak pernah terbuka kepada lawan jenis. Ia bekerja sesuai dengan tugasnya, walaupun kebanyakan rekannya adalah laki-laki namun ia sangat dingin kepada mereka. Indah hanya sesekali berbincang dengan mereka ketika ada masalah pekerjaan yang belum terselesaikan atau hanya berkonfirmasi masalah job mereka.

Tidak ada satupun yang dekat sekali dengan Indah, mereka hanya sebatas rekan kerja. Namuan ada satu  yang sangat menarik, semua orang yang ada di studio tau jika anak pemilik studio itu sangat menyukai Indah karena dia tipe laki-laki yang cuek dan dingin ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Tahun pertama Indah bekerja Lukman pernah mengutarakan perasaannya kepada Indah, namun Indah menolak nya. Semua orang tau jika Indah tidak ingin menikah secepat itu, tahun berikutnya Lukman mengutarakan lagi isi hatinya dan jawaban tetap sama.

Setiap bertemu mereka tidak pernah saling menyapa, bahkan saling melihatpun tidak. Wanita yang dingin dengan laki-laki yang dingin pula, membuat mata semua orang takut jika mereka benar-benar bertengkar di belakang mereka.

Walaupun Lukman tipe laki-laki dingin ia selalu memberikan beberapa perhatian kepada Indah, apa yang Indah butuhkan selalu ada. Indah tidak tahu jika yang menyapkan semuanya adalah Luman. Karena jika Indah tau itu perbuatan Lukman ia akan sangat marah, karena ia tidak ingin punya hutang balas budi.

Sampai pada suatu hari Indah melupakan USB nya di rumah Lukman tanpa senagaja, dan Indah sangat membutuhkan itu. Projeknya ada dalam USB itu semua, tadinya Indah tidak ingin menghubungi Lukman namun karena ia sangat membutuhkan USB nya ia terpaksa menghubungi Lukman.

“ Hallo.” Suara Indah terdengar sangat lantang..
“ Ha-hallo.” Sedikit terbata-bata.
“Bisa ketemu ngga? Aku mau ambil USB.” Dengan nada bicara sangat cetus.
“Iya ndah bisa, ketemu di taman dekat kantor aja ya.”
“Ok.”

Tutt ... tut ... tut

Sambungan  telponpun langsung terputus. Indah segera siap-siap untuk menemui Lukman di taman dekat kantor dimana ia bekerja.

Indah menunggu Lukman cukuplama dan akhirnya Lukman datang membawa USB milik Indah. Melihat Lukman yang sangat terburu-buru dengan nafas yag tidak beraturan membuat Indah tidak enak hati langsung memintanya untuk pergi. Awalnya mereka hanya saling memandang  tanpa ada percakapan sedikitpun lalu Indah memulainya. “Oh iya mau makan bareng ngga? Tenang Aku yang bayar. Ngga usah gengsi, lo cape kan pastinya.” Tidak ada penolakan dari Lukman sedikitpun, ia mengikuti kemana Indah akan membawanya. “Lo mau makan apa? Anggap aja ini buat bales budi ke lo, oke?” Lukman hanya mengangguk tanda ia setuju.

Lukman memesan nasi goreng dan teh manis hangat, dan Indah memesan Mie ayam bakso dan es teh. Indah melahap makanan yang ada di depannya dengan segera karena ia tidak ingin berlama-lama dengan Lukman. Tapi Lukman hanya memandangi Indah, ia hanya memainkan sendoknya diatas nasi goreng yang ia pesan dan tentunya itu semua membuat Indah tak nyaman.

Khmmm

“Bisa ngga sih itu mata turunin, jangan liat mulu ke sini ngapa.” Celetuk Indah kepada Lukman.
“Bi-bisa Ndah.” Tertunduk dengan rasa takut.

Lukman sangat takut kepada Indah, setiap kali Indah marah pasti tak segan membentaknya. Walaupun hanya membuat kesalahan sedikit Indah sangat sensitif tentang Lukman.

Ntah untuk keberapa kalinya Lukman menemui Indah untuk mengutarakan perasaannya.  

Pagi sekali Lukman mendatangi studio foto milik Ayahnya, dia berniat mmeberi kado kepada Indah di ulang tahunnya. Namun, Indah menolaknya dan segera meninggalkan Lukman. Perasaan malu, kesal, dan kecewa menyelimuti Lukman kala itu, seluruh karyawan yang ada di sana melihat kejadian itu. Lukaman berjalan keluar dengan wajah yang kurang bersemangat. Disisi lain ia ingin segera menikah namun wanita yang ia tunggu-tunggu dan sedang ia perjuangkan memperlakukan dia seperti itu setiap akan mengungkakan perasaannya.

Lukman bukan tipe laki-laki yang gampang putus asa dan menyerah, ia berusaha lagi dan lagi.

Tiga bulan setelah kejadian itu lukman kembali berkunjung ke studio milik ayahnya. Ia tidak melihat Indah disana, dan salah satu karyawan memberitahu jika Indah datang terlambat hari itu. Lukman menunggu Indah datang, dan saat Indah datang Lukman sangat senang bisa melihat senyum manis Indah kepda orang-orang di sekitarnya namun ketika di depan Lukman senyum itu hilang.

Tidak peduli seberapa keras Indah menolak tapi Lukman terus bersikeras untuk mendapatkan cintanya Indah.

Di tolak untuk kesekian kalinya ...

