Ali Alamsyah seorang pemuda tampan dan sangat populer disekolahnya SMAN 1
Cendrawasih. Kegiatan apapun di sekolah pasti ia ikuti dan semua guru tidak ada
yang tidak mengenal Ali Alamsyah disana. Dia begitu mempesona dimata para
wanita di sekolahnya tidak heran dia seperti dambaan semua wanita, wajahnya
yang tampan dan keaktifannya di sekolah membuat semuanya terlihat sempurna.
Ali sangat mudah bergaul dengan siapa saja, dia juga bisa dibilang sebagai
seorang laki-laki yang selalu berusaah untuk menggapai semua yang ia inginkan.
Tahun ajaran baru telah di mulai ...
Ali naik kelas tiga dan tentunya ia sangat senang karena sebentar lagi ia
akan menyelesaikan sekolahnya. Tahun ajaran baru suasana baru dan tentunya guru
baru. Ali duduk di meja tengan sebelah kanan baris ke dua, posisi yang pas
untuk konsentrasi ketika guru sedang menjelsakan. Ali tidak sendiri disana, di
sampingnya ada seorang gadis cantik dan imut namanya Dinda Larasati yang sering
akrab di panggil Dinda.
Disekolah itu tidak heran jika laki-laki dan perempuan bisa bersebelahan
karena tidak aturan yang melarang. Dinda dan Ali terbilang sangat akrab, mereka
saling memberikan jawaban ketika ada ujian atau bahkan hanya sekedar berbincang
masalah pribadi mereka. Namun Dinda tidak seperti wanita kebanyakan yang selalu
tampil dengan make up yang mecolok, Dinda selalu tampil sederhana namun dia
begitu cantik dan natural.
Banyak laki-laki yang iri kepada Ali yang bisa satu meja dengan Dinda,
walaupun Dinda adalah wanita yang super pendiam dan ia akan berbicara
seperlunya tapi banyak yang ingin bersebelahan
dengan nya karena ia sangat pintar dan sempurna dimata mereka.
***
Perkenalan dengan guru baru ...
Setiap tahunnya akan ada pergantian guru di sekolah itu, dan guru baru kali
ini sangat cantik dan mempesona namanya Ibu Erlina Natalia dia berparas cantik
tinggi dengan kulit hitam Manis dan dia mengajar bahasa Indonesia. Guru baru
itu membuat salah satu murid dikelas XII jatuh hati kepadanya. Sejak awal
pertemuan dengan guru baru itu Ali merasa jika rasa nya itu berbeda kepada guru
itu, rasa penasaran yang menyelimuti Ali membuatnya kehilangan rasa malu.
Ali bertanya kepada teman sebangkunya yang tidak lain adalah adik dari guru
baru itu. Banyak hal yang ia tanyakan kepada Dinda sampai-sampai ia lupa jika
orang yang dia suka adalah gurunya sendiri.
Perlahan Ali mulai memperlihatkan rasa sukanya terhadap Ibu Erlin,
begitupun sebaliknya.
Selang beberapa minggu Ali dikejutkan dengan suatu hal yang menurutnya itu
sangat menegangkan dan luar biasa seperti akan menguji nyalinya.
Siang hari saat ia berjalan melewati ruang kantor, seseorang memanggil
namanya dan memintanya masuk ke ruang guru. Ada rasa takut dan rasa senang yang
bercampur menjadi satu kala itu.
“Ali, kamu Ali kan teman sebangkunya Dinda?” ujar Bu Erlin.
“I- iya Bu.” Dengan suara terbata.
“Ayo masuk, ada yang mau ibu tanya ke kamu.”
Disana Ali ditanya banyak hal oleh guru bahasa indonesianya. Termasuk
persoalan kenapa ia menanyakan tentang dirinya kepada adiknya.
Ali tidak bisa berbohong, dia menjawab jujur semua pertanyaan dari Ibu
Erlin. Setelah itu Ali berpamitan ke kelasnya dan saat keluar ruangan ada pak
Agus guru olahraganya. Dan sudah sangat jelas ia mengetahuai apa yang telah
terjadi. Karena sebelumnya Ali pernah menceritakan tentang orang yang ia suka
saat itu.
Ali dan Pak Agus sangat dekat jadi bisa dibilang mereka seperti sahabat.
Bukan hal menyenangkan jika kabar murid yang suka terhadap gurunya itu
tidak cepat tersebar luas. Hampir semua anak kelasnya tau jika Ali sedang
dimabuk cinta, dan siapa lagi yang
selalu meledeknya kalo bukan Pak Agus.
Setiap pelajaran olahraga Ali selalu mendapat ledekan dari Pak Agus. Namun
ia abaikan namun kadang ia ladeni terus
supaya suasana semakin ramai.
Bukan Ali namanya jika ia tidak mendapakan nomor telpon guru yang ia suka
saat itu, Ali berusaha mendapakan no telponnya dengan meminta langsung kepada
sang guru.
Dengan usaha yang cukup menegangkan akhirnya Ali mendaptkan nomornya dan ya
setiap hari mereka betukar kabar.
