Part Terakhir
Disini adalah akhir ceritanya, apakah berakhir bahagia? Atau sedih ?Selamat membaca endingnya ^_^
1 tahun berlalu Anisa kembali bisa melihat dan sekarang dia berusia 27 tahun.
Dia masih sajah selalu bertanya kepada kakanya kemana Faizal. Dan pada akhirnya
kakanya memberi tahukan keadaan Faizal saat ini.
“ nis, ikut ngga?”
“ mau kemana sih?”
“ ikut ngga? Mau ketemu Faizal kan?”
“ mau dong, asyik pulang ke indonesia langsung ketemu Faizal.”
“ tapi lo siap kan liat dia?”
“ lah emang kenapa ka?”
“ nis, lo mau masuk ngga?”
“ masuk lah ka, eh ka aku ajh yang masuk ya kaka ngga usah! Ok”
“ eh gua yang ajak ngapa gua yang ngga boleh,?”
“ hehehhe aku mau ngobrol banyak sama dia ka”
“ ok deh”
Sesampainya di ruangan Anisa di minta memakai pakaian khusus dan di sana
ada kedua orang tua Faizal, mereka langsung memeluk Anisa.
“ sayang, tante seneng kamu bisa liat lagi.”
“ iya tante makasih.”
“ tante sama om permisi ya, tante titip Faizal ya”
“ iya om, tante.”
“ Faizal! Kamu masih marah sama aku?”
“ nis, aku suka sama kamu.”
“ apaan aku ngga denger?”
“ gua suka sama lo. Maaf gua udah nyakitin hati lo. Nis gua boleh ngga foto
bareng sama lo di taman komplek?”
“ lah jauh amat di sini juga kan ada taman”
“ gua ngga suka.”
“ terus alat-alat yang nempel di badan kamu gimna?”
“ nanti gua copotin lah.”
“ ah ngga, aku ngga suka ambil resiko. Nanti kalo kamu kenapa-kenapa aku
yang di salahin.”
“ ya udah gua ijin ortu gua dah”
“ ok deh. I love you to Faizal.” Sembari meninggalkan ruangan. Sembari
senyum-senyum.
Saat di luar Anisa betanya kepada kakanya.
“ ka, Faizal sakit apa sih? Dia ko di pasang ke gituan?”
“ lah kamu gimna sih, bukannya nanya orangnya”
“ soalnya aku ngga inget mau nanya itu, dia bilang suka sam aku ka.”
“ udah seneng?”
“ belum sih, soalnya dia mau foto bareng di taman komplek perum kita dulu.”
“ kapan?”
“ ngga tahu nanti nunggu dia ijin ortu dulu.”
Sudah satu minggu tapi tidak kabar dari Faizal membuat Anisa takut kalo
sesuatu terjadi kepada Faizal, dan akhirnya kakanya kembali menghubungi
keluarga Faizal.
“ heh adik gua yang paling pinter”
“ iya ka, gimna ?”
“Besok dia mau ke sini sekalian mau ngelamar lo”
“ ka? Serius? Terus aku harus gimna? Kan kaka juga belum nikah masa aku
duluan. Emang kaka mau di langkahin ?” dengan nada meledek
“ gua serius Anisa! Buru lo bilang ibu sama ayah!”
“ ka? Demi apa? Besok mereka ke sini mau lamar aku!”
“ gua ngga berani ya boongin lo urusan kaya gini.”
“ ok ka aku bilang ke ibu dulu.”
“ ibuuu... ibuuuu..” sambil teriak kegirangan.
“ ada apa cantik?”
“ibu besok keluarga Faizal mau kesini lamar aku, aku harus siapin apa aya
?”
“ hah serius kamu? Abangmu?”
“ gpp lah bu, di langkasih adek sendiri ini.” Saut kakanya Anisa.
“ nah bu kita siapin apa?”
“ ok sekarang ibu mau telpon dekorasi sama make over buat make up nya ok
pokoknya kamu terima beres ya cantik! Sekarang kamu duduk di kamar sajah ok
nanti ibu yang siapin semuanya.”
“ ok bu, ibu memenag terbaik, kaka juga. Sayang kalian deh pokonya.”
Berbagai persiapanpun sudah hampir selesai dari dekorasi ruang tengah dan
semuanya sudah beres dan dokumentasi di serahkan kepada kaka Anisa sendiri
karena dia suka motret juga.
Tepat pukul 10:00 WIB acarapun di gelar dengan sangat meriah walaupun hanya
di hadiri tetangga dan saudara terdekat sajah tapi berlangsung sangat meriah.
Setelah usai lamaran, lansung menentukan hari pernikahan dan pernikahan digelar satu minggu setelah lamaran. Karena Anisa
belum tahu penyakit yang di derita Faizal jadi dia merasa sennag sajah walaupun
banyak di sekeliling Anisa menangis termasuk kaka kandungnya sendiripun
menangis. Anisa hanya berpikir mungkin karena sebentar lagi akan kehilangan
adik nya yang cerewet dan jutek banget jadi dia sedih. Acara lamaran selesai
penentuan hari pernikahanpun sudah selesai. Dan tiba lah janji Faizal yang
ingin berfoto di taman komplek tempat dimana pertama kali bertemu dengan Anisa.
Pertemuan pertama yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Selesai berfoto
Anisa meminta Faizal untuk menemani dia berkeliling tapi Faizal sudah tidak
sanggup lagi untuk berjalan dan akhirnya Anisa mendorong dia menggunakan kursi
roda, dan tak lupa mereka mengambil foto di pinggiran taman komplek itu.
“ nis, kamu bahagia ngga sama aku?”
“ bahagia dong, kamu tau ngga aku adalah salah satu orang yang beruntung.
Karena aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Ya walaupun sangat singkat
persiapannya, tapi aku bahagia.”
“ nis, kamu cantik banget hari ini.”
“ dih apaan sih kamu, godain mulu.”
“ nis, maafin aku ya. Karena selama bertahun-tahun aku benci sama kamu.”
“ iya gpp ko, aku udah tau semunya dari kakaku, kamu salah sangka kan sama
aku,? Lagian kenapa kamu ngga nanya aku dulu siapa gitu yang aku temuin kemarin
kan gampang. Yang udah mah udah lah aku juga udah maafin ko., oh ya pas di
bandung maaf ya aku banyak ngerepotin kamu. Dan aku juga seneng bisa di suapin
sama kamu. Pas aku mau ke Singapur aku tuh takut banget takut ngga bisa liat
lagi, tapi untungnya disana ada dokter yang nolongin aku dia dokter saraf mata
dia udah tua banget dan kamu tahu aku itu bahan percobaan mereka karena belum
pernah ada yang operasi saraf mata kaya aku ini. Dan untungnya berhasil kalo ngga
aku ga bakalan ketemu kamu, dan pas kembali ke indonesia aku diajak ketemu
kamu. Ngomong-ngomong kamu sakit apa sih?”
“ harus banget ya di jawab?”
“ dih ko kamu gitu sih?”
“ kamu pas dulu juga gituya kan?”
“dih kamu ngungkit mulu dah.”
“ Ngga aku becanda ko, maaf ya. Aku kena kanker darah dari aku sekolah SMA
ya sampe sekarang aku terus berjuang. Makanya aku jarang ikut pelajaran olahraga,
dan sering sebulan sekali buat chek-up.”
“ kanker darah?”
“iya, aku pindah ke jakarta karena papahku sedang membangun rumah di
jakarta jadi kami satu keluarga pindah, tapi tetap untuk chek-up aku ke bandung
ke rumah sakit papah.”
“ terus sekarang kamu gimana?”
“ aku udah baiakan ko tenang ajah, jangan khawatirkan aku terlalu
berlebihan ok Anisaku!”
“ iya iya, ya udah kita pulang ya. Nanti besok kamukan harus ke Bandung
lagi.”
“ iya.”
Hari yang di nantipun telah tiba. Pernihkahan antara Anisa dan Faizal di
gelar disuatu gedung mewah dan megah di Jakarta. Setiap alunan musik mengiri
kelangsungan acara dan napak kebahagian dari kedua keluarga dan kedua mempelai.
Wajah nan cantik dan mempesona, banyak sekali laki-laki yang iri terhadap
Faizal kerna telah mendapatkan hati seorang wanita yang amat cuek dan sungguh
sangat-sangat dingin terhadap laki-laki. Semua orang mengucapkan selamat kepada
keduanya.
“ ya ampun nis, gua ngga nyangka lo
nikah secepet ini terus sama temen berantem lo lagi, uhhh soosweet nya temen
sebangku gua.” Sembari memeluk Anisa.
“ apa sih ri, kamu tuh dari dulu sampe sekarang sama ajah. Maksih ya udah
dateng ke nikahan aku, buruan nyusul ya nanti jadi perawan tua loh. Jangan
awet-awet pacaran buru kepelaminan.”
“ iya nis, tenang gua udah rencana taun ini juga sama hary.”
“ iya iya semoga dipermudah ya sayangku.”
Acara penikahan berjalan sangat lancar tanpa ada hambatan sedikitpun akan
tetapi kondisi Fizal semakin memburuk. Selesai acara semua keluarga langsung
membawa Faizal ke rumah sakit di jakarta lalu besoknya langsung meluncur ke
Bandung. Sedih di campur bahagia mungkin itu yang saat ini dirasakan oleh Anisa
bagaimana tidak, dia melihat suami yang dia cintai terbaring di tempat tidur
dengan wajah yang begitu pucat. Selama perjalanan menuju Bandung Anisa tak
berhenti berbicara kepada Faizal dan terus memberikan dia semangat untuk tetap
bertahan menjalani semua. Tapi takdir tak bersabat dengan Anisa setelah sampai
di bandung Faizal mengalami koma selama 3 hari, semua orang membujuk Anisa
untuk tidak terlalu memikirkan Faizal yang sedang terbaring di temat tidur
karena senua orang sudah pasrah dengan keadaan tersebut, jika memang Faizal
harus meninggalkan mereka, mereka sudah siap dengan semuanya. Karena pada
Akhirnya perjuangan dia akan berakhir saat kontaknya di dunia sudah usai.
Setiap hari Anisa menemani Faizal di ruangannya dan dengan wajah yang cantik
tersenyum selalu kepada Faizal membuat semua orang lebih merasa sedih karena
tak sanggup melihat kejadian dengan kejadian yang telah Anisa dan Faizal lalui.
Dan, tepat di hari jumat Faizal meninggalkan semua orang yang dia cintai.
Setelah dia bertahun-tahun berjuang dengan kanker darah, akhirnya dia
mengakhiri penderitaannya. Semua orang menangis, semua orang merasa kehilangan,
sosok Faizal yang terkesan nakal di luar sana tapi dia memiliki hati yang baik
dan lembut, dia selalu menyempatkan waktunya untuk bercanda tawa dengan anak-anak
yatim di sebuah pondok kecil di daerah Bandung. Setiap hari dia berusaha
menjadi pribadi yang lebih baik agar kelak dia mendapatkan kesembuhan dari
sakitnya. Tapi, Allah lebih menyayangi Faizal Dia memanggil Faizal ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia
ingin dapatkan, dan apa yang dia panjatkan kepada sang penciptanya.
Sebelum dia meninggalkan semua orang yang dia sayangi, Faizal memberikan
sebuah pesan yang mungkin membuat hati seseorang itu bahagia dan sedih. Dia
bekata “ nis, aku berterima kasih kepadamu. Dan aku minta maaf atas semua
kesalahanku karena tidak memberimu sebuah kesempatan untuk berbicara. Aku
bahagia nis, aku sangat bahagia, aku bahagia mencintaimu sampai di penghujung
waktuku. Terimaksih kamu telah kuat menghadapiku, jangan sampai air matamu
menetes kembali.”
Anisa menangis sejadi-jadinya, dia tak pernah menyangka semuanya akan
berakhir begitu sajah. Dia berusaha kuat tapi saat itu dia tak bisa menahan
tangisnya. Hatinya sudah tak mampu dan tak kuasa menahan semuanya dengan
senyuman manis di bibirnya. Semua orang menangis di rumahan itu termasuk dokter
yang menangani Faizal dari awal sampai titik akhir perjuangannya melawan
kanker.
Setelah Anisa mengantarkan Faizal ke tempat peristirahatan terakhirnya,
Anisa kembali menangis dan berkata kepada ibunya.
“ ibu, apakah ini cinta yang sesungguhnya? Kenapa begitu sakit ibu?”
sembari dia meneteskan air mata.
“ sabar anakku, ini adalah yang terbaik untuk Faizal. Sudah sangat lama dia
berjuang bersama sel kanker yang ada pada tubuhnya. Bersabarlah sayangku,
ikhlaskan kepergiannya.”
Setelah kepergian Faizal, Anisa melanjutkan harinya seperti biasanya dan
setiap hari jumat dia selalu berkunjung ke makan Faizal. Anisa selalu tersenyum
setiap harinya seolah tak ada beban di kehidupannya. Dia berkarya dan terus
berkarya, tak hiraukan semua perkataan orang-orang tentangnya dia hanya fokus
dengan tujuannya. Dia tidak akan menikah lagi dengan siapapun, karena dia ingin
bertemu dengan Faizal di kehidupan selajutnya. Karena cinta di penghujung waktu
yang belum dia rasakan seutuhnya. Cinta yang tulus dan suci yang diberikan
Faizal kepada Anisa tak akan tega rasanya jika harus ternodai.
.
.
.
TAMAT.
Tidak pernah ada
sebuah perjuangan yang sia-sia semuanya akan menuaikan hasil, jika hasilnya
tidak sesuai dengan apa yang kita usahakan pastinya Allah telah tuliskan yang
lebih baik sebagai gantinya.
Tidak semua kisah cinta berakhir bahagia atau menyakitkan, tergantung kita
yang membangun dan menjalaninya. Semoga dari cerita ini para pembaca dapat mengambil hikmahnya.
Cerita ini hanya karangan semata, bukan menceritakan kisah nyata. Dan tidak
bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.
Terimakasih ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar