Kenangan
Dibawah Hujan
Selalu ada cerita di balik rintikan hujan, selalu ada kenangan disetiap
tetesnya. Dan pastinya hujan adalah sebuah rahmat dari Tuhan yang Maha Esa. Ada
banyak orang yang menyukai hujan ada juga yang tidak menyukainya. Beda hal nya
dengan carisa dia selalu menyukai hujan, saat hujan turun ia selalu meluncur
untuk bermain air hujan. Carisa tidak pernah merasa takut dengan air hujan yang
tutrun dengan derasnya, justru ia sangat menyukai sembari berjalan atau berlari
kesana kemari ia menikmati rahmat tuhan yang indah itu. Kedua orangtua carisa
sangat khawatir anak satu-satunya itu jatuh sakit setelah bermain
hujan-hujanan, mungkin karena kebiasaan itu carisa lakukan sejak ia kecil jadi
tidak pernah carisa sakit setelah terkena air hujan, justru setelah carisa
terkena air hujan dia akan terlihat seperti bunga yang baru di siram dipagi
hari
Pernah ada yang membisikan sesuatu di telinga Carisa saat ia duduk di
bangku kelas lima SD, bahwa dalam derasnya air hujan ada 1% air dan 99% kenangan.
Tapi carisa tidak pernah ingat siapa yang membisikinya itu, dia selalu berharap
akan bertemu dengan dia kembali. “1% air 99% kenangan” itulah salah satu alasan
carisa menyukai hujan. Dia ingin berjumpa dengan seseorang yang telah
membisikan kata ada kenangan di balik derasnya air hujan.
Dulu Carisa tinggal di daerah Bogor, karena Ayahnya mendapatkan tugas di
daerah Semarang mereka memutuskan untuk pindah setelah Carisa lulus sekolah
dasar. Kebiasaan Carisa sejak kecil
terus beranjut hingga ia tubuh menajdi gadis yang sangat cantik jelita. Ketika
ia melihat hujan di dalam ruangan, dia akan selalu keluar untuk menikmati
derasnya hujan. Terlihat seperti kekanak-kanakan namun Carisa tidak peduli itu
asalkan ia bahagia menikmati hujan, dia akan membuang rasa malunya.
Carisa mejadi bahan perbincangan satu kampusnya karena tingkahnya yang
begitu konyol, ya kalian sudah bisa menyimpulkan. Di kala yang lain selepas
perkuliahan akan memilih berdiam diri menunggu hujan reda sedangkan Carisa
berlari kesana kemari menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi
rambutnya. Semua orang terheran melihat tingkahnya, tapi tidak dengan
sahabatnya Lia dia melihat dari kejauhan dan menunggu Carisa mendatanginya
untuk bilang “Lia, tolong antarkan buku ke rumah ya! aku duluan” ya Lia tidak
pernah merasa keberatan karena mereka sudah bersama sejak lama dan kebetulan
mereka adalah tetangga jadi ya sudah jelas mereka sangat dekat dan akrab.
Sesampainya di depan rumah Mamah Carisa sangat terkejut mendapati putri
kesayangannya basah kuyup untuk kesekian ribu kalinya.
“Ya ampun anak mamah! Buruan masuk mandi nanti masuk angin!”
“Iya mah, is cerewetnya mamahku ini,”
“Bukan masalah cerewetnya, kamu dari kampus basah-basahan gitu?”
“ iya mah, ujannya enak banget abisanya.”
“ terus kamu naik apa ke rumah?”
“ mah boleh ngga nanti aja wawancaranya aku mau mandi dulu ok!” sembari
tersenyum manis dan meninggalkan mamahnya yang masih dalam keadaan kesal.
Selang beberapa menit Lia datang ke rumah Carisa yang bersebelahan
dengannya untuk menyerahkan buku carisa yang tadi ia titipkan,
“Makasih ya Lia. Untung carisa punya sahabat kaya kamu, kalo ngga ngga tau
nih nasib buku-bukunya kaya gimna.”
“ iya tante sama-sama. Saya pamit dulu ya tante.”
“ iya Li, hati-hati ya.”
Saat menjelang malam carisa dan kedua orangtuanya selalu berkumpul di ruang
keluarga, sembari menikmati cemilan dan jus buah, mereka menghabiskan waktu
bersama di sana. Berkumpul di ruang keluarga sembari sedikit berbincang tetang
kesibukan hari itu atau bahkan ada menceritakan apa saja yang di lakukan hari
itu.
Sempat hening beberapa saat, karena ada yang akan di bicarakan saat itu dan
sangat penting.
“Carisa?” tanya papah.
“Iya pah. Why?” dengan nada santai sembari menikmati cemilan di depannya.
“kamu ini udah 22 tahun loh, masa kamu mau main ujan-ujanan terus.” Sedikit
memelan.
“Ya gpp lah pah. Lagian carisa seneng banget ko main ujan-ujanan.”
“ kamu ngga malu sama temen kampus kamu?” sedikit mempertegas.
“Ya ngga lah, kan aku melakukan apa yang aku suka dan aku ngga ngerugiin
mereka juga kan pah?” sembari bersandar pada bahu sang mamah tercinta.
“Nah kan pah, apa kata mamah. Dia itu pasti kaya gitu, udah lah pah selagi
dia bahagia kenapa kita harus ngelarang kan? Urusan video yang udah beredar itu
ya kita anggap saja anak kita artis ya ngga sayang?” sembari mengelus lembut
rambut Carisa.
“Iya mah, aku setuju sama mamah. Lahian yang rekam video ngga ada kerjaan
banget ya mah.”
“Ya udah deh iya, gimana anak kesayangan mamah sama papah aja deh kalo
gitu.” Dengan nada mengaku kalah.