Hunbungan mereka akhirnya pada titik dimana mereka memang saling
membutuhkan satu sama lain dan keduanya saling suka. Tapi, komunikasi antara
guru dan murid ada batasannya. Di sekolah Ali tidak bisa seakrab saat di luar
sekolah.
Mereka dekat tidak cukup lama karena semua yang ia rasakan adalah hal yang
penuh dengan kebohongan. Rasa bahagia yang selama ini menemani hati Ali ternyata semua itu hanya sementara dan itu
semua berawal dari sebuah kebohongan.
Sebelum Ali dan Bu Erlin akhirnya jauh, adik dari Bu Erlin berbicara
mengenai semuanya dan menjelaskan semuanya kepada Ali.
“Ali, mending kamu jauhin Bu Erlin deh.” Dengan nada sedikit takut dan
ragu.
“Lah, kenapa?”
“Soalnya bulan depan kaka aku tunangan sama Pak Irvan guru TIK kita.” Jelas
Dinda.
“Pak Irvan? Tentangga ku itu?” Dengan ekpesi yang sangat luar biasa
terkejutnya.
“Iya.” Sedikit menundukan kepalanya.
“Din, kamu ko ngga bilang dari awal sih?” Dengan nada sedikit emosi.
“Iya maaf, aku kira semuanya ngga akan kaya gini. Aku minta maaf seharusnya
aku jujur dari awal tentang kakaku.”
“Ya sudah tidak ada yang perlu di sesali, semua sudah terjadi.” Dengan
perasaan yang sedikit kecewa dan tentunya sangat sakit hati.
Setelah percakapan itu, Ali hanya bisa diam. Kenapa gurunya begitu tega
memberikan sebuah harapan yang pada akhirnya harapan itu sirna dalam sekejap.
Ali ingin dia tetap bersikap biasa saja seperti awal dia menganal guru baru
itu, namun karena hampir seluruh anak kelasnya mengetahui kedekatananya dengan
guru baru itu membuatnya sedikit risih.
Ia berusaha fokus pada tujuannya dan mempersiapakan diri untuk ujiannya.
Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikhlaskan semuanya, Ali baru
sadar jika selama ini dia telah merasa nyaman diatas kebohongan.
Merasa kecewa dan sakit hati tentu saja itu yang Ali rasakan ketika hari
dimana Dinda berkata jujur tentang rencana pertunangan Kakanya dengan tetangga
rumahnya sendiri.
Mungkin bagi Dinda berkata jujur sejak awal adalah hal yang sulit, dan dia
tidak mengira jika semua yang ia tutupi itu akan berakibat buruk pada teman
sebangkunya.
Dinda mengira jika kedekatan temannya itu tidak akan melibatkan hati dan
perasaan mereka masing-masing. Namun yang terjadi diluar perkiraan Dinda dan
berakhir dengan sebuah penyesalan.
Melihat kedekatan mereka yang semakin dekat dan acara pertunangan kakanya
yang akan segera dilaksanakan di bulan berikutnya membuat Dinda memberitahukan
semuanya, sebelum akhirnya Dinda benar-benar terlamabat.
Harapan Ali kepada Ibu Erlin bukan hanya sekedar harapan, umur dia memang
jauh lebih muda dibanding dengan Bu Erlin. Tapi cinta tidak pernah melihat
umur.
Cinta akan selalu ada dia dalam hati siapa saja, tidak ada yang bisa
menghalangi cinta itu untuk datang.
Ali menjalani kesehariannya seperti biasa, dan ia sangat berterimakasih
atas pengalamannnya dalam menjalin suatu hubungan.
Dia tidak ingin kejadian itu terulang, dimana dia harus berusaha
mendapatkan sesuatu dan setelah itu dia harus dengan ikhals melepaskan karena
memang itu adalah bagian dari sebuah kehidupan. Bahwa setiap yang kita
perjaungkan belum tentu bsia kita miliki, namun jika yang kita perjuangkan
menjadi milik kita makan itu adalah hadiah dari sebuah perjuangan.
“Mungkin ini bukan takdirku, dan aku harus lebih berhati-hati dengan sebuah
perasaan dan hatiku. Dia bukan yang terbaik untukku dan Allah mungkin telah menyiapkan
yang lebih baik untukku.” Gumam Ali dalam hatinya.
“Aku ikhlaskan semuanya, penyesalan dan kekecewaan itu biar dia pergi
dengan sendirinya.” Sambung Ali.
Selesai.
Guys, jadi apa pelajaran dari kisah ini?
Kita tidak bisa memaksakan cinta seseorang, dan kita juga tidak bisa
menahan rasa kecewa ataupun rasa sakit kita.
Biarkanlah semuanya mengalir sebagaimana mestika, semakin kamu tahan rasa
itu kamu akan semakin merasakan sakit.
Dan jujur itu lebih baik ya, mending jujur tapi nyelekit dari pada bohong
yang berkepanjangan dan nantinya menjadi penyesalan yang berkepanjangan.
Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca ceritaku hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar