Senin, 15 Juni 2020

Kenangan Dibawah Hujan (part 1)


Kenangan Dibawah Hujan




Selalu ada cerita di balik rintikan hujan, selalu ada kenangan disetiap tetesnya. Dan pastinya hujan adalah sebuah rahmat dari Tuhan yang Maha Esa. Ada banyak orang yang menyukai hujan ada juga yang tidak menyukainya. Beda hal nya dengan carisa dia selalu menyukai hujan, saat hujan turun ia selalu meluncur untuk bermain air hujan. Carisa tidak pernah merasa takut dengan air hujan yang tutrun dengan derasnya, justru ia sangat menyukai sembari berjalan atau berlari kesana kemari ia menikmati rahmat tuhan yang indah itu. Kedua orangtua carisa sangat khawatir anak satu-satunya itu jatuh sakit setelah bermain hujan-hujanan, mungkin karena kebiasaan itu carisa lakukan sejak ia kecil jadi tidak pernah carisa sakit setelah terkena air hujan, justru setelah carisa terkena air hujan dia akan terlihat seperti bunga yang baru di siram dipagi hari
.

Pernah ada yang membisikan sesuatu di telinga Carisa saat ia duduk di bangku kelas lima SD, bahwa dalam derasnya air hujan ada 1% air dan 99% kenangan. Tapi carisa tidak pernah ingat siapa yang membisikinya itu, dia selalu berharap akan bertemu dengan dia kembali. “1% air 99% kenangan” itulah salah satu alasan carisa menyukai hujan. Dia ingin berjumpa dengan seseorang yang telah membisikan kata ada kenangan di balik derasnya air hujan.

Dulu Carisa tinggal di daerah Bogor, karena Ayahnya mendapatkan tugas di daerah Semarang mereka memutuskan untuk pindah setelah Carisa lulus sekolah dasar.  Kebiasaan Carisa sejak kecil terus beranjut hingga ia tubuh menajdi gadis yang sangat cantik jelita. Ketika ia melihat hujan di dalam ruangan, dia akan selalu keluar untuk menikmati derasnya hujan. Terlihat seperti kekanak-kanakan namun Carisa tidak peduli itu asalkan ia bahagia menikmati hujan, dia akan membuang rasa malunya.

Carisa mejadi bahan perbincangan satu kampusnya karena tingkahnya yang begitu konyol, ya kalian sudah bisa menyimpulkan. Di kala yang lain selepas perkuliahan akan memilih berdiam diri menunggu hujan reda sedangkan Carisa berlari kesana kemari menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi rambutnya. Semua orang terheran melihat tingkahnya, tapi tidak dengan sahabatnya Lia dia melihat dari kejauhan dan menunggu Carisa mendatanginya untuk bilang “Lia, tolong antarkan buku ke rumah ya! aku duluan” ya Lia tidak pernah merasa keberatan karena mereka sudah bersama sejak lama dan kebetulan mereka adalah tetangga jadi ya sudah jelas mereka sangat dekat dan akrab.

Sesampainya di depan rumah Mamah Carisa sangat terkejut mendapati putri kesayangannya basah kuyup untuk kesekian ribu kalinya.

“Ya ampun anak mamah! Buruan masuk mandi nanti masuk angin!”
“Iya mah, is cerewetnya mamahku ini,”
“Bukan masalah cerewetnya, kamu dari kampus basah-basahan gitu?”
“ iya mah, ujannya enak banget abisanya.”
“ terus kamu naik apa ke rumah?”
“ mah boleh ngga nanti aja wawancaranya aku mau mandi dulu ok!” sembari tersenyum manis dan meninggalkan mamahnya yang masih dalam keadaan kesal.

Selang beberapa menit Lia datang ke rumah Carisa yang bersebelahan dengannya untuk menyerahkan buku carisa yang tadi ia titipkan,
“Makasih ya Lia. Untung carisa punya sahabat kaya kamu, kalo ngga ngga tau nih nasib buku-bukunya kaya gimna.”
“ iya tante sama-sama. Saya pamit dulu ya tante.”
“ iya Li, hati-hati ya.”

Saat menjelang malam carisa dan kedua orangtuanya selalu berkumpul di ruang keluarga, sembari menikmati cemilan dan jus buah, mereka menghabiskan waktu bersama di sana. Berkumpul di ruang keluarga sembari sedikit berbincang tetang kesibukan hari itu atau bahkan ada menceritakan apa saja yang di lakukan hari itu.

Sempat hening beberapa saat, karena ada yang akan di bicarakan saat itu dan sangat penting.

“Carisa?” tanya papah.
“Iya pah. Why?” dengan nada santai sembari menikmati cemilan di depannya.
“kamu ini udah 22 tahun loh, masa kamu mau main ujan-ujanan terus.” Sedikit memelan.
“Ya gpp lah pah. Lagian carisa seneng banget ko main ujan-ujanan.”
“ kamu ngga malu sama temen kampus kamu?” sedikit mempertegas.
“Ya ngga lah, kan aku melakukan apa yang aku suka dan aku ngga ngerugiin mereka juga kan pah?” sembari bersandar pada bahu sang mamah tercinta.
“Nah kan pah, apa kata mamah. Dia itu pasti kaya gitu, udah lah pah selagi dia bahagia kenapa kita harus ngelarang kan? Urusan video yang udah beredar itu ya kita anggap saja anak kita artis ya ngga sayang?” sembari mengelus lembut rambut Carisa.
“Iya mah, aku setuju sama mamah. Lahian yang rekam video ngga ada kerjaan banget ya mah.”
“Ya udah deh iya, gimana anak kesayangan mamah sama papah aja deh kalo gitu.”  Dengan nada mengaku kalah.
“Baik bos.” Ujar carisa sembari menganggkat tangannya memberi hormat dan senyum merekah di bibir nya.

Pagi sekali Carisa menuju rumah Lia untuk mengajaknya menikmati udara segar kota Semarang.

Lia mengajak carisa ke taman yang dekat kampusnya, mereka berbincang banyak disana. Dan Carisa menjelaskan sedikit mengenai seseorang yang sedang ia tunggu dan sangat ingin ia temui. Namun Lia tidak dapat membantu karena tidak ada orang yang  menyukai hujan kecuali sahabatnya itu, ya tentu Carisa seorang. Bisa dibilang sangat suka dan lebih dari suka.

Perkuliahan semester pendek pun dimulai, carisa mengambil banyak sekali jam mata kuliah karena ia ingin lulus secepatnya, dia ingin fokus mencari sosok laki-laki yang dulu membisikan kata “ 1% air hujan 99% kenangan.” Segala usaha Carisa sudah lakukan jadi tinggal menuggu ia lulus dan melanjutkan pencarian sang pecinta hujan.


Jam 5 pagi Carisa sudah terbangun dengan sangat genbira, ia mandi sangat lama karena ia yakin hari ini akan menjadi hari spesial baginya. Seperti biasa Carisa lebih menyukai ankutan umum di bandingkan sepeda motor miliknya atau bahkan mobil ayahnya sendiri. Ia berpamitan kepada mamahnya dengan sangat santai tidak seperti biasanya. Carisa menikmati sarapan yang di buat oleh mamahnya dan tentunya membawa bekal yang sangat banyak. Sampai-sampai mamahnya merasa heran apa yang terjadi dengan puteri kesayangannya itu. Tapi kedua orangtuanya hanya tersenyum melihat kelakukan putrinya hari itu.

Perjalan yang begitu panjang, berjalan kaki sejenak dan menikmati angin yang berhembus membuat Carisa ingin segera sampai di kampusnya. Saat Carisa menunggu angkot yang biasa ia naiki untuk ke kampus tiba-tiba ada ojek yang bilang kalo mobil angkutan sedang demo mempermasalahkan harga tarif angkutan mereka. Padahal Carisa sudah menungu agak lama disana, saat Carisa meliaht jam tanganya masih menunjukan pukul 8 pagi jadi masih ada waktu 1 jam untuk memasuki jam perkuliahnya.

Carisa terpaksa menaiki ojek yang ada di sana, karena jika tidak ia tak akan pernah sampai di kampus. Kecuali ketika hujan, Carisa akan sanggup berjalan kaki dari kampus menuju rumahnya. Kalo berangkat kuliah Carisa ingin selalu tampil cantik dan mempesona.

Saat sampai di kampus tercinta Carisa melihat sekeliling yang nampak begitu sepi, ia berjalan dengan sangat pelan dan santai. Dia berpikir mungkin orang-orang sedang kelelahan dan memilihin untuk datang terlambat. Carisa berjalan di koridor kampus dengan perasaan berbunga-bunga, ia menikmati setiap langkahnya seperti tidak ada beban sama sekali. Lalu ia terdiam sejenak di depan ruangan admisnistrasi. Wajah yang awalnya sangat santuy tiba-tiba berubah menjadi gelisah, dan langkah kaki yang tadinya ia nikmati berubah menjadi langkah yang seolah-olah jalan adalah milik ia seorang. Carisa terlamat satu jam. Karena ia terburu-buru dan sangat takit mendapatkan masalah dengan dosennya ia berlari sembari melihat handphonenya ia melihat R.5.3.8 tidak terlalu jauh menurutnya.

Begitu sampai ruangan itu carisa meminta maaf kepada dosen yang sedang mengajar disana. Namun sayangnya dosen itu tidak merespon dia hanya meminta Carisa untuk duduk Dengan mengatur nafasnya Carisa berjalan perlahan dan duduk paling depan.

Selepas duduk carisa mengirim pesan kepada Lia. “Li, kamu duduk sebelah mana? Aku udah nyampe kelas nih.” Dengan senyum merekah di bibirnya karena dosennya sangat baik dan ganteng pula. Lalu tidak ada balsan dari Lia, Carisa mengirimi Lia pesan lagi. “Cakep ya dosennya, hihihihi.” Lalu selang sepuluh menit Lia membalasnya “Ganteng? Mana ada dosen ganteng sa. Dosennya udah tua banget. Aku duduk di belakang sa. Kamu dimana?.” Carisa buru-buru membalas pesan Lia “Aku di depan banget karena ku telat. Jam tanganku ternyata mati, terus aku ngga sempet lah buat liat hpku. Kita di R.5.3.8 kan?.” “Sa, buruan deh keluar. Kamu salah ruangan harusnya R.5.8.3 kamu masuk kelas siapa?”.

Salah masuk ruangan ....

Guys bersambung ya ... selamat menanti besok. Jangan lupa tinggalkan komentar yang positf ya.


8 komentar:

  1. Hujan mengingatkan ku kepada seseorang waktu SMA
    Naik motor bersama pas hujan turun singgah di pos ronda terasa canggung awalnya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayanya mantan nya banyak nih 😁😁

      Hapus
    2. Gak kok masih bisa di hitung

      Hapus
    3. gpp koleksi ajh dulu nanti baru seleksi terus resepsi deh 😁😁

      Hapus
  2. Lebih tepatnya menilai karna untuk yg serius gak boleh main" hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul sekali. semangat menjembut jodoh ya 👍👍👍

      Hapus

LUKAKU

Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin terlahir ke dunia ini. menjadi anak pertama sekaligus kaka dari kedua adikku adalah hal y...