“Baik bos.” Ujar carisa sembari menganggkat tangannya memberi hormat dan
senyum merekah di bibir nya.
Pagi sekali Carisa menuju rumah Lia untuk mengajaknya menikmati udara segar
kota Semarang.
Lia mengajak carisa ke taman yang dekat kampusnya, mereka berbincang banyak
disana. Dan Carisa menjelaskan sedikit mengenai seseorang yang sedang ia tunggu
dan sangat ingin ia temui. Namun Lia tidak dapat membantu karena tidak ada
orang yang menyukai hujan kecuali
sahabatnya itu, ya tentu Carisa seorang. Bisa dibilang sangat suka dan lebih
dari suka.
Perkuliahan semester pendek pun dimulai, carisa mengambil banyak sekali jam
mata kuliah karena ia ingin lulus secepatnya, dia ingin fokus mencari sosok
laki-laki yang dulu membisikan kata “ 1% air hujan 99% kenangan.” Segala usaha
Carisa sudah lakukan jadi tinggal menuggu ia lulus dan melanjutkan pencarian
sang pecinta hujan.
Jam 5 pagi Carisa sudah terbangun dengan sangat genbira, ia mandi sangat
lama karena ia yakin hari ini akan menjadi hari spesial baginya. Seperti biasa
Carisa lebih menyukai ankutan umum di bandingkan sepeda motor miliknya atau
bahkan mobil ayahnya sendiri. Ia berpamitan kepada mamahnya dengan sangat
santai tidak seperti biasanya. Carisa menikmati sarapan yang di buat oleh
mamahnya dan tentunya membawa bekal yang sangat banyak. Sampai-sampai mamahnya
merasa heran apa yang terjadi dengan puteri kesayangannya itu. Tapi kedua
orangtuanya hanya tersenyum melihat kelakukan putrinya hari itu.
Perjalan yang begitu panjang, berjalan kaki sejenak dan menikmati angin
yang berhembus membuat Carisa ingin segera sampai di kampusnya. Saat Carisa
menunggu angkot yang biasa ia naiki untuk ke kampus tiba-tiba ada ojek yang
bilang kalo mobil angkutan sedang demo mempermasalahkan harga tarif angkutan
mereka. Padahal Carisa sudah menungu agak lama disana, saat Carisa meliaht jam
tanganya masih menunjukan pukul 8 pagi jadi masih ada waktu 1 jam untuk
memasuki jam perkuliahnya.
Carisa terpaksa menaiki ojek yang ada di sana, karena jika tidak ia tak
akan pernah sampai di kampus. Kecuali ketika hujan, Carisa akan sanggup
berjalan kaki dari kampus menuju rumahnya. Kalo berangkat kuliah Carisa ingin
selalu tampil cantik dan mempesona.
Saat sampai di kampus tercinta Carisa melihat sekeliling yang nampak begitu
sepi, ia berjalan dengan sangat pelan dan santai. Dia berpikir mungkin
orang-orang sedang kelelahan dan memilihin untuk datang terlambat. Carisa berjalan
di koridor kampus dengan perasaan berbunga-bunga, ia menikmati setiap
langkahnya seperti tidak ada beban sama sekali. Lalu ia terdiam sejenak di
depan ruangan admisnistrasi. Wajah yang awalnya sangat santuy tiba-tiba berubah
menjadi gelisah, dan langkah kaki yang tadinya ia nikmati berubah menjadi
langkah yang seolah-olah jalan adalah milik ia seorang. Carisa terlamat satu
jam. Karena ia terburu-buru dan sangat takit mendapatkan masalah dengan
dosennya ia berlari sembari melihat handphonenya ia melihat R.5.3.8 tidak
terlalu jauh menurutnya.
Begitu sampai ruangan itu carisa meminta maaf kepada dosen yang sedang
mengajar disana. Namun sayangnya dosen itu tidak merespon dia hanya meminta
Carisa untuk duduk Dengan mengatur nafasnya Carisa berjalan perlahan dan duduk
paling depan.
Selepas duduk carisa mengirim pesan kepada Lia. “Li, kamu duduk sebelah
mana? Aku udah nyampe kelas nih.” Dengan senyum merekah di bibirnya karena
dosennya sangat baik dan ganteng pula. Lalu tidak ada balsan dari Lia, Carisa
mengirimi Lia pesan lagi. “Cakep ya dosennya, hihihihi.” Lalu selang sepuluh
menit Lia membalasnya “Ganteng? Mana ada dosen ganteng sa. Dosennya udah tua
banget. Aku duduk di belakang sa. Kamu dimana?.” Carisa buru-buru membalas
pesan Lia “Aku di depan banget karena ku telat. Jam tanganku ternyata mati,
terus aku ngga sempet lah buat liat hpku. Kita di R.5.3.8 kan?.” “Sa, buruan
deh keluar. Kamu salah ruangan harusnya R.5.8.3 kamu masuk kelas siapa?”.
Salah masuk ruangan ....
Guys bersambung ya ... selamat menanti besok. Jangan lupa tinggalkan
komentar yang positf ya.

Hujan mengingatkan ku kepada seseorang waktu SMA
BalasHapusNaik motor bersama pas hujan turun singgah di pos ronda terasa canggung awalnya 😂
kayanya mantan nya banyak nih 😁😁
HapusGak kok masih bisa di hitung
Hapusgpp koleksi ajh dulu nanti baru seleksi terus resepsi deh 😁😁
HapusLebih tepatnya menilai karna untuk yg serius gak boleh main" hehehe
BalasHapusiya betul sekali. semangat menjembut jodoh ya 👍👍👍
HapusAsyiap semoga cepat ketemu
BalasHapusbedoa dan usaha ya mas. semangat
Hapus