Kamera
Pagi sekali terlihat seorang wanita yang sedang berjalan dengan
terburu-buru, dengan jilbab yang terurai membuat ia terlihat sangat cantik.
Semua orang hampir mengenalnya karena ia sangat baik dan ramah kepada semua
orang.
“ Pagi mba Indah.”
Sapaan yang sering ia dapatkan ketika ia berangkat untuk bekerja, ya
namanya Indah Pratama ia bekerja di studio foto di daerah Bandung. Ia bekerja
kurang lebih 4 tahun disana, selaian photographer ia juga pandai membuat gambar
ilustrasi.
Indah menjalani harinya selalu dengan penuh semangat, dia tidak ingin masa
mudanya habis begitu saja. Ia manfaatkan semua yang ia bisa untuk menghasilkan
uang agar kelak ia tidak lagi menyusahkan orangtunya. Usianya yang sudah tidak
muda lagi membuat ia sangat khawatir. Bukan tidak mau untuk berusaha
mendapatkan calon suami yang cocok untuknya, namun ia tidak ingin merasa
pernikahan itu sebuah beban. Indah selalu berharap jika ia menikah di waktu
yang tepat dan orang yang tepat.
Dibalik ramahnya Indah ia tidak pernah terbuka kepada lawan jenis. Ia
bekerja sesuai dengan tugasnya, walaupun kebanyakan rekannya adalah laki-laki
namun ia sangat dingin kepada mereka. Indah hanya sesekali berbincang dengan
mereka ketika ada masalah pekerjaan yang belum terselesaikan atau hanya berkonfirmasi
masalah job mereka.
Tidak ada satupun yang dekat sekali dengan Indah, mereka hanya sebatas
rekan kerja. Namuan ada satu yang sangat
menarik, semua orang yang ada di studio tau jika anak pemilik studio itu sangat
menyukai Indah karena dia tipe laki-laki yang cuek dan dingin ia tidak bisa
mengungkapkan perasaannya dengan baik. Tahun pertama Indah bekerja Lukman
pernah mengutarakan perasaannya kepada Indah, namun Indah menolak nya. Semua
orang tau jika Indah tidak ingin menikah secepat itu, tahun berikutnya Lukman
mengutarakan lagi isi hatinya dan jawaban tetap sama.
Setiap bertemu mereka tidak pernah saling menyapa, bahkan saling melihatpun
tidak. Wanita yang dingin dengan laki-laki yang dingin pula, membuat mata semua
orang takut jika mereka benar-benar bertengkar di belakang mereka.
Walaupun Lukman tipe laki-laki dingin ia selalu memberikan beberapa
perhatian kepada Indah, apa yang Indah butuhkan selalu ada. Indah tidak tahu
jika yang menyapkan semuanya adalah Luman. Karena jika Indah tau itu perbuatan
Lukman ia akan sangat marah, karena ia tidak ingin punya hutang balas budi.
Sampai pada suatu hari Indah melupakan USB nya di rumah Lukman tanpa
senagaja, dan Indah sangat membutuhkan itu. Projeknya ada dalam USB itu semua,
tadinya Indah tidak ingin menghubungi Lukman namun karena ia sangat membutuhkan
USB nya ia terpaksa menghubungi Lukman.
“ Hallo.” Suara Indah terdengar sangat lantang..
“ Ha-hallo.” Sedikit terbata-bata.
“Bisa ketemu ngga? Aku mau ambil USB.” Dengan nada bicara sangat cetus.
“Iya ndah bisa, ketemu di taman dekat kantor aja ya.”
“Ok.”
Tutt ... tut ... tut
Sambungan telponpun langsung
terputus. Indah segera siap-siap untuk menemui Lukman di taman dekat kantor
dimana ia bekerja.
Indah menunggu Lukman cukuplama dan akhirnya Lukman datang membawa USB
milik Indah. Melihat Lukman yang sangat terburu-buru dengan nafas yag tidak
beraturan membuat Indah tidak enak hati langsung memintanya untuk pergi.
Awalnya mereka hanya saling memandang tanpa ada percakapan sedikitpun lalu Indah
memulainya. “Oh iya mau makan bareng ngga? Tenang Aku yang bayar. Ngga usah
gengsi, lo cape kan pastinya.” Tidak ada penolakan dari Lukman sedikitpun, ia
mengikuti kemana Indah akan membawanya. “Lo mau makan apa? Anggap aja ini buat
bales budi ke lo, oke?” Lukman hanya mengangguk tanda ia setuju.
Lukman memesan nasi goreng dan teh manis hangat, dan Indah memesan Mie ayam
bakso dan es teh. Indah melahap makanan yang ada di depannya dengan segera
karena ia tidak ingin berlama-lama dengan Lukman. Tapi Lukman hanya memandangi
Indah, ia hanya memainkan sendoknya diatas nasi goreng yang ia pesan dan
tentunya itu semua membuat Indah tak nyaman.
Khmmm
“Bisa ngga sih itu mata turunin, jangan liat mulu ke sini ngapa.” Celetuk
Indah kepada Lukman.
“Bi-bisa Ndah.” Tertunduk dengan rasa takut.
Lukman sangat takut kepada Indah, setiap kali Indah marah pasti tak segan
membentaknya. Walaupun hanya membuat kesalahan sedikit Indah sangat sensitif
tentang Lukman.
Ntah untuk keberapa kalinya Lukman menemui Indah untuk mengutarakan
perasaannya.
Pagi sekali Lukman mendatangi studio foto milik Ayahnya, dia berniat
mmeberi kado kepada Indah di ulang tahunnya. Namun, Indah menolaknya dan segera
meninggalkan Lukman. Perasaan malu, kesal, dan kecewa menyelimuti Lukman kala
itu, seluruh karyawan yang ada di sana melihat kejadian itu. Lukaman berjalan
keluar dengan wajah yang kurang bersemangat. Disisi lain ia ingin segera
menikah namun wanita yang ia tunggu-tunggu dan sedang ia perjuangkan
memperlakukan dia seperti itu setiap akan mengungkakan perasaannya.
Lukman bukan tipe laki-laki yang gampang putus asa dan menyerah, ia
berusaha lagi dan lagi.
Tiga bulan setelah kejadian itu lukman kembali berkunjung ke studio milik
ayahnya. Ia tidak melihat Indah disana, dan salah satu karyawan memberitahu
jika Indah datang terlambat hari itu. Lukman menunggu Indah datang, dan saat
Indah datang Lukman sangat senang bisa melihat senyum manis Indah kepda
orang-orang di sekitarnya namun ketika di depan Lukman senyum itu hilang.
Tidak peduli seberapa keras Indah menolak tapi Lukman terus bersikeras
untuk mendapatkan cintanya Indah.
Di tolak untuk kesekian kalinya ...
Indah tidak memberikan waktu kepada Lukman untuk berbicara sedikitpun dan
ia segera meninggalkan studio karena ada sesuatu yang ia harus cari, namun
Lukman menahan nya untuk pergi.
“Pliss Ndah, dengerin gua dulu.” Dengan nada yang sedikit takut.
“Apaan sih, udah ya. Aku udah bilang aku ngga suka sama kamu, terus ya aku
itu bukan tipe cewe yang bercita-cita nikahin anak bos. Dan aku juga ngga mau
nikah muda, aku masih pengen bebas.” Dengan nada biacar yang sangat
terburu-buru.
“Iya Ndah, ok gua akui gua yang terlalu cinta sama lo. Gua kesini Cuma mau
bilang maaf, gua janji ngga akan gangu lo lagi. Gua janji ngga akan nemuin lo
lagi. Lo bisa bebas sekarang. Maafin gua ya Ndah terlalu memaksa lo buat semua
ini.” Menundukan kepalanya dan pergi meningkalkan Indah.
Ada rasa tak enak hati dalam benak Indah, namun ia tidak perdulikan itu. Ia
tidak pernah meminta Lukman untuk baik kepadanya, Indah tidak pernah meminta Lukman
untuk suka terhadapnya. Jadi apa salah dia, dia tidak meminta semuanya namun
Lukman yang memberikannya sendiri kepada Indah.
Ditengah lamunannya tiba-tiba Indah di kagetkan dengan suara barang jatuh,
dan Indah segera melihatnya.
Saat masuk studio ternyata lampu untuk pemotretan terjatuh, ia melihat
banyak sekali pecahan lampu disana. Lalu ada rekannya yang menghampiri “Aduh
Ndah kenapa ko bisa jatuh sih? Lo gpp tapi kan?” dengan nada khawatir. “Ya ngga
lah mas, orang ini jatoh sendiri. Bentar ya Indah beresin dulu nanti kita ganti
lampunya.” Dengan nada yang sangat tenang. “Ndah lo tuh tega banget si sama
Lukman dia nungu kamu di sini lama banget loh. Sakit hati gua liat nya.” Sambil
sedikit tertawa. Indah hanya diam sembari membereskan pecahan lampu.
Sudah hampir satu bulan tidak pernah ada sms masuk dari Lukman atau bahkan
hanya sekedar sapaan di pagi hari yang dari dulu selalu Indah abaikan. Indah
berpikir mungkin saja Lukman sudah menemukan pilihannya yang mampu menerianya
dan mau menikah dengannya dalam waktu dekat. Indah bukan tidak ingin menikah
dia tidak ingin menikah terlalu muda ia sangat takut seperti kehidupan Ibunya
yang ditinggal pergi oleh Ayahnya
untuk menikah lagi.
Indah menjalankan semua aktivitas seperti biasanya, dan tentunya dalam
pikiran Indah masih ada sosok Lukman yang selalu membayang setiap harinya. Dan
itu membuat Indah merasa terganggu. Akhirnya Indah menghubungi Lukman, ia
berbicara sedikit lama dengannya. Pada akhirnya Indah meminta Lukman untuk
menemuinya di sebuah cafe dekat rumahnya.
Pertemuan di sebuah cafe dengan suasana yang cukup romantis namun tetap
saja, Lukman tidak melihat senyum manis Indah. Lukman hanya melihat wajah orang
yang kesal terhadapnya dan itu membuatnya cangung.
Suasana hening beberapa menit sampai akhirnya Lukman yang membuka
pembicaraan.
“Ndah, lo mau ngomong apa?” dengan nada yang mulai santai.
“Lo tau kan gua ngga suka sama lo, plis janan ganggu gua.” Dengan emosi
yang sudah membeludak.
“Gua ngga ganggu lo selama ini kenapa lo terus-terusan nyalahin gua?”
dengan nda sedikit meninggi. Lalu Lukman tertunduk.
“Gua minta maaf, ngga tau kenapa gua kepikiran sama lo terus.” Dengan nada
mulai rendah.
“Lo ngga salah Ndah, gua yang salah di sini. Gua ngerasa ini bukan lo. Lo
kesel banget kaya nya sama gua.” Sedikit tersenyum namun ia tutupi.
“Iya maaf sama bahasa gua, abisnya gua kesel. Kenapa sih lo itu ada terus
di pikiran gua. Jadi gua minta maaf ya Lukman, dan sekarang gua mau nerima
cinta lo.” Kepada Indah langung
tertunduk dan sedikit tersenyum.
“Kamu serius Ndah?” dengan rasa senang yang tidak bisa di bendung dan tidak
bisa di definisikan.
“Serius, jadi kapan kamu ke rumah minta ijin ke orang tua aku?” ya tentunya dengan wajah yang masih seperti
orang cuek namun ia sedikit tersenyum.
“kamu maunya kapan?” melihat wajah Indah yang memperlihatkan sedikit senyum manisnya.
“Besok. Kamu mau?” sedikit menantang kepada Lukman.
“Ok, Ndah besok aku bawa kedua orangtua ku ke rumahmu.” Dengan nada yang tegas tidak seperti
biasanya.
Indah dan Lukam memang sejak awal sudah menaruh hati satu sama lain,
berawal dari sebuah kamera yang Lukman hilangkan selepas pemotretan. Lukaman
telah mengganti kamera milik Indah namun ia tetap tidak ingin menerimanya. Dari
sejak itu mereka sama-sama ada rasa tapi gengsi untuk saling mengutarakan.
Mungkin sudah takdir perjalanan cinta mereka seperti itu dan memang mereka
berjodoh jadi Allah pertemuakan kembali dalam keadaan kedua-duanya memang siap.
Indah dan Lukman akhirnya menikah dan hidup bahagia.
“Guys semoga kalian bisa ambil
hikmah dari cerita kali ini.”
Cinta datang di waktu yang tepat
BalasHapusiya makanya kita harus berusaha dan bersabar, karena semua akan indah pada waktunya.
Hapus