Part 3
Disini semua akan terjawab, buat kalian yang penasaran langsung baca ya!
Perkuliahanpun sudah di mulai dan di Bandunng dia
mendapatakan fasilitas yang sangat bagus, dan karena dia berasal dari keluarga
berada dan di tambah dia kuliah dengan beasiwa jadi kehidupannya sangat penuh
dengan kemewahan. Kekampus Anisa selalu membawa motor kesayangannya. Tapi hal
yang tak terduga terjadi, di saat dia mengendarai motor cantiknya tiba-tiba
Anisa seperti melihat Faizal dan membuat konsentrasinya terganggu dan akhirnya
Anisa menabrak mobil yang sedang terparkir di sebuah kedai. Dan dia tergeletak
di jalanan dengan kepala terbentur
trotoar dan orang-orang segera menolongnya dan membawa dia kerumah sakit
terdekat. Karena kecelakaan itu Anisa hampir kehilangan penglihatannya karena benturan dikepalanya begitu keras
mengakibatkan dia harus melakukan bebeapa cek yang harus dilakukan di rumah
sakit besar dan Anisa menolaknya karena takut. Pada akhirnya Anisa berbicara
kepada pihak rumah sakit agar dia diperbolehkan pulang dan dia berkata kepada
dokter yang membantu dia kalo nanti dia akan periksa saat pulang ke jakarta.
Setelah kecelakaan itu orang tua Anisa tak mengijinkan dia untuk membawa
sepeda motornya, dan karena dia seorang primadona kampus dia mendapatkan
tawaran-tawaran ada yang menawarkan mobil mewah untuk antar jemput dia tapi
Anisa tetap sama seperti dulu menolak dan terus menolak. Dia memilih bersama
teman kelasnya yang bernama Sri dia berasal dari sunda ketara banaget kan dari
namanya, sri ayu ningsih. Dia kos dekat dengan Anisa jadi pulang dan berangkat
mereka selalu bersama.
Sri dan Anisa menjadi sangat dekat dan mereka sering berjalan-jalan di
sekitar tempat Anisa terjatuh karena Anisa yakin jika penglihatannya tidak
salah. Berbulan-bulan Anisa selalu bekunjung kesana kadang hanya duduk-duduk
sembari makan dan kadang hanya sekedar lewat sajah. Tak ada kepastian juga tapi
yang semakin memburuk adalah penglihatan Anisa semakin hari Anisa sering merasa
ada yang menhalangi padangannya dan kadang pandangan di depannya kabur. Pada
akhirnya Sri mengajak Anisa untuk memeriksakan mata nya ke sebuah optik dan
memang betul matanya minus, dan Sri yang super bawel ngomel-ngomel.
“Tuh kan nis, apa kata sri juga kamu teh matanya minus. Jangan main hp mulu
makanya. Terus kalo lagi main laptop jangan deket-deket. Heuh geuregeut aku
jadinya.” Dengan logat sundanya.
“iya sri ok.”
Saat perjalanan pulang Anisa dan Sri kembali melewati jalanan tempat Anisa
terjatuh. Dan keberuntungan ada pada pihak mereka, Faizal persis ada di depan
mata mereka berdua. Dengan spontan Anisa memanggil namanya.
“Faizal!!” dengan sangat keras sehingga semua orang melihat dia. Tapi Anisa
tak pedulikan itu semua itu, dia bergegas menghampiri laki-laki yang sedang
duduk di depan kedai kopi itu.
“nis, aku di sini ajh ya”
Dan Anisa tak mejawab perkataan Sri dia hanya fokus kepada sosok laki-laki
yang ada di depan matanya.
Saat berada di depan Faizal, Anisa tak bisa berkata apa-apa dia hanya
terdiam dan melihat kepada Faizal sembari meneteskan airmata. Lebih dari 5
menit mereka hanya terdiam. Dan salah satu pengunjung menegur mereka berdua.
“ akang teteh, ada yang perlu saya bantu?”
“ngga ada kang, makasih.” Jawab Faizal pelan.
“nis, kamu kenapa?” dengan nada yang sangat lembut.
Anisa tak menjawab apa-apa, dia hanya memandangi laki-laki yang ada di
depannya dengan air mata yang berlinang.karena tak kunjung ada jawaban Faizal
mendekati Anisa dan Anisa jatuh kepelukan Faizal.
“nis, kamu kenapa? Nis ?” Faizal mengulang pertanyaanya sembari memanggil
nama Anisa. Tapi tak ada jawaban. Dan dari kejauahan suara wanita memanggil
Anisa.
“ Anisa!” Sri berlari dan menghampiri Faizal dan Anisa. Ia hanya melihat
temannya sudah tak sadarkan diri di pangkuan seorang laki-laki.
“ heh, akang itu teman saya diapain?” dengan nada kesal.
Dan Faizal baru sadar jika Anisa sudah tak sadarkan diri di pelukannya.
Dengan segera dia membawa Anisa ke rumahnya.
“ nama kamu siapa ?” tanya Faizal ke sri
“ saya sri temen kuliahnya Anisa kang, kang kita bawa ke rumah sakit ajh.”
“ saya punya dokter pribadi di rumah jadi jangan khawatir, kamu boleh
pulang!”
Karena sri terlau khawatir dengan temannya di bersikeras untuk ikut dengan
Faizal.
“ saya ikut pokoknya, takutnya nanti Anisa dibawa kemana-mana.”
“ ya sudah ayo!”
Sesampainya di rumah Faizal langsung membaringkan Anisa di tempat tidurnya,
selang beberapa menit dokter sudah di depan matanya dan langsung memeriksa
Anisa.
“ dokter gimna Anisa? Apa dia baik-baik sajah ?”
“ tenang nak Faizal, dia tak apa-apa hanya kecapean dan terlalu banyak
tekanan sajah.”
“ tapi kenapa dia pingsan pas melihat saya dan dia menangis tanpa mengucapkan
apa-apa?”
“ mmmm mungkinkah ini pacar kamu Faizal?”
“ apa sih dokter ini, saya serius.”
“ iya karena terkejut dan detak jantungnya berdetak sangat cepat sehingga
membuat dia tak sadarkan diri.”
“ ok dok makasih”
Berselang 15 menit kedua orang tua Faizal pun datang. Dan bertanya siapa
waniat yang sedang berbaring itu. Dan Faizal menjawab dia teman masa SMA mah
pas di jakarta.
“ sayang, mamah boleh bicara sebentar?”
“ iya mah.”
“ dia bukannya Anisa tetangga waktu kita di perumahan jakarta?”
“ iya mah, dia yang Faizal bilang so jual mahal. Dan yang membuat Faizal
pulang sekolah di keroyok banyak orang.” Dengan nada sangat kesal.
“ tapi kenapa kamu bawa dia ke rumah? Terus ko bisa dia pingsan gitu?”
“ mah, Faizal juga ngga tahu tiba-tiba dia manggil namaku, terus dateng
ngga ngomong apa-apa Cuma liatin aku doang mah, terus nangis. Harusnya aku dong
yang nangis kenapa harus kenal cewe kaya dia, di luar so jual mahal ternyata
dia punya pacar terus sama pacar nya pelukan mesra banget.” Dengan nada yang semakin
kesal.
“ iya iya sudah. Mamah buatin dia teh manis dulu. Eh ngomong-ngomong yang
di depan itu temannya Anisa?”
“ iya mah.”
Setelah sadar Anisa hanya tersenyum. Dan melihat wajah Faizal yang sangat
kesal sepertinya kepada Anisa. Lalu Anisa melihat sekeliling rasanya tempat ini
aneh dan belum pernah iya singgahi sebelumnya.
“ sri!. Aku dimana ya?”
Sebelum sri menjawab Faizal segera menjawab. “ ini kamar gue buru bangun,
ngga usah so sakit kaya gitu!”
“ eyy eyy ey anak mamah ganteng ko kasar gitu. Jangan kaya gitu dong
sayang” dengan nada lembut sekali
“ maaf ya tente jadi merepotkan.” Sembari berusaha bangun dari tempat
tidur.
“ kamu mau kemana nis? Udah ga apa-apa tiduran ajah dulu nanti di anterin
ke kosannya sama Faizal.”
“ lah mah, ko jadi aku sih?”
“ ya terus yang bawa dia ke rumah siapa?”
“ iya deh ok.”
Dan sri pun berpamitan pulang lebih dulu karena motornya dia parkir di
kedai kopi takutnya ada yang ambil jadi dia duluan pulang.
“ tante, saya teh mau pamit duluan soalnya motor saya di jalanan.”
“ oh gitu ya sudah hati-hati ya”
Tidak ada perbincangan sama sekali dan itu membuat orang tua Faizal
khawatir takut anaknya tak bisa kontrol dengan emosinya. Tapi tak lama
terdengar Anisa memulai berbicara.
“ Faizal! Aku minta maaf ya merepotkan.”
“ ya udah buruan bangun dah gua anter lo balik ke kandang!” dengan nada
yang sangat marah.
“ iya iya aku bangun.”
“ kita naik motor ya, jangan manja!”
“ iya, kalo kamu ngga mau anter juga aku bisa pulang sendiri.”
“ ya udah sukur deh kalo gitu. Sana pulang!”
“ Faizal, aku minta maaf jika aku ada salah”
Orang tua Faizal hanya terdiam dan melihat kejadian itu, dan Anisa
berpamitan untuk pulang.
Faizal berubah drastis saat pertama melihat Anisa dia begitu khawatir dan
setelah Anisa sadar dia berubah seolah-olah Anisa adalah orang yang membuat dia
kesal dan ingin marah-marah terhadapnya.
Karena seorang ibu tentunya lebih tau sifat anaknya, ibunya berkata sembari
berjalan “ hmmm masa iya kamu tega biarin cewe jalan sendiri udah sore banget
ini, nanti kalo di jalan kenapa-kenapa gimana ya? Udah muka cantik, badannya
aduhay kalo dia di jahilin cowo gimana ya.Kesempatan itu ngga dateng dua kali
loh”
Faizal pun mulai berpikir dan bergegas mengambil mobil milik ayahnya, dan
dia mengikuti Anisa dari belakang pelan-pelan, dia melihat Anisa wanita
primadona sekolah dia dulu berjalan sangat pelan sekali. Dan sesekali dia
melihat hpnya tapi mungkin tak ada jaringan, karena di tempat Faizal tinggal
sangat susah mencari jaringan. jadi dia berjalan agak sedikit di percepat di
penghujung jalan dia mendapatkan jaringan langsung menelpon sri tapi sayangnya
tak kunjung ada jawaban. Dan akhirnya Anisa duduk di sebuah kursi yang ada di
trotoar jalanan, karena kepalanya terasa pusing kembali sedangkan Faizal hanya
melihat dari kejauhan. Mungkin sudah takdirnya mereka untuk bertemu selang
beberapa menit hujan turun dengan derasnya. Karena Faizal sangat khawatir
kepada Anisa segera menghampirinya dan mengajak dia untuk naik mobilnya.
“ Anisa! Buruan naik!”
“ tadi katanya....”
“ buruan sebelum gua berubah pikiran nih!”
“iya iya.”
“ kosan lo dimana gue anterin!”
“iya dari sini lurus ajh deket kampus ko”
“ ya udah iya,”
Sepanjang jalan Faizal sedikit memperhatikan Anisa wanita yang dulu sangat
iya cintai dan berharap bisa dekat dengan nya, berbuat setega itu berbohong
demi seorang laki-laki yang tak tahu dia siapa. Akan tetapi dalam benaknya
masih ada rasa cinta itu, seketika dengan spontan Faizal memberikan jaket yang
ia kenakan untuk menghangatkan Anisa.
“ nih pake ajh gue masih banyak di rumah, udah ngga usah di balikin!”
“ iya.”
Saat sampai di kosan Anisa Faizal tak berkata apapun, dan Anisa hanya
berterimaksih kepadanya.
Dan saat menaiki tangga Anisa terjatuh dan membuatnya tak sadarkan diri,
dan dengan segera Faizal membawanya ke rumah sakit karena dia sangat khawatir
kepada Anisa.Saat sampainya di rumah sakit kabar burukpun menimpa seorang gadis
cantik kelahiran tahun 1988 itu, dia kehilangan penglihatannya.
“Keluarga pasien atas nama Anisa?”
“ saya dok.”
“ ada orang tua atau walinya?”
“ saya walinya orang tuanya di jakarta dok”
“ baiklah silahkan masuk ada yang ingin saya samapaikan”
“baik dok.,”
“ mohon maaf saya tidak bisa
menolong penglihatan teman anda, karena benturan yang keras pada kepalanya
sehingga merusak saraf matanya.”
“ tapi dia hanya jatuh dari tangga!”
“ mohon maaf tapi sebelumnya dia pernah mengalami kecelakaan tunggal dan
mengalami benturan yang sangat kuat, dan saya sudah memintanya untuk
memeriksakannya. Mungkin jika di tangani langsung oleh ahlinya kejadian ini tak
akan pernah terjadi.”
“ apa dia bisa melihat lagi?.”
“ tentu sajah, tapi itu perlu operasi yang sangat luar biasa karena jika
gagal akibatnya akan patal.”
“ baik dok, saya akan sampaikan kepada Anisa nanti. Terimakasih dok.”
Sembari menungu Anisa sadarkan diri Faizal menelpon kedua orang tuanya dan
kedua orang tua Anisa untuk segera datang ke rumah sakit itu. Faizal tak
mengira semuanya akan terjadi begitu sajah, yang awalnya dia sangat membenci
Anisa tiba-tiba berubah menjadi rasa iba. Hp Anisa pun berdering ternyata ada
telpon dari sri teman kuliahnya itu,Karena hp Anisa di pegang oleh Faizal
segera Faizal mengangkatnya.
“ halo?”
“ heh ko si akang yang angkat? Teman saya kemana?”
“ dia di rumah sakit.”
“ hah rumah sakit ko bisa? Ya udah atuh saya kesana sekarang rumah sakit nya
dimna kang?”
“ rumah sakit dekat kampusmu”
“ok kang saya jalan.”
Sri lebih awal samapai karena dia dekat dengan rumah sakit. Dan Faizal
banyak berbincang dengan Sri dan dari sana Faizal baru sadar jika Anisa juga
sangat mencitainya. Tak lama selang setengah jam Anisa sadar dan berteriak.
“ sri!. Kamu di sini sri? Ko lampunya di matiin? Sri kamu jangan becanda
aneh-aneh deh., kamu lagi isengkan sri?” sambil tertawa-tawa.
“ iya nis, aku di sini”
“ nah kan, kamu tuh jangan iseng kaya gitu sri kita udah mau semester akhir
nih kamu jangan kaya gitu.” Sambil tersenyum.
“ aku ngga be...”
Sebelum sri melanjutkan Faizal lebih dulu mencegahnya untuk memberi
tahunya.
“ biar aku sajah yang memberi tahukannya.”
“ nis,”
“ lah ko ada kamu? Terus ini ko kayanya aku di inpus ya ? emang aku kenapa
sih? Nyalain dulu dong lampunya aku ngga bisa liat nih.”
“ nis, aku minta maaf.”
“ ih apaa sih kamu, yang harusnya minta maaf itu aku bukan kamu.” Sembari
senyum-senyum.
“ nis, ( sembari memegang tangan Anisa ) aku minta maaf. Kamu kehilangan
penglihatan kamu nis.” sembari terisak.
“ lah ko kamu nangis, gpp kali aku juga udah puas ko liat muka kamu tadi
siang.” Sembari senyum dengan menyembunyikan kesedihannya.
“ nis, aku serius aku ngga bohong!” dengan nada sedikit gemetar.
“ ah kamu ini lebay banget. Udah gpp
aku bisa ko.”
Lalu sri pun memeluk Anisa dengan erat sembari menangis tersedu-sedu. Tak
lama kedua orang tua Faizal menemui Anisa dan mereka merasa sedih karena seorang
anak wanita yang cantik kehilangan penglihatannya.
Merekapun memeberikan semangat kepada Anisa dan menghibur Anisa. Dan segera
mereka memindahkan ke rumah sakit yang besar di Bandung dan si sana dia
mendapatka perawatan yang luar biasa atau VIP karena ayah Faizal adalah pemilik
rumah sakit itu. Keesokan harinya kedua orang tua Anisa dan kakaknya datang dan
saat itu Faizal sedang menyuapi Anisa sarapan. Seketika Faizal merasa kesal
kenapa dia harus bertemu dengan dia laki-laki yang bermesraan dengan wanita
yang dia cintai. Faizal segera bergegas meninggalkan ruangan, karena dia tahu
apa yang akan terjadi selanjutnya.
“ sayangku, anak ibu.” Sembari memeluk dan manangis
“ibu, aku ngga apa-apa.”
“ nak, kita ke singapur yu? Kita obati mata kamu ya.”
“ iya bu, iya. Ibu kaka aku mana ?”
“ apaan sih lo, ngapain sih lo pake jatoh mulu. Untung gue sayang sama lo
kalo ngga udah gue jitak juga nih pala lo” dengan nada sedikit becanda.
“ apa nih kakaku.” Sembari senyum dan tak nampak sedikitpun kesedihan yang
terlihat di mata dan raut wajah Anisa.
“ heh, nis kamu udah ketemu Faizal?”
“ apa nih kaka nih, malu tahu ada orang tuanya,”
“mas sih yang mana? Eh maaf om tante,” sembari bersalaman kepada kedua
orang tua Faizal.
“ terimakasih ya pak, bu sudah merawat anak saya, maaf merepotkan” kata ibu
Anisa kepada orang tua Faizal.
Mereka akhirnya berbincang antara kedua orang tua dan kaka Anisa memutuskan
berkeliling, melihat rumah sakit itu.karena dia tahu Faizal dia langsung
menyapa dengan nada bersahabat.
“ eh bro lo Faizal kan?”
“ iya, tahu dari mana lo?”
“ ya jelaslah gue tahu lo, karena lo tiap hari di ceritain mulu sama adik
gue,sampe bosen gue dengernya.”
“ hah? Adik?”
“ iya lah adik gue, emang lo kira gue pacarnya?”
“ jadi pas waktu Anisa buru-buru pulang itu karena lo yang jemput?”
“ ya jelas, adik gue itu kalo gue jemput pasti kegirangan, dan sumpah dia
manja banget, dia tuh tiap lo ngga ada suka nanya mulu sama gue, tapi ya gue
ngga bisa bantu apa-apa. Cuma pas dia ada no telpon nyokap atau bokap lo gitu
baru gue bantuin buat nelpon. Dia tuh sekolah disini karena lo pindah kesini.
Dia ngambil jurusan yang sama sekali dia ngga suka dan masuk universitas di
bandung asal pilih yang penting kata dia, dia bisa ketemu sama lo, keren banget
ya lo gue ajh ngga pernah ada tuh cewe sebegitunya sama gue.”
“ jadi Anisa beneran bukan pacar lo?”
“ ya elah lo masih ngga percaya ajah. Apa perlu gue tunjukin kk gue?”
Seketika Faizal ambruk dan meneteskan air matanya, karena dia telah
menyakiti hati wanita yang sangat tulus mencintainya dan dia sangat meneysal
telah berburuk sangka kepada Anisa betahun-tahun tanpa ada kejelasan. Hanya
karena melihat dia mesra dengan laki-laki lain membuat Faizal benci dan kesal
bertahun-tahun padahal yang dia lihat adalah kemesraan antara kaka dan adik
sajah. Bertahun tahun Anisa berjuang mencarinya dan bertahun tahun Anisa
menahan semuanya sendiri. Dan saat bertemu dengan Faizal dia masih sajah
memancarkan kebencian. Faizal menangis sejadi-jadinya menyesali apa yang telah
ia katanya kepada Anisa beberapa tahun lalu.
“ bro, lo kenapa ?”
“ bro apa gue masih sempet buat minta maaf sama adek lo?”
“ lah emang lo kenapa? Lo udah kawin?”
“ bukan! gua udah nyakitin dia pas waktu SMA, gua bilang ke dia jangan jadi
cewe munafik dan jangan so jual mahal dengan nada yang menurut gua itu kasar
banget sampe dia nangis dan ngga ikut pelajaran, dia juga udah bantuin gua pas
gua di keroyok abis-abisan sama cowo yang suka sama dia, tapi sumpah gua disitu
kasar banget sama dia, gua kira lo itu pacarnya.” Sembari terisak.
“ tapi dia ngga pernah tuh cerita kaya gitu. Lo tuh harusnya dari awal
kasih dia tahu kenapa lo kesel sama dia, kalo lo tiba-tiba kesel kaya gitu dan
ngga ngasih tahu letak kesalahannya lo sama ajh nimbun sendiri dan akhirnya
bukan lo yang sakit hati tapi adik gua bego. Coba dari awal lo bilang ke dia,
ngga bilang deh tanya dia yang kemarin dia temuin siapa bukan malah lo
tiba-tiba kesel benci sama adik gue, dia ngga salah apa-apa bro dia itu ngga
pernah jatuh cinta, lo pengen tahu kontak di hpnya itu Cuma ada keluarga temn
sebangkunya dia ngga punya no telpon cowo dan selama dia di bandung dia tetap
sama dia Cuma pengen lo yang ada di hatinya. Lo mau tahu semuanya di kamarnya
di kosannya dan di hpnya pun sekalian selalu ada nama lo! Lo ngga percaya? Sini
ikut gue.”
Mereka berdua bergegas memasuki ruangan Anisa.
“ nis, gua minjem hp lo dong!”
“ buat apa ka?”
“ sini pinjem bentar! Gua mau kasih liat ke cowo yang lo suka”
“ ih ngga ah ka malu aku, nanti dia marah gimna? Diakan lagi kesel sama
aku. Ngga usah ka biarin ajh.
“ lagian dia ngga ada di sini dia lagi keluar.”
“ kamu boong ya ka? Pasti dia ada di sini. Soalnya baunya ada di sini,.”
“ sini kaka pinjam hp kamu nanti kaka balikin.” Sembari merebut hp Anisa.
“ nih bro gua kasih liat ya. Kata sandi hp adik gue itu nama lo, liat
isinya!”
Setelah Faizal melihat isi hp Anisa tiba-tiba Faizal tergeletak dan tak
sadarkan diri kedua orang tua Faizal langsung bergegas menyiapkan ruangan
khusus untuknya karena mereka tahu karena anak semata wayangnya akan seperti
itu ketika dia merasa sedih atau tertekan. Kanker darah stadium akhir itu
adalah diagnosa saat terakhir kali chek-up. Semua orang merasa kebingungan
kecuali kaka Anisa yang sudah tahu sejak lama karena orang tua Faizal memberi
tahukan semuanya saat di telpon dan tidak memberi tahukan Anisa soal itu karena
dia akan sedih jika mendengar jika laki-laki yang ia cintai mengidap kanker
darah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar