Jumat, 24 April 2020

07 ramadhan pertama di perantauan

                                           Ramadhan Pertama Diperantauan

           



       
 Terdengar ibu-ibu sedang berbincang membicarkan apa yang akan mereka hidangkan dikala sahur dan berbuka nanti, namun Alya hanya diam sajah di kamar kos nya dia tak ingin keluar. Dia menjauhkan ponsel nya karena teman-temannya akan menelponinya apakah dia pulang atau tidak, dan tentu sajah ibunya Alya terus menelpon tapi tidak di jawab Alya karena dia takut membuat khawatir orang dirumah. Mungkin bagi para perantau yang sejak kecil atau sejak usia remaja jauh dari orang tua akan terkesan biasa, tapi bagi Alya yang dia tidak pernah sama sekali jauh dari orangtuanya sekarang dia harus bekerja dan hidup mandiri. Alya tidak sedikitpun menoleh ponselna selama dua hari tapi pada akhirnya dia melihat isi ponselnya. Banyak sekali panggilan yang tidak terjawab dan ada banyak kiriman pesan, Alya harus bekeja di hari pertama dia puasa mungkin sangat melelahkan nantinya jika dia tidak mendapatkan restu kedua orangtuanya. Alya menelpon ibunya di kampung dan tentu sajah ibunya sangat mengkhawatirkannya, walaupun Alya adalah anak paling berani diantara kedua kakanya tetap sajah naluri seorang ibu pastinya akan selalu khawatirkan anak gadisnya. 



Tidak ada yang akan mau jauh dari orangtua, tidak ada yang mau jauh dari seluruh keluarga, semua orang akan memilih dekat dengan keluarga. Tapi, jika terus seperti itu kita tidak akan tau bagaimana kehidupan diluar sana. Tidak semua orang akan mengambil sebuah kesempatan untuk merantau jauh dari keluarga karena mereka harus siap degan segala konsekuensi yang ada di depannya.

Alya termasuk wanita yang sangat senang dengan sebuah tantangan, dan itulah sebab kenapa dia beda diperantauan. Sejak lama Alya ingin merantau tapi ibunya tidak mmeberikan izin kala itu karena dia masih duduk di bangku SMP dan saat Alya masuk SMK dia sudah berniat akan pergi ke jakarta setelah lulus nanti dia ingin menemukan suasana baru yang belum dia temui. Awalnya keberangkan Alya sangat ditentang oleh ibunya tapi karena Ayah nya yakin bahwa anaknya pasti bisa dan akan berhasil maka dia lepaskan anak bungsunya itu, Alya ikut ke jakarta dengan kakanya yang pertama dan tinggal di rumah kakanya.

Sebelum alya melamar kerja kakanya menawarkan untuk melanjutkan kuliah, tapi sayangnya alya sudah tidak bersemangat untuk itu karena dia  ingin mengahasilkan uang agar dia tidak merepotkan kakaknya dan kedua orangtuanya. Sudah waktunya dia berbakti, bukan hanya mengandal uang dari orangtuanya. Tapi, kedua kakanya sangat tidak ingin jika Alya harus bekerja karena mereka masih mampu jika hrus menyekolahkannya lagi. Keputusan memang tergantung kepada Alya jika dia mau untuk kuliah maka kakak pertamanya yang akan membiayainya namun Alya tidak mau dan memolaknya.

Alya mulai mencari pekerjaan di jakarta, setelah dia mendapatkan pekerjaan dia tidak tingal dengan kakanya. Dia memilih untuk menyewa kamar kosa saja karena bagi Alya tinggal sendiri lebih nyaman dan lebih leluasa ketimbang dengan kakanya. Karena Alya baru melamar kerja dia tidak bisa pulang ke kampungnya karena dia harus bekerja dan tahun ini adalah tahun pertamanya ramadhan tanpa orangtua dan keluarga. Sudah sangat jelas Alya sangat sedih karena itu tahun pertamanya, makan sahur tidak ada yang membangunkan ataupun menyediaannya makan sahur. Saat berbuka tidak ada lagi takjil buatan ibunya, tidak ada tarawih bersama keluarga.

Adzan magrib sudah berkumandang dan Alya masih berdiam diri di kamarnya, mungkin karena tidak terlihat keluar oleh tetangga kosannya akhirnya ada salah satu ibu yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok..tok..tok..
“ ndo, kamu ada di dalam tidak ?”
“ iya bu, ada!”
“ ayok kita ke mesjid ndo!”
“ iya bu sebentar, nanti saya menyusul ya bu.”
“ ya sudah ibu dulun ya.”
“ iya bu.”

Alya akhirnya memutuskan untuk pergi tarawih sendiri, walaupun dengan rasa sedih yang masih menyelimuti hatinya tapi dia berusaha kuat, karena semua yang dia pilih saat ini adalh keputusannya jadi di harus menerima semuanya jangan samapai ada kelihan ataupun sebuah penyesalan atas apa yang telah ia pilih. Saat pulang alya bertemu dengan ibu kokom tetangga kamar kosnya.
“ ndo, kamu di kamar kos sendri?”
“ iya bu, awalnya saya berdua tapi karena teman saya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan jadi memutuskan untuk pulang kampung.”
“ oh gitu, besok makan sahur ke rumah ibu ajh, mau ngga ?”
“ iya bu,” sembari tersenyum
“ ngga usah malu ya ndo, lagian di rumah ibu Cuma ada suami dan anak ibu 1.”
“ iya bu terimakasih. Saya duluan ya bu, mau ke warung dulu.”
“ iya ndo.”
Setiap langkah kaki alya terasa berat karena rasanya baru kali ini ada orang yang begitu baik padanya, ada perasan sedih dan ada perasaan bahagia karena dia masih di kelilingi oleh orang-orang yang sangat baik kepada Alya.

Saat makan sahur alya hanya menikmati sepiring nasi dengan sarden yang dia beli ke warung pada saat pulang tarawih, dan tidak lupa segelas susu hangat sudah dia sediakan di mejanya. Sedih memang tapi hidup sendiri di perantauan itu mengajarkan kita banyak hal, kemandirian terutamanya. Selepas sahur ia menelpon orangtuanya di kampung dan mengabari mereka jika ia baik-baik sajah. Awalnya alya tidak akan mengabari kedua oragtuanya tapi apa salah mereka? Mereka tidak salah apa-apa semua yang alya jalani semua yang alya lakukan adalah pilihannya sendiri untuk belajar mandiri. Sedikit isak tangis alya saat berbincang dengan kedua orangtuanya. Tapi, kedua orangtuanya memberikan alya semangat dan dukungan. Mereka meyakinkan alya bahwa alya bisa menjalankan semuanya, tentu saja tidak akan ada yang mengerti perasaan kita seperti orangtua kita, rasa khawatirnya terhadap putri kesangan mereka atau putra kesayangan mereka. Mereka akan selalu mengerti dan tentunya mereka paham apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan.
Pagi sekali alya sudah bersiap menuju ke tempat kerjanya, mungkin pagi itu adalah awal pagi yang luar biasa karena untuk puasa pertamanya ia harus bekerja, tidak ada libur sebelum h-4 lebaran.
“ ndo, mau kemana pagi-pagi?”
“ eh ibu, iya ibu ini mau berangkat kerja.”
“ owalah, tadi pagi sahur kan ndo?”
“ sahur bu.,”
“ besok-besok ke rumah ibu aja ya!” sembari mengelus pundak alya.
“ iya ibu,”
“ ndak usah malu-malu.”
“ iya ibu, saya permisi ya bu.” Sembari mencium tangan ibu kokom.

Alya memang menganggap beliau seperti ibunya sendiri karena hanya dia tentanga yang begitu perhatian kepadanya. Dari sekian banyak tetangga alya hanya ibu kokom yang sellau mengetuk pintu alya ketika alya tidak terlihat keluar.

Sampai di tempat alya bekerja rasa-rasanya ingin alya pergi sejauh mungkin, dan kenapa di hari pertama puasa ia harus bekerja sedangkan tempat yang lain mengizinkan karyawannya untuk libur. Tapi alya kembali bersyukur karena rekan kerjanya yang sudah lama bekerja di tempat itu bercerita kepada alya bahwa dia selalu melewatkan awal puasa tanpa keluarganya karena dia harus bekerja dan terus bekerja sudah 5 tahun ia bekerja tidak pernah pulang ke rumahnya karena samapai sana dia tidak akan diakui sebagai anggota keluarga. Dia sendiri tidak tahu kenapa mereka seperti itu, dan dia menasehati alya untuk tetap bersyukur ada keluarga yang selalu menghangatkan dinginnya kesendirian diperantauan. Tidak seperti dirinya yang harus membuat hangat setiap harinya sediri.

Setelah alya mendengar cerita dari tika ia tersadar betapa berharganya sebuah keluarga. Kenapa ia tidak bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan saat ini, seharusnya dia tidak boleh menangis dan mengeluh dengan keadaannya sekarang, seharusnya dia mejalani hidup dengan rasa syukur dan memperbanyak bersabar bukan mengeluh setiap saat.
Alya bekerja setiap hari tapi setelah kejadian di hari pertama puasanya, alya menjadi lebih bahagia dan menjalani semuanya dengan penuh rasa ikhlas, setiap pagi ia selalu di bangunkan oleh ibu kokom dan ia selelau mengajaknya sahur bersama, terkadang sesekali mereka juga berbuka puasa bersama karena alya jarang pulang lebih awal. Alya sangat bersyukur mempunyai tetangga seperti ibu kokom yang selalu mengajaknya untuk sahur bersama karena ia merasa ada kehangatan sebuah keluarga.


Apa yang kalian ambil dari cerita ini?

Ya, sudah sangat jelas kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Untuk para perantau semoga diberikan kesabaran dan keikhlasan yang ektra. Saya tau kalian merindukan puasa pertama dengan keluarga buka puas apertama dengan keluarga. Tarawih pertama dengan keluarga, pasti itu sangat dirindukan sekali. Mungkin ada sebagian yang merantau karena sebuah keharusan ataupun sebuah pilihan tapi saya ingin memberitahukan kalian bahwa kalian iti hebat, kalian luar biasa bisa bertahan samapai titik ini. Tetap semangat semuanya. Jangan lupa bersyukur.  dan buat kalian yang masih bisa berkumpul dengan keluarga bersyukur lah 🤗🤗🤗🤗🤗
Terimakasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LUKAKU

Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin terlahir ke dunia ini. menjadi anak pertama sekaligus kaka dari kedua adikku adalah hal y...