Indah tidak memberikan waktu kepada Lukman untuk berbicara sedikitpun dan ia segera meninggalkan studio karena ada sesuatu yang ia harus cari, namun Lukman menahan nya untuk pergi.
“Pliss Ndah, dengerin gua dulu.” Dengan nada yang sedikit takut.
“Apaan sih, udah ya. Aku udah bilang aku ngga suka sama kamu, terus ya aku itu bukan tipe cewe yang bercita-cita nikahin anak bos. Dan aku juga ngga mau nikah muda, aku masih pengen bebas.” Dengan nada biacar yang sangat terburu-buru.
“Iya Ndah, ok gua akui gua yang terlalu cinta sama lo. Gua kesini Cuma mau bilang maaf, gua janji ngga akan gangu lo lagi. Gua janji ngga akan nemuin lo lagi. Lo bisa bebas sekarang. Maafin gua ya Ndah terlalu memaksa lo buat semua ini.” Menundukan kepalanya dan pergi meningkalkan Indah.

Ada rasa tak enak hati dalam benak Indah, namun ia tidak perdulikan itu. Ia tidak pernah meminta Lukman untuk baik kepadanya, Indah tidak pernah meminta Lukman untuk suka terhadapnya. Jadi apa salah dia, dia tidak meminta semuanya namun Lukman yang memberikannya sendiri kepada Indah.

Ditengah lamunannya tiba-tiba Indah di kagetkan dengan suara barang jatuh, dan Indah segera melihatnya.

Saat masuk studio ternyata lampu untuk pemotretan terjatuh, ia melihat banyak sekali pecahan lampu disana. Lalu ada rekannya yang menghampiri “Aduh Ndah kenapa ko bisa jatuh sih? Lo gpp tapi kan?” dengan nada khawatir. “Ya ngga lah mas, orang ini jatoh sendiri. Bentar ya Indah beresin dulu nanti kita ganti lampunya.” Dengan nada yang sangat tenang. “Ndah lo tuh tega banget si sama Lukman dia nungu kamu di sini lama banget loh. Sakit hati gua liat nya.” Sambil sedikit tertawa. Indah hanya diam sembari membereskan pecahan lampu.

Sudah hampir satu bulan tidak pernah ada sms masuk dari Lukman atau bahkan hanya sekedar sapaan di pagi hari yang dari dulu selalu Indah abaikan. Indah berpikir mungkin saja Lukman sudah menemukan pilihannya yang mampu menerianya dan mau menikah dengannya dalam waktu dekat. Indah bukan tidak ingin menikah dia tidak ingin menikah terlalu muda ia sangat takut seperti kehidupan Ibunya yang ditinggal pergi oleh  Ayahnya untuk  menikah lagi.

Indah menjalankan semua aktivitas seperti biasanya, dan tentunya dalam pikiran Indah masih ada sosok Lukman yang selalu membayang setiap harinya. Dan itu membuat Indah merasa terganggu. Akhirnya Indah menghubungi Lukman, ia berbicara sedikit lama dengannya. Pada akhirnya Indah meminta Lukman untuk menemuinya di sebuah cafe dekat rumahnya.

Pertemuan di sebuah cafe dengan suasana yang cukup romantis namun tetap saja, Lukman tidak melihat senyum manis Indah. Lukman hanya melihat wajah orang yang kesal terhadapnya dan itu membuatnya cangung.

Suasana hening beberapa menit sampai akhirnya Lukman yang membuka pembicaraan.
“Ndah, lo mau ngomong apa?” dengan nada yang mulai santai.
“Lo tau kan gua ngga suka sama lo, plis janan ganggu gua.” Dengan emosi yang sudah membeludak.
“Gua ngga ganggu lo selama ini kenapa lo terus-terusan nyalahin gua?” dengan nda sedikit meninggi. Lalu Lukman tertunduk.
“Gua minta maaf, ngga tau kenapa gua kepikiran sama lo terus.” Dengan nada mulai rendah.
“Lo ngga salah Ndah, gua yang salah di sini. Gua ngerasa ini bukan lo. Lo kesel banget kaya nya sama gua.” Sedikit tersenyum namun ia tutupi.
“Iya maaf sama bahasa gua, abisnya gua kesel. Kenapa sih lo itu ada terus di pikiran gua. Jadi gua minta maaf ya Lukman, dan sekarang gua mau nerima cinta lo.”  Kepada Indah langung tertunduk dan sedikit tersenyum.
“Kamu serius Ndah?” dengan rasa senang yang tidak bisa di bendung dan tidak bisa di definisikan.
“Serius, jadi kapan kamu ke rumah minta ijin ke orang tua aku?”  ya tentunya dengan wajah yang masih seperti orang cuek namun ia sedikit tersenyum.
“kamu maunya kapan?” melihat wajah Indah yang memperlihatkan  sedikit senyum manisnya.
“Besok. Kamu mau?” sedikit menantang kepada Lukman.
“Ok, Ndah besok aku bawa kedua orangtua ku ke rumahmu.”  Dengan nada yang tegas tidak seperti biasanya.

Indah dan Lukam memang sejak awal sudah menaruh hati satu sama lain, berawal dari sebuah kamera yang Lukman hilangkan selepas pemotretan. Lukaman telah mengganti kamera milik Indah namun ia tetap tidak ingin menerimanya. Dari sejak itu mereka sama-sama ada rasa tapi gengsi untuk saling mengutarakan.

Mungkin sudah takdir perjalanan cinta mereka seperti itu dan memang mereka berjodoh jadi Allah pertemuakan kembali dalam keadaan kedua-duanya memang siap. Indah dan Lukman akhirnya menikah dan hidup bahagia.

“Guys semoga kalian bisa ambil hikmah dari cerita kali ini.”










2 komentar:

  1. Cinta datang di waktu yang tepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya makanya kita harus berusaha dan bersabar, karena semua akan indah pada waktunya.

      Hapus

LUKAKU

Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin terlahir ke dunia ini. menjadi anak pertama sekaligus kaka dari kedua adikku adalah hal y...