Guru matematiku
Pemandangan pagi yang begitu indah, mentari bersinar dengan terangnya. Hembusan angin yang lembut membuat pepohonan yang rindang ikut bergerak seiring dengan arah mata angin itu terhembus. Pemandangan pagi yang sangat luar biasa dan membuat orang yang melihatnya akan merasa nyaman dan tak ingin beranjak dari sana, ya tentu karena daerah pegunungan yang masih begitu asri dan belum terjamah oleh banyak manusia. Dari kejauhan tampak sepasang suami istri sedang menikmati indahnya kuasa ilahi di pagi hari. Mereka berdua menikmati senyuman mentari dan angin sejuk pegunungan, tanpa sadar mereka menjadi bahan perbincangan orang-orang yang sedang bekerja di ladang.
“
teh. Pengantin baru ya ?” sapa seorang petani.
“
eh iya mang.” Sembari senyum-senyum.
“
pantesan pagi-pagi udah berjemur. Dateng kapan teh?”
“kemarin
mang,”
“suaminya
kasep pisan teh. Cocok lah pokona mah.”
“iya
mang, saya duluan ya, mari”
“mari
mang” sahut sang suami.
“iya
kang, awas hati-hati jalannya licin!”
“iya
mang.siap”
Mereka
berdua kembali ke rumah yang tidak jauh dari tempat mereka berjalan pagi.
“
dewi! Ambil pisau dong di dapur!” terdengar ibunya memanggil sangat keras.
“iya
ma, sebentar .” dewi bergegas karena dia
tahu ema nya akan marah jika dia tidak segera mendatangkan pisau kepadanya.
“ini
ma, emang buat apa sih?”
“buat
motong ayam lah wi, itu suami kamu suka naon?”
“ih
ema, ngga usah so indonesia ath.”
“kan
biar bisa atuh.”
“iya
juga sih ma.”
“nya
suami kamu seuneung naon?”
“naon
bae ge seunenung si aa mah,Tara pilih-pilih.”
“syukur
atuh. nya sok pang masakeun! Manya ema
nu kudu masak.”
“nya
ma, tenang wae ke terima beres,”
Setelah
dewi memasak dan menyiapkan makanan dewi langsung memanggil kedua orang tua dan
sang suami tercinta untuk makan bersama. Dewi memasak ayam goreng dengan
parutan kelapa goreng kering di atasnya, tidak lupa sambal lalapan serta kerupuk ada di atas meja makan mereka. Dewi
terheran melihat suaminya karen dia makan sangat lahap, seperti baru mencoba
masakan sang istri. Selesai makan dewi langsung membereskan meja makan dan
mencuci piring. Setelah pekerjaan rumah selesai, dewi menemani sang suami untuk
berkeliling kampung halamannya. Banyak sekali orang yang melihat mereka berdua
dengan pandangan kagum ada juga yang terlihat seperti tidak suka, ya tentu
tidak semua orang akan suka kepada kita pasti akan ada saja orang yang tidak
suka. Ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya bertanya kepada dewi ko bisa
mendapatkan suami orang kota, dewi hanya menjawab namanya juga jodoh bu.
Sembari tersenyum dan terus melanjutkan perjalanan mereka.
“
wi, kamu ngga nyesel kan nikah sama saya?”
“lah,
kenapa dewi harus nyesel a kan dewi
menikah sama orang yang dewi cinta.”
“
emang dewi cinta sama saya ?” sedikit meledek dewi.
“
kan dewi udah bilang a. Yang ada a kali yang malu nikah sama dewi.”
“
yahh marah dia, jangan marah sayangku.”
“
ya lagian aa nanya kaya gitu. Dewi malu a, dewi tuh dari kampung terus nikah
sama aa yang dari jakarta.”
“
hey, Udah ah malah cemberut gitu. Aa kan cinta sama neng.” Sembari merangkul
dewi yang sedang cemnerut.
Selama
berjalan-jalan mereka bercanda tawa dan sampai tidak terasa bahwa mereka berdua
telah berjalan sangat jauh dan unruk pulang mereka harus menempuh 1jam
perjalanan jika mereka berjalan kaki. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk
naik ojek, tentu ojekdi sana sangat mahal karena mereka sebagai pendatang pasti
para ojek akan menaikan tarif nya. Sesamapai di rumah dewi langsung kena marah
orang tuanya karena bermain terlalu jauh, tapi untung nya sang suami tercinta
selalu membelanya dan dewi selamat dari amarah kedua orangtuanya.
Mereka
menghabiskan waktu di kampung kurang lebih 1 minggu. Karena libur mereka cukup
panjang jadi mereka menikmati semuanya. Jika yang lain memilih bulan madu ke
luar negri atau ke luar kota mereka memilih kampung halaman yang masih asri. Lari
pagi dengan udara yang sangat segar, tidak akan menemukan susana seindah dan
sedamai ini di jakarta.
Setelah
mereka berdua menikmati libur mereka kembali ke jakarta. Mereka tinggal di
sebuah perumahan walaupun terlihat sederhana tapi mereka sangat bersyukur
karena mereka bisa tinggal berdua tidak menumpang dengan orangtua lagi.
Dewi
dan reza adalah pasangan pengantin baru yang sangat romantis. Coba kalian
pikirkan seorang guru menikahi murid nya. Mungkin sedikit aneh tapi itulah
perjalanan jodoh mereka berdua.
Dewi
adalah murid paling pintar di sekolahnya dulu, dia selalu mengikuti olimpiade-olimpiade
dan selalu menjadi juara pertama. Mungkin ini yang di namakan jodoh, dewi dan
reza bertemu saat dewi duduk di bangku kelas 1 SMA. Reza selalu membina dan
membimbing dewi untuk menjadi seorang bintang, saat itu reza masih magang belum
manjadi guru tetap tapi dia sangat pintar dan cerdas jadi dia menjadi
pembimbing dewi. Mereka berpisah karena dewi melanjutkan kuliah di semarang, selang
beberapa tahun mereka dipertemukan kembali dalam sebuah acara seminar yang di
adakan di jakarta. Kebetulan reza menjadi pengisi acara. Selesai acara dewi
menyapa reza.
“permisi
pak, masih ingat saya?”
“mmm
siapa ya?”
“saya
dewi anak bimbingan bapak,”
“
ya ampum wi, beda banget ya kamu sekarang. Makin cantik.”
“ih
si bapak bisa aja, bapak sekarang ngajar dimana?”
“saya
masih di sekolah yang sama. Cuma ya sesekali saya isi acara seminar gitu.”
“
masyaAllah, betah ya pak disana?”
“
iya karena saya sedang menunggu seseorang disana.”
“
wih cinta sejati ya pak? Cieeeee siapa pak, saya tau nih jangan-jangan orang
nya,”
“
nanti saya kasih tau kamu ya wi, kalo udah waktunya tepat. Saya permisi dluan
ya wi saya ada jam soalnya.”
“
eh iya pak. Makasih ya waktunya.”
Dewi
sudah sejak lama mengagumi ketampanan guru matematikanya itu tapi dia tidak
menunjukan kalo dia suka karena dia hanya ingin tuhan saja yang tau. Setiap
pertemuan dengan reza dewi selalu terlihat bahagia dan sangat bersemangat.
Sampai akhirnya mereka harus berpisah dewi sangat kecewa tapi dia selalu yakin
jika memang dia jodoh nya maka tuhan akan mempertemukan dia kapan saja. Selama
reza meliahat dewi di sekolahnya dulu reza selalu melihat dewi mengajak
temannya untuk melaksanak solat dhuha ataupu dhuhur, dan ya bisa dibilang dewi
orangnya sangat religius jadi mau tidak mau reza harus belajar merubah dirinya
menjadi pribadi yang lebih baik, awalnya reza melakukan semuanya karena dewi
tapi semakin lama dia merasa memang itu yang harus dilakukannya sejak dulu.
Reza melakukan banyak perubahan dalam hidupnya, dia terus memantaskan diri agar
bisa menjadi pendamping dewi. Raga mereka memang terpisah oleh sebuah jarak dan
waktu tapi mereka saling mendoakan satu sama lain supaya mereka dipertemukan
diwaktu yang tepat dan sama-sama sudah siap.
Doa
bisa mengalahkan sebuah takdir, pada tahun pertama setelah kelulusan dewi
mereka berdua dipertemukan kembali dalam sebuah acara amal di daerah solo.
Mereka saling menyapa dan pada hari itu juga reza meminta waktu dewi sebentar
saja, lalu dia menyampaikan apa yang dia inginkan saat itu, dewi sangat
terkejut awalnya tapi dia berusaha tenang karena dia berpikir mungkin ini
adalah rencana tuhan untuknya. Dewi tidak langsung memberikan jawaban iya dia
meminta waktu untukmenjawabnya. Tentu saja dewi langsung memberitahukan kedua
orangtuanya bahwa ada yang ingin melamarnya. Kedua orangtua dewi langsung meng
iya kan dan meminta reza datang ke rumahnya untuk melamar dewi. Perjuangan
mereka berdua tidaklah singkat tapi mereka yakin akan kekuatan doa yang mampu
mengalahkan takdir.
Mereka
menikah 3 bulan setelah lamaran karena ada banyak yang harus mereka
siapkan,karena mereka beda kota. Acara pernikahan mereka gelar di tempat dewi
dengan konsep sederhana namun cukup berkesan acara resepsi di gelar di jakarta.
Sangat
kuat ya mereka, saling memendam perasaan yang sama cukup lama namun mereka
berusaha dan doa mereka meminta kepada sang pencipta agarmereka dipersatukan
ketika mereka benar-benar sudah siap untuk membina rumah tangga. Dan Allah
mengabulkan setiap doa mereka, mereka menikah dan dikarunia anak yang begitu
lucu dan menggemaskan.
.
.
.
Selesai
Nah
apa yang kalian ambil dari kisah ini? Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah
ya.
Terimakasih

Jodoh itu bukan karena selalu bersama, tetapi karena berani melamar. Bagus sukak...
BalasHapusIya betul sekali ka ๐ terimakasih telah berkenan membaca goresanku๐
Hapus