Part 02
Mei kembali menjalankan semuanya seperti biasanya,
walaupun masih ada sedikit rasa khawatir tentang kekasih tercintanya. Tapi mei
berusaha untuk tidak terlalu memikirnya, dua mingu mei tidak berkabar dengan
adam. Saat kuliahpun mei tidak melihat adam sama sekali, sesekali bertanya
kepada temannya tapi mereka bilang adam masuk kuliah tapi kenapa dia tidak
menemu mei. Ada rasa kecewa dalam hati mei tapi ia tidak bisa menyimpulkan
begitu saja, mereka sudah pacaran sejak masuk kuliah tidak mungkin adam seperti
itu kepadanya. Saat pulang kuliah minggu ke 3 mei meutuskan menungu adam di
cafe biasa mereka makan atau hanya sekedar mengobrol saja. Saat mei akan duduk
di meja biasa mereka ada pelayan yang bilangbahwa meja itu sudah di pesan, dan itu pertama kali nya mei duduk di meja lain di cafe itu. Sudah sangat jelas mei sangat terluka saat itu, tidak lama mei duduk di sana karena ia merasa mood nya tidak baik. Jadi dia memutusksn untuk pulang.
“ mei, ko tumben udah pulang?”
“ iya.”
“ loh anak mamah kenapa? Ko kayanya lagi bete.”
“ ngga mah, lagi cape aja.”
“ ya udah istirahat, jangan lupa makan dulu ya sayang.”
“ iya mah.”
Karena mood mei yang sedang tidak karuan ia melewatkan makan malamnya, dia
hanya tertidur dan sesekali bangun hanya untuk melihat jam dinding. Mei
bertanya-tanya kenapa adam menghilang begitu saja. Tanpa ada kabar ataupun
sepatah kata untuk perpisahannya jika memang ia ingin berpisah dengan mei.
Dilain tempat adam sedang meratapi nasib nilainya yang masih ada nilai B,
ada rasa rindu dibenak adam. Namun dia tak ingin menghubungi mei lebih dulu,
karena ia takut mei akan kecewa dengan nilainya. Tapi malam itu mungkin mereka
sama-sama merindu jadi adam tidak bisa menahan rindunya dan ingin menelpon mei
namun sebelum itu adam menelpon kedua orangtuanya untuk memberikan saran atas
masalah yang sedang ia alami.
“ mah, adam bingung nih mah.”
“ lah kenapa sayang?”
“ nilai aku jelek.” Sembari menunduk.
“ loh loh. Ko tumben kamu kaya gitu, biasanya nilai jelek juga ngga sampe
sebete itu.” Ujar ayahnya.
“ soalnya pacar adam pinter yah.”
“ oh masalah cewenya nih. Siapa nih cewenya?”
“ yang penting kamu udah usaha sayang, ngga usah dipikirin sampe
segitunya.” Sambung mamahnya.
“ mah, soalnya orangtuanya ngga ngasih restu kalo nilai adam jelek.”
“ wah keren tuh berarti keluarganya berkuliatas tinggi dam.”
“ ah mamah ini, adam udah ngga hubungin pacar adam.”
“ loh kenapa?”
“ abisnya adam takut mah.”
“ kamu kan udah usaha nanti dia diambil orang loh.”
“ takut dia marah, terus mutusin aku mah.”
“ masa sih dia cewe kaya gitu, kamu emang udah nyoba bilang ke dia?”
“ belum si mah, terus malem ini adam rasanya kangen banget sama dia.”
“ aduh anak mamah udah gede ya sekarang.” Sembari senyum-senyum.
“ apa si mah, nanti adam kenalin deh.”
“ ya udah jangan lupa minta maaf ok sayang.”
“ iya mah. Udah dulu ya adam mau tidur.”
“ iya sayang.”
Tut.... tut..
Setelah menelpon kedua orangtuanya adam memutuskan untuk menemui kekasihnya
itu. Adam pagi-pagi sekali sudah bersiap karena ia akan menuju tempat kerja
mei, dan mei juga sudah bersiap untuk berangkat kerja. Mei tidak tau jika adam
akan menemui nya di tempat kerjanya. Jarak tempat kerja mei dari tempat adam
lumayan jauh jadi adam harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam karena
macetnya jalan. Sampai tempat kerja mei seperti biasa selalu ceria dan terlihat
bahagia, adam melihat dari kejauhan. Adam tidak ingin mengganggu jam kerja
kekasihnya itu jadi ia menunggu jam istirahatnya.
“ mba mei.”
“ iya saya! Loh ko? Ih adam kamu ini.”
“ apa sayang?”
“ ih apaan sih dam.” Semabari tersenyum dan sedikit menitikan air mata
bahagia.
“ wah mei, siapa tuh kenalin dong.” Saut rekan kerjanya.
“ bisa keluar sebentar mba mei.?”
“ apa sih kamu ini, mba el izin keluar bentar ya,”
“ iya mei santai aja lagian lagi istrahat ini.”
Mei dan adam pergi keluar untuk makan siang.
“ dam, kamu kemana aja? Aku tuh kangen tau.”
“ wihh kasian banget sih pacarku ini.”
“ aku serius dam.”
“ iya sayang maafin ya. Di maafin ngga ?”
“ ngga ah, males.”
“ nah kan, pasti kaya gitu. Ya udah aku pulang nih.”
“ ih ngga lah jangan!”
“ ya udah mau dengerin ngga?”
“ iya mau.”
“ mei nilai gua kemarin masih ada yang B, jadi gua malu ketemu lo.”
“ mana sini liat?”
“ nih!” menyerahkan hasil ujiannya.
“ ya ampun adam! Lo anak siapa sih, ini udah bagus tau.”
“ masa sih mei?”
“ emang kamu liat apanya sayang?”
“ nilainya.”
“ liat nilai akhirnya dong dam, itu 3,6 segitu udah bagus tau dam mau
deketin 3,9”
“ masa sih mei? Sini gua liat dulu.” Merebut kertas hasil ujian.
“ mei? Gua baru liat nilainya. Ngga buruk juga ternyata. Abisnya lo waktu
itu bilangnya jangan ada nilai B nya ya gua langsung fokus kesana lah.”
“ makasih sayang.”
“ ko makasih.?”
“ ya kamu udah usaha buat memperbaikin nilai kamu.”
“ ok deh semester ini aku mau ngambil kelas tambahan mei.”
“ tambahan gimana kamu kan kerja.”
“ kelas tambahan sama kamu lah mei.”
“ yeh kalo itu mah jangan di tanya, nanti aku bantu kamu sampe khs kamu terus
naik dan kita lulus bareng, dan nilai paling bagus. Tentunya dengan berushsa
dan terus belajar.”
“ ok sayang.”
Setiap pulang kuliah mereka selalu belajar ditempat yang sama, sampai
akhirnya mereka lulus dan adam memutusakan untuk melamar mei setelah hari
wisuda. Dan tentu mereka tidak dipersulit karena kedua orang tua mei sudah tau
seberapa berjuang adam untuk belajar dan saat wisada adam menjadi mahasiwa
terbaik dengan ipk 3,95 dan mei
mendapatkan ipk 3,93
“ dam, selamat ya!”
“ eh om, iya terimakasih.”
“ udah siap kan jadi suami mei?”
“ mmmm....”
Belum adam menjawab ayahnya menjawab lebih dulu.
“ ya jelas udah ya dam, masa iya udah pacaran 4 tahun ngga nikah-nikah.
Nanti dikira kredit motor kalo ngga nikah-nikah.”
“ apa sih yah.” Sembari senyum-senyum.
“ nah gimana pak adam? Apa anda senang dengan hasil nya?”
“ iya ibu mei makasih ya sudah membantu saya.”
“ sebetulnya bukan aku yang bantu kamu, tapi kamu sendiri yang mau
berubah.”
Merekapun berpelukan di hadapan kedua orangtuanya.
“ hei, kalian ini belum sah loh ko main peluk-peluk aja!”
“ eh ia mah, maaf maaf.”
Akhirnya mei dan adam menikah tepat di tanggal 3 bulan maret 2013, mungkin
mereka berdua memang sangat suka angka 3 jadi semuanya terlihat cantik,.
“ dam, kamu tau ngga?”
“ apa tuh?”
“ aku sayang sama kamu.”
“ iya tau kalo itu, kenapa?”
“ kamu tau ngga, aku bahagia bisa menikah sama kamu.”
“ iya aku juga bahagia.”
“ dam.”
“ apa mei?”
“ makasih.”
“ apa sih mei? Mei kalo nilai khs aku ngga naik-naik, terus ipk aku jelek pasti
bukan aku yang ada di pelaminan sama kamu. Mungkin bakalan orang lain yang ada
di sini, dan aku datang sebagai tamu.”
“ ko bisa?”
“ ya bisa lah mei, karena cinta kita terhalang nilai ipk.”
“ ih apaan sih dam, kamu tuh.” Sembari bermanja kepada adam ( plis yang
jomblo sabar ya )
“ kalo aku ngga berusaha, aku ngga bisa dapetin cewe pinter dan cantik kaya
kamu.”
“ apa sih, mujinya kelebihan dam. Nanti aku terbang gimana.”
“ ya jangan dong sayang nanti kalo terbang aku sama siapa.” Sembari
mencubit tipis hidung sang istri tercinta.
“ sayang, ko kamu mau sih berjuang?”
“ karena aku cinta kamu. Mei nilai khs itu bisa aku perbaiki bahkan aku
bisa bayar dosen biar nilaiku bagus.
Cuma pas dipikir-pikir masa iya kaya
gitu kayanya ngga ada perjuangannya aja gitu.”
“ tapi kamu ngga bayar dosen kan buat dapetin itu?”
“ ngga lah enak aja. Gua berusaha mei buat dapetin lo, jangankan nilai ipk
kalo orangtua lo bilang gaji gua kurang gede atau ngga gua harus punya rumah
dulu, gua usahain mei. Karena gua cinta banget sama lo.”
“ ngga manggil sayang?”
“ iya sayang maaf.” Memeluk mei.
Setelah menikah mereka langsung pindah ke rumah adam di medan, karena adam
sudah membuat rumah disana. Dan sedang merintis bisnis kecilnya di sana, semua
kerja lkeras adam selama ini sudah banyak membuahkan hasil namun tidak sampai
disana perjuangannya adam harus menafkahi istri tercintanya dan memenuhi
kebutuhannya.
.
.
.
Tamat
Nah, buat kalian semua jangan lupa terus berjuang ya! Jangan lupa bedoa
juga, supaya dipermudah jalannya.
ket :
- KHS => kartu hasil studi
- IPK => indeks prestasi kumulatif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar